Skip to main content

Tentang Dua Ego yang Terlalu Keras Kepala untuk Mengalah


Selasa datang tanpa kejutan, tanpa denting kecil yang biasanya membuat dadaku berisik sejak pagi. Hari itu berjalan seperti hari-hari yang seharusnya berjalan, tenang, datar, nyaris tidak meninggalkan jejak. Aku datang, duduk, bekerja, berpindah ruangan, berbicara seperlunya. Semua berlangsung normal, setidaknya di permukaan. Tidak ada getaran berlebihan, tidak ada jantung yang tiba-tiba berlari tanpa aba-aba. Rasanya seperti menonton ulang film yang dulu sempat membuatku deg-degan, tapi kini hanya terasa seperti gambar bergerak tanpa suara.

Beberapa kali dia mendekat. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat kesadaranku diam-diam siaga. Aneh, karena setiap kali jarak itu mulai menipis, justru aku yang mengambil satu langkah mundur. Bukan karena tidak ingin berada di dekatnya. aku tahu itu bukan alasannya, melainkan karena aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa jika jarak itu benar-benar hilang. Rasanya seperti berdiri di depan pintu yang selama ini hanya kulihat dari jauh; begitu kuncinya ada di tanganku, aku malah lupa bagaimana cara memutar gagangnya.

Aku berpura-pura sibuk. Menunduk lebih lama dari yang seharusnya. Mengalihkan pandangan ke layar, ke kertas, ke benda apa pun yang bisa kupakai sebagai alasan. Dan setiap kali berhasil menjauh, ada rasa lega yang aneh, bercampur dengan penyesalan yang bahkan lebih aneh lagi. Lega karena tidak perlu menghadapi kemungkinan. Menyesal karena mungkin saja aku baru saja melewatkan sesuatu yang tidak akan datang dua kali.

Meski begitu, aku masih memperhatikannya. Diam-diam, dari jarak yang menurutku aman. Getarannya memang tidak sekuat hari-hari sebelumnya, tidak lagi seperti lonjakan listrik yang tiba-tiba menyambar tanpa peringatan. Tapi bukan berarti hilang. Ia masih ada, seperti bara yang tertutup abu, tidak terlihat menyala, tapi cukup hangat untuk membuatku sadar bahwa ia belum benar-benar padam.

Di sela-sela waktu yang berjalan biasa saja itu, pikiranku mulai mencari alasan. Mungkin ini soal ego. Mungkin ini soal gengsi. Aku mulai menuduh perasaan sendiri seolah-olah ia adalah terdakwa yang harus memberikan penjelasan. Kenapa semuanya terasa menggantung? Kenapa tidak ada satu pun yang melangkah lebih jauh? Kenapa jarak ini tetap terjaga, seolah ada garis tak kasatmata yang diam-diam kami sepakati untuk tidak dilanggar?

Semakin kupikirkan, semakin terasa bahwa bukan hanya aku yang menjaga jarak. Ada sesuatu pada dirinya yang juga tampak menahan. Seolah kami berdiri di dua sisi yang berbeda, sama-sama menunggu siapa yang akan bergerak lebih dulu, tapi tidak satu pun cukup berani untuk benar-benar memulai. Dan di tengah kebisuan itu, ego dan gengsi tumbuh seperti tembok tipis yang makin hari makin tinggi.

Aku tidak tahu kapan mulai memikirkan hal ini. Mungkin sejak aku menyadari bahwa setiap langkah mundurku selalu diikuti oleh langkah mundurnya juga. Tidak pernah benar-benar menjauh, tapi juga tidak pernah benar-benar mendekat. Seperti dua orang yang berjalan beriringan, namun selalu menjaga jarak satu langkah, cukup dekat untuk saling menyadari, cukup jauh untuk tidak perlu mengakui apa pun.

Kadang aku bertanya-tanya, apakah ini memang cara kami melindungi diri. Atau justru cara kami menunda sesuatu yang sebenarnya sudah jelas arahnya. Mungkin kami sama-sama takut terlihat terlalu ingin. Takut terlihat terlalu berharap. Takut menjadi orang pertama yang menunjukkan bahwa perasaan ini nyata, bukan sekadar bayangan yang lewat.

Dan hari Selasa itu pun berakhir tanpa kesimpulan. Tanpa momen besar. Tanpa percakapan yang bisa dijadikan penanda. Hanya hari yang berjalan biasa saja, tapi meninggalkan satu pertanyaan kecil yang terus berputar di kepalaku, apakah ini tentang perasaan yang belum sempat tumbuh, atau tentang dua ego yang terlalu keras kepala untuk mengalah?

Comments

Popular posts from this blog

Pemilik Akun Asli @poconggg Terbongkar

Kemarin Twitter heboh banget dengan terbongkarnya pemilk akun @poconggg. Siapa sih yang gak kenal poconggg, dia adalah hantu yang tidak biasa, hantu yang seharusnya bertugas menghantui orang, menakut-nakutin orang, ternyata malah paling sering dipermainkan orang. Followernya mencapai ribuan, padahal tidak following siapa pun. Beberapa kali berhasil bikin TT di twitter karena ulanhnya, dan masih banyak lagi.  Malang bener nasib dia. Meski nasibnya sesial itu, sekarang ini dia malah lebih sial lagi karena akun Twitternya terbongkar. Iya, kemaren ada orang yang sakit hati ama @poconggg dan ngebongkar siapa dia sebenarnya. Dulu sih memang pengen tahu yang sebenarnya, siapakah pemilik akun @poconggg. Melihat tweetnya yang lucu-lucu dan menggemaskan, banyak yang ngira kalo pemiliknya adalah penulis buku, Raditya Dika. Tapi secara tegas dia ngebantah, kalo dia adalah pemilik akun @poconggg. Tapi semalem, nggak tau gimana mulainya, ada akun yang ngebongkar siapa @poconggg sebe...

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...