Aku harus mengakuinya, meski agak malu, aku ini tipe yang gampang berubah jadi detektif amatir kalau sudah penasaran pada seseorang. Berkali-kali meyakinkan diri bahwa aku tidak akan mencari tahu lagi tentang dia, tapi kenyataannya selalu berakhir sama, diam-diam membuka akun yang terhubung dengannya, menelusuri jejak kecil yang sebenarnya tidak pernah diminta untuk ditemukan.
Sabtu kemarin jadi bukti terbaru. Dari story orang lain, aku melihat potongan kehidupannya yang tidak pernah kulihat secara langsung. Dia tertawa lepas. Benar-benar lepas. Tidak ada canggung, tidak ada jeda, tidak ada gerakan hati-hati seperti yang sering kulihat ketika dia berada di dekatku. Tawa itu terasa ringan, mengalir begitu saja seperti air yang tidak pernah mengenal batu penghalang.
Dan entah kenapa, justru di situlah dadaku terasa jatuh pelan.
Bukan karena cemburu. Setidaknya aku ingin percaya bukan itu. Lebih seperti perasaan aneh yang sulit diberi nama, sejenis kesimpulan sepihak yang tiba-tiba muncul tanpa permisi, mungkin aku ini pembawa efek buruk bagi orang lain. Mungkin kehadiranku seperti hujan yang datang di waktu yang tidak tepat, membuat orang harus berteduh padahal mereka sedang ingin berlari bebas.
Padahal dulu, semuanya terasa biasa saja. Aku tidak pernah berniat memiliki perasaan apa pun. Tidak pernah merencanakan untuk menyukai dia. Bahkan kalau boleh jujur, perasaan ini muncul seperti kesalahan hitung yang baru disadari setelah semuanya terlanjur berjalan.
Awalnya hanya kebetulan kecil yang berulang. Setiap kali aku membuat video atau selfie, entah kenapa dia sering muncul di belakangku. Tidak mencolok, tidak sengaja, seperti bayangan yang kebetulan lewat di waktu yang sama. Dulu aku tidak pernah memikirkannya. Dunia terlalu ramai untuk mencurigai hal-hal kecil seperti itu.
Sampai suatu hari aku melihat ulang beberapa video lama. Dan di situlah rasa janggal itu muncul perlahan. Bukan satu atau dua kali. Terlalu sering untuk disebut kebetulan. Terlalu konsisten untuk dianggap tidak sengaja.
Ditambah lagi, berkali-kali pandangannnya mengisyaratkan sesuatu yang terlambat aku pahami.
Saat itu, untuk pertama kalinya aku mulai mencari tahu tentang dia.
Lucu sekali kalau diingat sekarang. Perasaan suka itu tidak datang seperti petir yang menyambar. Ia lebih mirip kabut yang turun pelan-pelan, tidak terasa saat datang, tapi tiba-tiba dunia sudah terlihat berbeda. Aku tidak pernah sadar kapan tepatnya garis itu terlewati. Tahu-tahu saja aku sudah berdiri di sisi yang lain.
Dan seperti cerita yang terlalu sering terjadi, justru ketika aku mulai merasa sesuatu, dia malah menjauh.
Tidak ada kejadian dramatis. Tidak ada peristiwa besar yang bisa dijadikan penjelasan. Hanya perubahan kecil yang terasa semakin jelas dari hari ke hari. Ia tidak lagi sering muncul tanpa sengaja. Tidak lagi terlihat mencoba berada di dekatku. Seperti seseorang yang tiba-tiba mengingat bahwa ia harus menjaga jarak.
Bagian yang paling membingungkan bukanlah perubahan itu sendiri, tapi ketiadaan alasan. Aku tidak tahu harus menyalahkan apa. Tidak ada kalimat yang diucapkan, tidak ada kejadian yang bisa dijadikan titik balik. Hanya jarak yang tumbuh diam-diam, seperti bayangan yang memanjang saat matahari mulai turun.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah semua ini hanya cerita yang kubangun sendiri? Apakah semua kebetulan yang dulu terasa istimewa sebenarnya hanya kebetulan biasa yang kuberi makna berlebihan?
Atau mungkin memang ada sesuatu yang berubah, hanya saja bukan pada dirinya, melainkan pada caraku memandang dunia.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!