Skip to main content

Ternyata Ada yang Terlewat


Aku sempat berpikir hari kemarin berlalu begitu saja.

Tidak ada kejadian besar. Tidak ada momen yang membuat dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya. Tidak ada peristiwa yang bisa kubawa pulang lalu kuputar berulang-ulang sebelum tidur seperti yang sering kulakukan selama ini.

Semuanya terasa biasa.

Terlalu biasa, malah.

Kami berada di ruang yang sama, seperti hari-hari sebelumnya. Ada beberapa kesempatan untuk saling menyadari keberadaan satu sama lain, tetapi tidak ada yang terasa cukup kuat untuk disebut istimewa. Aku bahkan pulang dengan perasaan datar. Perasaan yang jarang sekali muncul sejak aku mulai memperhatikannya.

Di perjalanan pulang, aku sempat berpikir mungkin ini pertanda baik.

Mungkin akhirnya aku mulai bisa mengendalikan diriku sendiri.

Mungkin jantungku sudah tidak terlalu mudah bereaksi setiap kali dia berada di dekatku.

Mungkin aku mulai terbiasa dengan kehadirannya.

Atau mungkin, pikirku saat itu, aku memang sedang kehilangan ketertarikan yang selama ini membuat semuanya terasa berlebihan.

Dan anehnya, pemikiran itu justru membuatku sedikit lega.

Karena lelah juga hidup dalam keadaan yang selalu naik turun hanya karena satu orang.

Tapi ternyata aku terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Pagi ini, ketika aku terbangun dan pikiranku masih berjalan lambat seperti biasanya, potongan-potongan kejadian kemarin mulai muncul kembali satu per satu.

Awalnya hanya fragmen kecil.

Lalu perlahan tersusun menjadi sesuatu yang lebih utuh.

Aku mulai mengingat di mana dia berdiri. Kapan dia muncul. Kapan dia menghilang. Bagaimana dia berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Hal-hal yang kemarin terasa acak dan tidak penting mendadak seperti memiliki pola.

Dan di situlah aku mulai kebingungan.

Karena semakin kuingat, semakin aku merasa apa yang kulihat kemarin tidak sesederhana yang kukira.

Aku jadi bertanya-tanya pada diriku sendiri.

Apakah dia memang semakin pandai menyembunyikan semuanya?

Ataukah aku yang mulai terlambat menangkap maksudnya?

Karena yang membuatku heran bukan tindakan-tindakannya, melainkan urutannya.

Seolah-olah ada sesuatu yang sudah diperhitungkan sebelumnya.

Bukan sesuatu yang besar. Tidak ada yang dramatis. Tidak ada adegan yang layak masuk film romantis. Hanya serangkaian gerakan kecil yang, ketika dipisah-pisahkan, tampak biasa saja.

Tapi ketika kususun kembali pagi ini, semuanya terasa berbeda.

Seolah dia sudah memprediksi ke mana aku akan bergerak berikutnya.

Apa yang akan kulakukan setelah itu.

Di mana aku akan berada beberapa menit kemudian.

Dan anehnya, dia selalu muncul di sekitar jalur yang sama.

Aku tidak tahu apakah ini hanya permainan pikiranku yang terlalu aktif atau memang ada sesuatu yang luput kusadari kemarin.

Karena selama ini aku selalu menganggap diriku yang terlalu banyak berpikir.

Terlalu sering menghubungkan titik-titik yang mungkin sebenarnya tidak berhubungan.

Tapi pagi ini, untuk pertama kalinya, aku merasa sedikit tertinggal.

Seolah selama ini aku sibuk membaca tindakan-tindakannya satu per satu, sementara dia justru sedang memainkan permainan yang lebih besar dan lebih halus.

Mungkin aku salah.

Mungkin semua ini hanya kebetulan yang berhasil kususun menjadi sebuah cerita karena otakku memang gemar mencari pola.

Tapi tetap saja, ada sesuatu yang mengganggu.

Karena perasaan itu tidak hilang meski sudah kucoba abaikan.

Aku jadi tertawa sendiri mengingat bagaimana semalam aku mengeluh tidak mendapatkan momen apa pun.

Betapa yakinnya aku bahwa hari itu hambar.

Bahwa tidak ada kenangan yang layak disimpan.

Padahal ternyata aku hanya belum menyadarinya.

Baru pagi ini semuanya terasa muncul dari balik kabut.

Dan seperti biasanya, ketidakjelasan itu justru membuatku semakin penasaran.

Karena semakin kupikirkan, semakin aku tidak tahu mana yang benar-benar terjadi dan mana yang hanya lahir dari keinginanku untuk menemukan makna di balik hal-hal biasa.

Mungkin memang tidak ada apa-apa.

Mungkin juga ada sesuatu yang terlalu halus untuk langsung kusadari.

Yang jelas, pagi ini aku terbangun dengan kesimpulan yang berbeda dari semalam.

Ternyata hari kemarin tidak sesederhana yang kukira.

Comments

Popular posts from this blog

One Direction – Live While We're Young (Arti Lagu)

One Direction atau 1D sekarang lagi booming-boomingnya. Sepertinya saya gak salah jika mau sedikit menerjemahkan salah satu lagunya. Meski lagu-lagunya banyak yang digilai banyak orang, tapi sampai sekarang saya tetap tidak mengidolakannya, apalagi mengoleksi lagu-lagunya. Saya menulis tulisan ini alasannya cuma satu, biar yang berkunjung di blogku bertambah. simple, kan? Kali ini saya memilh lagunya 1D yang judulnya  Live While We're Young. Banyak yang beranggapan, lagu ini tentang sex. Ajakan untuk berbuat sex lebih tepatnya. Anggapan mereka tidaklah salah, karena liriknya jelas banget mengarahnya kesana. Kalo ada yang ngeyel dan membela diri bahwa lagu ini bukan lagu tentang ajakan sex, tanya deh pada orang tua kita,  Get some means have sex. Simple as that. Sedikit tambahan, One Direction adalah grup penyanyi pria asal Inggris-Irlandia yang terbentuk di London pada tahun 2010. Grup ini beranggotakan Niall Horan, Zayn Malik, Liam Payne, Harry Style...

Curhat

"Sungguh terlalu, kamu berhasil membuatku tergila-gila padamu. Tak ada satu menit pun berlalu tanpa aku memikirkanmu. Beib, I love you." "Love u too... Aku kuliah jam setengah 6 lagi, beib." "Alhamdulillah hsil labnya negatif. " "Morning, beib. Rajin banget kuliah jadwal jam segitu. Btw, tes apa?" "Hehe ternyata salah lihat jadwal, besok yang kuliah jam segitu. Ntar kuliah jam setengah 11 cuman tes SGOT/SGPT." "Tes apa itu?" "Gak tau juga. Itu pokoknya kalau melebihi normal berarti kenak tipes, hepatitis dkk." "Aku cuma pernah tes darah aja, waktu banyak orang yang kena DB." "Hmmm.....semalem tidur jam berapa?" "Umm... masih sore kok, beib. Kamu ketiduran, aku juga. Bangun jam 11 malem, nonton tv. tapi gak tahu tidur lagi jam berapa." "Eeemmm... " "Mau cerita apa, beib?" "Kemaren penuh emosi tok. Kemaren kan aku muntah-muntah, makan ju...

My Regrets

Hmmm... malam ini seperti malam sebelumnya, aku teringat akan kebersamaanku bersamanya. Ingat hari dimana pertama kali dia nyatakan cinta, ingat saat pertama kali kita setuju untuk menjalani hubungan bersama, menemani langkahku, mendampingi hidupku, mengisi hatiku. Masih sama seperti malam-malam sebelumnya, dengan setumpuk rindu yang kutahu takkan pernah berubah untuknya. Hmmm.... beberapa hari ini memang tak ada percakapan diantara kita. Aku kesal, dia terdiam. Aku dalam amarah, dia semakin tak terjamah. Andai saja kita saling terbuka. Andai kita mau jujur dengan hati kita. Mungkin kita tak akan seperti ini. Membisu, tak ada kata yang mampu mencairkan hubungan yang membeku.  Hmmm... Kalau saja perasaanku lebih kuat dari pada keegoisanku. Mungkin aku kan mengerti apa maunya. Ketidak pahamanku atas maunya membuatku menggila. Membuatku sesak. Membuatku galau berkepanjangan. Dan inilah yang membuatku sadar diri, kalau jauh darinya buatku merasa ada yang hilang. Ada sesuatu ya...