Skip to main content

Ada Rindu yang Tidak Boleh Disuarakan

 


Ada rindu yang tidak boleh disuarakan.

Bukan karena tidak tulus. Bukan karena tidak cukup besar. Justru mungkin karena terlalu besar hingga aku takut jika ia keluar dari dadaku, semuanya akan berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa kukendalikan.

Maka aku memilih diam.

Membiarkannya tinggal di dalam kepala, berputar-putar di antara ingatan dan harapan yang tidak pernah benar-benar menemukan tempat untuk berlabuh.

Aku masih mengingat kapan semua ini mulai terasa berbeda.

Awalnya hanya pertemuan-pertemuan biasa. Tatapan yang kebetulan bertemu. Kehadiran yang berulang kali muncul di tempat yang sama. Tidak ada yang istimewa. Setidaknya itulah yang terus kukatakan pada diriku sendiri saat itu.

Namun semakin lama, semakin banyak hal yang tidak lagi terasa sebagai kebetulan.

Atau mungkin aku saja yang mulai mencari makna di tempat-tempat yang seharusnya dibiarkan kosong.

Aku tidak tahu.

Sampai hari ini pun aku tidak pernah benar-benar tahu.

Yang kutahu hanya satu: perlahan-lahan aku mulai menunggunya.

Menunggu tanpa pernah mengaku bahwa aku sedang menunggu.

Mencarinya tanpa pernah berani mengatakan bahwa aku sedang mencari.

Merindukannya tanpa pernah memberinya hak untuk mengetahui bahwa ada seseorang yang diam-diam merindukannya.

Dan mungkin memang seperti itulah bentuk paling sunyi dari sebuah perasaan.

Ia tumbuh tanpa suara.

Ia hadir tanpa izin.

Lalu menetap tanpa pernah benar-benar dipersilakan.

Kadang aku ingin jujur.

Ingin mengatakan bahwa ada hari-hari ketika kehadirannya menjadi bagian yang paling kutunggu. Ada sore-sore ketika aku pulang sambil mengulang kembali kejadian-kejadian kecil yang bahkan mungkin tidak diingat olehnya. Ada malam-malam ketika aku bertanya-tanya apakah aku hanya sedang membodohi diri sendiri.

Namun setiap kali keberanian itu hampir datang, kenyataan selalu lebih dulu menyentuh pundakku.

Siapa aku?

Dan siapa dirinya?

Hubungan apa yang sebenarnya ada di antara kami?

Tidak ada jawaban yang memuaskan.

Karena memang tidak ada apa-apa yang bisa disebut sebagai hubungan.

Tidak ada janji.

Tidak ada kata-kata.

Tidak ada kepastian.

Hanya ada dua orang yang sesekali berada dalam ruang yang sama, lalu pulang membawa tafsirnya masing-masing.

Karena itulah ada rasa yang tidak boleh dilanjutkan.

Bukan karena rasanya salah.

Bukan karena perasaannya harus dimatikan.

Melainkan karena aku sadar tidak semua hal yang tumbuh di dalam hati harus diperjuangkan sampai ke tujuan.

Beberapa perasaan hanya hadir untuk menemani perjalanan.

Seperti hujan yang turun sebentar di tengah kemarau.

Seperti lagu yang tidak sengaja terdengar lalu terus terngiang selama beberapa hari.

Seperti senja yang indah, tetapi tidak bisa dibawa pulang.

Aku mulai memahami bahwa tidak semua rindu menuntut pertemuan.

Dan tidak semua rasa meminta balasan.

Kadang ia hanya ingin diakui keberadaannya.

Bahwa ia pernah ada.

Bahwa ia pernah membuat hari-hari yang biasa menjadi sedikit lebih berwarna.

Bahwa ia pernah membuat seseorang tersenyum sendirian karena hal-hal kecil yang bahkan tidak penting bagi siapa pun selain dirinya sendiri.

Meski begitu, bukan berarti semuanya mudah.

Ada saat-saat ketika aku ingin menyerah pada logika dan melupakan semuanya.

Namun ada pula saat-saat ketika aku diam-diam berharap melihatnya lagi, meski hanya dari kejauhan.

Di situlah aku sering terjebak.

Di antara menerima dan berharap.

Di antara melepaskan dan mempertahankan.

Di antara sadar diri dan diam-diam ingin dipercaya bahwa semua ini tidak hanya hidup di dalam kepalaku.

Dan mungkin itulah bentuk kebingungan yang sesungguhnya.

Bukan karena aku tidak tahu apa yang kurasakan.

Aku tahu.

Terlalu tahu, bahkan.

Yang tidak kutahu adalah apa yang harus kulakukan dengan perasaan itu.

Maka untuk sementara waktu, aku memilih menyimpannya baik-baik.

Membiarkan rindu tetap menjadi rindu.

Membiarkan rasa tetap menjadi rasa.

Tidak disuarakan.

Tidak dilanjutkan.

Hanya dibiarkan hidup pelan-pelan di sudut hati yang paling sunyi, seperti seseorang yang datang tanpa kepastian, tetapi meninggalkan jejak yang terlalu dalam untuk benar-benar dilupakan.

Comments

Popular posts from this blog

Just Wanna Say... I love U, I need U, I want U

"Teman-temanmu sudah tahu semua?" tanyaku kemudia, memecah kebiasuan setelah pengakuan paling mencengangkan itu. "Cuma 2 temen terdekatku, 2 mantanku juga sudah tahu." "Kamu percaya, mereka tidak membuka aibmu?" "Insya Allah, percaya...." Aku terdiam lagi. Aku tak yakin, apakah orang lain bisa menjaga rahasia di depan orang lainnya. Pengalamanku, orang lain hanya dapat di percaya saat dia ada di hadapan kita, tapi kalau sudah jauh, dia akan membicarakan aib kita di hadapan teman-temannya. "Beneran pernah mencoba bunuh diri?" tanyaku kemudian, aku penasaran dengan pengakuannya yang mau bunuh diri. "Beneran, sumpah demi Allah SWT. Aku udah terlalu capek dicampakkan. Udah terlalu capek dibuat mainan. Tapi emang pergaulan ini lebih sering hanya main-main aja, tak ada seriusnya." "Sebenarnya tergantung pelakunya, kalo dia tak tergoda, bisa langgeng kok." balasku ragu. Ak...

I am Proud to be Scout

Alhamdulillah.... Lagi-lagi harus sering memuji nama Tuhan karena tak henti-hentinya memberi nikmat kepada hambanya yang haus kasih sayang ini. *ehm.. Seperti biasa, kalau postinganku diawali dengan kata-kata seperti itu, berarti ada 'sesuatu' yang aku terima dan ingin aku bagikan ceritanya di sini. *cerita doang? garing, ah! Iya, seperti yang sudah aku bilang tadi, bahwa hari ini ada sesuatu yang akan aku ceritakan dalam blog ini. Tapi sebelum itu, aku ceritain dulu bahwa seharian ini aku lagi merasa gak enak banget. Capek pikiran, capek badan. Kalo dah begitu, bawaanya badmood. Kalo dah badmood, statusnya pasti  berubah jadi "Senggol, bacok!". *Sadis Untungnya gak lama-lama status "Senggol, bacok!"nya. Agak sorean, abis dhuhur mungkin, status itu berubah menjadi agak mendingan. Tentu bisa ditebak, sedang gimana kalo tiba-tiba status bisa berubah sedemikian rupa kayak githu. Yup, ada kabar gembira. Apakah itu? Pertama, aku dinyatakan sebagai ...

Bincang Buku "I am Proud to be Scout"

Hi, sobat blogger. Hari ini cuacanya panas banget ya.... ato jangan-jangan ini hanya perasaanku saja, karena saat ini lagi di Surabaya. Hmmm.... mungkin karena emang cuaca di Surabaya gak pernah dingin kali ya, makanya panas mulu bawaannya. Padahal udah banyak taman yang dibuat buat menghijaukan kota Surabaya lho... gak ngaruh ternyata. heuheu Ngomong-ngomong tentang Surabaya, hari ini aku lagi di Surabaya nih... Ceritanya lagi ikutan launching buku "I am Proud to be Scout" . Tahu sendirikan, bukuku yang itu baru aja terbit. Karena baru, so pastinya perlu dibuatlah event kecil-kecilan buat ngrayain atas terbitnya buku itu. Yah, semacam syukuran githu deh! Syukuran karena bukunya udah terbit, maka dibuatlah acara launching dan bincang buku serta sharing tentang kepenulisan.  Acara udah disusun rapi, tapi karena ada beberapa hal yang di luar kendali dan rencana kita, akhirnya acara launchingnya diubah jadi bincang buku. You know why lah.... membuat event seperti ini ...