Kemarin sebenarnya aku sudah hampir menyerah.
Sejak pagi, suasana hatiku memang tidak sedang baik-baik saja. Ada terlalu banyak hal yang memenuhi kepala. Terlalu banyak pikiran yang datang bersamaan hingga sulit dibedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya ketakutan yang kubesarkan sendiri. Stres yang beberapa waktu terakhir menumpuk perlahan mulai menunjukkan bentuknya. Bukan ledakan besar yang dramatis, melainkan kelelahan panjang yang membuat segala sesuatu terasa lebih berat dari biasanya.
Dalam keadaan seperti itu, entah kenapa aku berharap bisa melihatnya.
Harapan yang sebenarnya terdengar konyol jika dipikirkan dengan logika yang sehat. Karena apa yang bisa berubah hanya dengan melihat seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar berbicara denganku? Apa yang bisa diperbaiki dari segala kekacauan dalam pikiranku hanya dengan kehadirannya?
Tapi begitulah kenyataannya.
Aku tetap berharap.
Mungkin karena selama ini aku menjadikan kehadirannya sebagai semacam jeda kecil dari rutinitas yang melelahkan. Semacam gangguan menyenangkan yang membuat hariku terasa sedikit lebih ringan. Dan ketika kepalaku sedang penuh seperti kemarin, aku ingin menemukan jeda itu lagi.
Maka aku menunggu.
Sesekali melirik ke arah pintu masuk.
Sesekali mencari sosok yang sudah terlalu mudah kukenali bahkan dari kejauhan.
Tapi waktu terus berjalan dan dia tidak kunjung muncul.
Semakin lama, harapan itu mulai menipis.
Aku mulai meyakinkan diri bahwa mungkin hari itu memang bukan harinya. Mungkin aku tidak akan melihatnya. Mungkin aku harus menerima kenyataan bahwa suasana hatiku akan tetap berantakan sampai sore.
Dan anehnya, ketika aku mulai berhenti berharap, ketika aku mulai menyerah dan kembali fokus pada kesibukanku sendiri, dia justru datang.
Pelan-pelan.
Tidak dramatis.
Tidak seperti adegan dalam cerita yang sengaja dirancang untuk menjadi klimaks.
Dia hanya datang seperti biasanya.
Tapi kehadirannya langsung kusadari.
Seolah ada bagian dari diriku yang memang selalu siaga untuk mengenali keberadaannya.
Saat itu aku tidak merasakan ledakan kebahagiaan seperti yang sering kubayangkan sebelumnya. Tidak ada debar yang membuatku kehilangan fokus. Tidak ada rasa gugup yang berlebihan.
Mungkin karena suasana hatiku memang sedang terlalu rusak.
Atau mungkin karena stres yang menumpuk sedang lebih kuat daripada rasa senang yang biasanya muncul ketika melihatnya.
Aku masih melihat tatapan-tatapan itu.
Masih melihat gerakan-gerakan kecil yang sering membuatku bertanya-tanya tentang maksudnya.
Gerakan yang kadang terasa seperti usaha untuk menarik perhatian, lalu beberapa jam kemudian kutolak sendiri tafsirannya karena takut terlalu berharap.
Semua itu tetap ada.
Aku menyadarinya.
Aku merekamnya.
Tapi kali ini aku hanya menikmati seperlunya.
Tidak lebih.
Karena untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi di dalam diriku.
Aku tidak sedang mencari kepastian darinya.
Aku tidak sedang mencari jawaban tentang perasaannya.
Aku hanya sedang berusaha bertahan dari kelelahan yang terlalu panjang.
Dan dalam keadaan itu, kehadirannya terasa seperti segelas air di tengah perjalanan yang melelahkan. Tidak menyelesaikan semua masalah. Tidak menghilangkan rasa haus sepenuhnya. Tapi cukup untuk membuat langkah berikutnya terasa sedikit lebih ringan.
Meski begitu, aku juga menyadari sesuatu yang lain.
Bahwa semua kebahagiaan kecil yang selama ini kubangun di sekelilingnya ternyata tidak selalu mampu mengalahkan kenyataan yang sedang kuhadapi. Aku bisa menunggu pertemuan. Aku bisa menikmati tatapan-tatapan singkat. Aku bisa tersenyum karena tingkah-tingkah absurd yang hanya kupahami sendiri.
Tetapi stres tetaplah stres.
Kelelahan tetaplah kelelahan.
Dan hati yang sedang lelah kadang tidak cukup disembuhkan hanya dengan melihat seseorang yang disukai.
Maka kemarin aku pulang dengan perasaan yang aneh.
Sedikit lega karena akhirnya melihatnya.
Sedikit bersyukur karena dia datang sebelum hari berakhir.
Namun sekaligus sadar bahwa ada banyak hal dalam hidupku yang tidak bisa terus-menerus kututupi dengan kebahagiaan semu yang kubangun sendiri.
Meski begitu, aku tetap menyimpan momen itu.
Karena di tengah hari yang nyaris runtuh oleh stres, setidaknya ada satu hal yang berhasil kutemukan, alasan kecil untuk tersenyum, walaupun hanya sebentar.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!