Skip to main content

Aku Masih Bisa Berpura-Pura Bahwa Akhir Ceritanya Belum Ditentukan

 


Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin aku masih terlalu sering mencari alasan.

Alasan kenapa sampai hari ini aku tidak pernah benar-benar berani menyapanya.

Alasan kenapa setiap kesempatan yang terbuka selalu berakhir dengan keraguan.

Alasan kenapa aku lebih memilih diam, meskipun dalam hati sudah menyiapkan begitu banyak kalimat yang ingin diucapkan.

Dan setiap kali aku mencoba mengurai semuanya, aku selalu kembali pada satu titik yang sama.

Dua pesan itu.

Dua pesan sederhana yang pernah kukirimkan melalui media sosialnya.

Tidak ada kalimat besar. Tidak ada pengakuan cinta yang dramatis. Tidak ada tuntutan agar ia membalas secepat mungkin. Hanya beberapa kata biasa yang sebenarnya bisa dijawab dalam hitungan detik.

Namun sampai hari ini, pesan itu tetap menggantung di sana.

Dibaca.

Dilihat.

Lalu dibiarkan diam.

Aneh sebenarnya. Aku tidak bisa bilang bahwa aku marah.

Kalau marah, mungkin semuanya akan lebih mudah. Aku tinggal kesal, lalu melupakan. Menutup cerita dan berjalan pergi. Tapi yang kurasakan bukan marah.

Lebih mirip sesuatu yang lain.

Sesuatu yang lebih pelan.

Lebih sunyi.

Lebih sulit dijelaskan.

Seperti seseorang yang berdiri di depan pintu, mengetuk perlahan, lalu tidak pernah tahu apakah di dalam rumah itu memang tidak ada orang atau memang sengaja tidak ingin membukakan pintu.

Dan karena tidak pernah mendapatkan jawaban, akhirnya ia pulang sambil membawa berbagai kemungkinan.

Mungkin memang sedang sibuk.

Mungkin lupa membalas.

Mungkin tidak tahu harus menjawab apa.

Atau mungkin memang tidak ingin menjawab.

Aku tidak pernah tahu yang mana.

Yang kutahu, sejak saat itu ada sesuatu dalam diriku yang berubah.

Setiap kali muncul keinginan untuk menyapanya secara langsung, pikiranku selalu kembali ke sana.

Untuk apa?

Bukankah aku sudah pernah mencoba?

Bukankah aku sudah lebih dulu membuka pintu percakapan?

Bukankah hasilnya sudah jelas?

Lalu kenapa aku harus mengulangi kemungkinan ditolak yang sama?

Aku sadar, mungkin kata "ditolak" terdengar terlalu berlebihan. Karena sebenarnya dia tidak pernah mengatakan tidak. Dia tidak pernah mengusirku. Dia tidak pernah mengatakan bahwa kehadiranku mengganggu.

Namun kadang-kadang diam terasa lebih keras daripada kata-kata.

Diam membuat imajinasi bekerja terlalu jauh.

Diam membuat seseorang menyusun sendiri jawaban yang tidak pernah diberikan.

Dan mungkin itulah yang kulakukan selama ini.

Aku menyusun kesimpulanku sendiri.

Bahwa aku sudah ditolak.

Bahwa aku tidak perlu mencoba lagi.

Bahwa aku sebaiknya menjaga jarak agar tidak mempermalukan diri sendiri.

Karena anehnya, aku merasa lebih sanggup menghadapi ketidakjelasan daripada menghadapi penolakan yang nyata.

Aku lebih memilih momen-momen absurd yang terjadi di antara kami.

Tatapan yang mungkin tidak berarti apa-apa.

Kebetulan-kebetulan yang mungkin memang hanya kebetulan.

Kehadiran yang tidak pernah benar-benar menjadi percakapan.

Semua itu jauh lebih aman.

Karena selama semuanya masih samar, aku masih bisa menafsirkan sesuka hati.

Masih bisa berkhayal.

Masih bisa berpura-pura bahwa ada kemungkinan lain.

Sebaliknya, jika aku menyapa lagi dan mendapatkan jawaban yang jelas, atau lebih buruk lagi, tidak mendapatkan jawaban lagi, maka seluruh bangunan harapan yang selama ini kususun akan runtuh sekaligus.

Dan mungkin aku belum siap melihatnya runtuh.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, apakah ini tentang dirinya?

Atau sebenarnya tentang luka-luka lama yang belum sepenuhnya sembuh?

Karena rasanya ketakutan ini terlalu besar untuk sekadar dua pesan yang tidak dibalas.

Seolah ada penolakan-penolakan lain yang ikut bangkit bersamanya. Penolakan yang pernah datang dari masa lalu. Dari berbagai kesempatan yang gagal. Dari berbagai keberanian yang tidak pernah berakhir baik.

Mungkin itulah sebabnya aku masih berdiri di tempat yang sama.

Bukan karena aku tidak ingin melangkah.

Tetapi karena ada bagian dalam diriku yang masih percaya bahwa satu langkah lagi akan membawaku pada rasa sakit yang pernah kurasakan sebelumnya.

Jadi aku memilih bertahan di wilayah abu-abu ini.

Wilayah yang membingungkan, melelahkan, dan sering kali membuatku overthinking.

Namun setidaknya di sini aku masih bisa berharap.

Sebab selama tidak ada jawaban yang benar-benar pasti, aku masih bisa berpura-pura bahwa akhir ceritanya belum ditentukan.

Comments

Popular posts from this blog

One Direction – Live While We're Young (Arti Lagu)

One Direction atau 1D sekarang lagi booming-boomingnya. Sepertinya saya gak salah jika mau sedikit menerjemahkan salah satu lagunya. Meski lagu-lagunya banyak yang digilai banyak orang, tapi sampai sekarang saya tetap tidak mengidolakannya, apalagi mengoleksi lagu-lagunya. Saya menulis tulisan ini alasannya cuma satu, biar yang berkunjung di blogku bertambah. simple, kan? Kali ini saya memilh lagunya 1D yang judulnya  Live While We're Young. Banyak yang beranggapan, lagu ini tentang sex. Ajakan untuk berbuat sex lebih tepatnya. Anggapan mereka tidaklah salah, karena liriknya jelas banget mengarahnya kesana. Kalo ada yang ngeyel dan membela diri bahwa lagu ini bukan lagu tentang ajakan sex, tanya deh pada orang tua kita,  Get some means have sex. Simple as that. Sedikit tambahan, One Direction adalah grup penyanyi pria asal Inggris-Irlandia yang terbentuk di London pada tahun 2010. Grup ini beranggotakan Niall Horan, Zayn Malik, Liam Payne, Harry Style...

Curhat

"Sungguh terlalu, kamu berhasil membuatku tergila-gila padamu. Tak ada satu menit pun berlalu tanpa aku memikirkanmu. Beib, I love you." "Love u too... Aku kuliah jam setengah 6 lagi, beib." "Alhamdulillah hsil labnya negatif. " "Morning, beib. Rajin banget kuliah jadwal jam segitu. Btw, tes apa?" "Hehe ternyata salah lihat jadwal, besok yang kuliah jam segitu. Ntar kuliah jam setengah 11 cuman tes SGOT/SGPT." "Tes apa itu?" "Gak tau juga. Itu pokoknya kalau melebihi normal berarti kenak tipes, hepatitis dkk." "Aku cuma pernah tes darah aja, waktu banyak orang yang kena DB." "Hmmm.....semalem tidur jam berapa?" "Umm... masih sore kok, beib. Kamu ketiduran, aku juga. Bangun jam 11 malem, nonton tv. tapi gak tahu tidur lagi jam berapa." "Eeemmm... " "Mau cerita apa, beib?" "Kemaren penuh emosi tok. Kemaren kan aku muntah-muntah, makan ju...

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...