Skip to main content

Aku Menyimpan Tawanya di Ponselku


Aku menemukan sebuah video secara tidak sengaja.

Bukan dari akunnya. Bukan juga dari sesuatu yang memang ia kirimkan kepadaku. Video itu muncul di salah satu reel milik temannya, lalu entah kenapa jari-jariku berhenti di sana lebih lama dari biasanya.

Awalnya aku hanya melihat sekilas. Lalu kuputar lagi. Lalu sekali lagi. Sampai akhirnya aku melakukan sesuatu yang mungkin sedikit memalukan jika diceritakan pada orang lain: aku merekam ulang video itu, lalu memotong bagian yang hanya menampilkan dirinya.

Bukan seluruh video. Hanya beberapa detik ketika ia tertawa dan menjawab sesuatu dengan nada yang lembut, sedikit manja, seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya.

Beberapa detik saja.

Tapi anehnya, beberapa detik itu berhasil membuatku tersenyum berkali-kali.

Selama ini aku lebih sering melihatnya dari kejauhan. Di ruangan yang sama, di lorong, di dekat pintu masuk, atau sekadar lewat dari sudut pandangku. Selalu ada jarak di antara kami. Bahkan ketika berdiri cukup dekat, rasanya tetap ada ruang tak terlihat yang membuat kami seperti dua orang yang saling menghindari untuk terlalu lama saling menatap.

Sedangkan di video itu, jarak itu seperti menghilang.

Pengambilan gambarnya dekat sekali. Wajahnya terlihat jelas. Ekspresinya tidak sedang dijaga seperti ketika berada di hadapan banyak orang. Tawa kecilnya terdengar lebih nyata. Cara ia menjawab pertanyaan temannya terasa spontan. Dan untuk pertama kalinya aku merasa melihat sisi dirinya yang selama ini hanya bisa kutebak dari kejauhan.

Aku memutar video itu berulang kali.

Bukan karena ada hal besar di dalamnya. Tidak ada pengakuan cinta. Tidak ada kode yang jelas. Tidak ada kalimat romantis. Hanya seseorang yang sedang tertawa dan berbicara sebentar.

Namun justru hal-hal sederhana seperti itulah yang kadang paling berbahaya bagi orang yang sedang jatuh hati.

Karena dari tawa yang singkat itu, aku malah semakin sadar bahwa aku benar-benar menyukainya.

Aku menyukai caranya tertawa.

Aku menyukai cara suaranya terdengar ketika sedang santai.

Aku menyukai sisi dirinya yang ternyata lebih banyak bicara daripada yang selama ini kulihat.

Dan yang paling membuatku takut adalah kenyataan bahwa aku mulai menyukai hal-hal kecil yang bahkan mungkin tidak pernah ia sadari.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, kapan tepatnya perasaan ini berubah menjadi sedalam ini?

Awalnya aku hanya penasaran. Lalu mulai menunggu kehadirannya. Lalu mulai memperhatikan kebiasaannya. Lalu mulai merindukan pertemuan-pertemuan kecil. Dan sekarang, bahkan beberapa detik video yang menampilkan tawanya saja sudah cukup membuat hariku berubah.

Aku tertawa sendiri memikirkan itu.

Sungguh, aku jatuh hati pada anak ini.

Dan mungkin itulah yang membuatku mulai takut.

Karena semakin aku menyukainya, semakin aku sadar bahwa jarak di antara kami tidak hanya soal langkah kaki. Ada banyak hal lain yang terasa jauh. Keberanian. Kepastian. Hubungan yang belum pernah benar-benar dimulai. Bahkan mungkin perasaan yang belum tentu sama.

Aku sering terlihat begitu yakin ketika bercerita tentang tanda-tanda yang kulihat. Namun di balik semua keyakinan itu, selalu ada satu pertanyaan yang diam-diam menunggu.

Apakah ini akan berhasil?

Pertanyaan itu muncul lagi pagi ini setelah aku memutar videonya entah untuk ke berapa kali.

Aku membayangkan kemungkinan terbaik, lalu langsung dihantam kemungkinan terburuk. Aku membayangkan suatu hari kami bisa benar-benar berbicara tanpa canggung, lalu beberapa detik kemudian aku mengingat bahwa sampai sekarang saja aku masih sering gugup hanya karena mata kami bertemu.

Begitulah perasaanku berjalan akhir-akhir ini.

Satu langkah maju, satu langkah mundur.

Satu hari penuh harapan, satu hari penuh keraguan.

Namun di tengah semua kebingungan itu, ada satu hal yang tidak bisa kubantah lagi.

Video beberapa detik itu berhasil menunjukkan sesuatu yang selama ini sudah ada di dalam diriku.

Aku bukan lagi sekadar penasaran padanya.

Aku benar-benar jatuh hati.

Dan sekarang aku hanya bisa duduk diam sambil memandangi layar ponsel, tersenyum sendiri melihat tawanya, lalu bertanya dalam hati dengan setengah takut dan setengah berharap:

Mungkinkah suatu hari nanti jarak yang terasa sejauh ini benar-benar bisa dipendekkan?

Atau aku hanya akan terus menjadi seseorang yang diam-diam menyimpan potongan tawanya di galeri ponsel, lalu merindukannya dari kejauhan?

Comments

Popular posts from this blog

Just Wanna Say... I love U, I need U, I want U

"Teman-temanmu sudah tahu semua?" tanyaku kemudia, memecah kebiasuan setelah pengakuan paling mencengangkan itu. "Cuma 2 temen terdekatku, 2 mantanku juga sudah tahu." "Kamu percaya, mereka tidak membuka aibmu?" "Insya Allah, percaya...." Aku terdiam lagi. Aku tak yakin, apakah orang lain bisa menjaga rahasia di depan orang lainnya. Pengalamanku, orang lain hanya dapat di percaya saat dia ada di hadapan kita, tapi kalau sudah jauh, dia akan membicarakan aib kita di hadapan teman-temannya. "Beneran pernah mencoba bunuh diri?" tanyaku kemudian, aku penasaran dengan pengakuannya yang mau bunuh diri. "Beneran, sumpah demi Allah SWT. Aku udah terlalu capek dicampakkan. Udah terlalu capek dibuat mainan. Tapi emang pergaulan ini lebih sering hanya main-main aja, tak ada seriusnya." "Sebenarnya tergantung pelakunya, kalo dia tak tergoda, bisa langgeng kok." balasku ragu. Ak...

I am Proud to be Scout

Alhamdulillah.... Lagi-lagi harus sering memuji nama Tuhan karena tak henti-hentinya memberi nikmat kepada hambanya yang haus kasih sayang ini. *ehm.. Seperti biasa, kalau postinganku diawali dengan kata-kata seperti itu, berarti ada 'sesuatu' yang aku terima dan ingin aku bagikan ceritanya di sini. *cerita doang? garing, ah! Iya, seperti yang sudah aku bilang tadi, bahwa hari ini ada sesuatu yang akan aku ceritakan dalam blog ini. Tapi sebelum itu, aku ceritain dulu bahwa seharian ini aku lagi merasa gak enak banget. Capek pikiran, capek badan. Kalo dah begitu, bawaanya badmood. Kalo dah badmood, statusnya pasti  berubah jadi "Senggol, bacok!". *Sadis Untungnya gak lama-lama status "Senggol, bacok!"nya. Agak sorean, abis dhuhur mungkin, status itu berubah menjadi agak mendingan. Tentu bisa ditebak, sedang gimana kalo tiba-tiba status bisa berubah sedemikian rupa kayak githu. Yup, ada kabar gembira. Apakah itu? Pertama, aku dinyatakan sebagai ...

Hubungan yang Aneh!

Sebenarnya aku sudah menyadarinya sejak dulu. Oh, tidak! Tidak terlalu lama sebenarnya, karena hubungan kami memang baru dimulai. Satu tahun berjalan, kalau tidak salah.  Masih bisa dibilang seumur jagung, karena aku pernah punya hubungan yang lebih lama dari hubungan yang ini. Tapi, dari semua hubungan yang pernah aku jalani, mungkin hanya hubungan ini yang memiliki rasa yang berbeda dibanding yang lainnya. Ah, mungkin aku yang terlalu melebih-lebihkannya. Tapi jujur, ada yang aneh dari hubungan kita. Mungkin baru kali ini aku merasakannya, sehingga aku merasa bahwa hubungan kami memang benar-benar aneh. Saking anehnya, aku sendiri jadi tidak percaya, benarkah ini semua?   I don't understand our relationship. Sometimes we're friends, sometimes we're more then friends and sometimes I'm just a stranger to you.