Ada bagian dari diriku yang sampai sekarang masih gagal kupahami.
Di satu sisi, aku terus berkata pada diriku sendiri bahwa aku harus menghindarinya. Aku sengaja mengurangi kesempatan bertemu. Aku memilih jalan yang berbeda, menunda waktu datang atau pulang, bahkan sesekali mencari alasan agar tidak berada dalam ruangan yang sama dengannya. Bukan karena aku membencinya. Justru sebaliknya. Aku takut jika terlalu sering bertemu, aku akan semakin sulit mengendalikan perasaanku. Aku ingin menjaga jarak agar hatiku tidak semakin dalam tenggelam pada seseorang yang bahkan belum tentu memiliki rasa yang sama.
Namun lucunya, setiap kali ada kemungkinan kami akan bertemu, seluruh tekad itu seperti kehilangan kekuatannya.
Tanpa sadar aku berdiri lebih lama di depan cermin. Baju yang biasanya kupakai begitu saja, tiba-tiba terasa kurang pantas. Aku mulai membuka lemari lebih lama, memilih warna yang menurutku paling serasi. Bukan warna yang mencolok, melainkan warna yang diam-diam membuatku merasa sedikit lebih percaya diri. Aku merapikan kerah baju berkali-kali, memastikan lipatannya tidak kusut, menyisir rambut lebih teliti dari biasanya, lalu menyemprotkan parfum dengan takaran yang pas. Tidak terlalu menyengat, tetapi cukup jika seseorang berdiri di dekatku.
Bahkan jam tangan pun ikut kupilih.
Padahal biasanya aku tidak terlalu memedulikannya. Selama berfungsi menunjukkan waktu, rasanya sudah cukup. Tapi entah kenapa, setiap kali membayangkan kemungkinan bertemu dengannya, aku justru memilih jam tangan yang menurutku paling bagus. Seolah-olah benda kecil itu bisa mengatakan sesuatu yang tidak mampu kuucapkan.
Aku kemudian tertawa sendiri.
Bukankah ini aneh?
Aku mengatakan ingin menghindarinya, tetapi seluruh persiapanku justru dilakukan agar, kalau pun kami benar-benar bertemu, dia melihat versi terbaik dari diriku.
Seolah-olah ada dua orang yang hidup dalam tubuh yang sama.
Yang satu terus berkata, "Jangan dekati dia. Jaga jarak. Jangan memberi harapan pada dirimu sendiri."
Yang lain berbisik pelan, "Kalau nanti bertemu, semoga dia memperhatikanmu."
Dua suara itu tidak pernah benar-benar saling mengalahkan. Mereka hidup berdampingan, saling menarik ke arah yang berlawanan. Mungkin itulah yang membuatku terlihat membingungkan, bahkan bagi diriku sendiri.
Aku menghindar, tetapi diam-diam berharap terlihat.
Aku menjauh, tetapi ingin dikenang.
Aku memilih diam, tetapi ingin dipahami.
Kadang aku bertanya, apakah semua orang yang sedang jatuh cinta diam-diam juga mengalami pertentangan seperti ini? Atau hanya aku yang terlalu pandai menyangkal isi hati sendiri?
Karena kalau memang benar aku sudah tidak ingin terlalu dekat dengannya, seharusnya aku tidak perlu repot memilih pakaian, parfum, atau jam tangan. Seharusnya aku datang seperti hari-hari biasa. Toh aku berniat menghindar.
Nyatanya tidak.
Tubuhku seolah lebih jujur daripada pikiranku.
Tanpa kusadari, ia tetap bersiap menyambut kemungkinan kecil bahwa hari itu kami akan saling berpapasan.
Mungkin memang begitulah cara hati bekerja. Ia tidak selalu mengikuti keputusan yang dibuat kepala. Kepala bisa berkata, "Sudah, jangan berharap lagi." Namun hati diam-diam masih menyisakan ruang kecil yang terus berharap, "Kalau nanti dia melihatku, semoga aku terlihat pantas di matanya."
Dan mungkin, justru di situlah letak ironi yang paling lucu sekaligus paling menyedihkan.
Aku tidak sedang berusaha membuatnya jatuh cinta.
Aku hanya ingin, jika takdir mempertemukan kami hari itu, ia melihat seseorang yang berusaha baik-baik saja, meski di balik kerapian baju, harum parfum, dan jam tangan yang kupilih dengan hati-hati, ada seseorang yang masih sibuk berperang dengan perasaannya sendiri.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!