Skip to main content

Belajar Berdamai dengan Rindu


Gimana ya menjelaskannya.

Sepertinya sekarang aku mulai bisa mengelola rinduku dengan lebih baik.

Tidak sepenuhnya hilang, tentu saja. Perasaan itu masih ada. Masih muncul pada waktu-waktu tertentu, terutama ketika aku tanpa sengaja mengingatnya atau ketika ada sesuatu yang mengingatkanku pada dirinya. Hanya saja, rasa itu tidak lagi sekuat beberapa waktu lalu saat aku baru mulai mencoba menjaga jarak.

Aku masih ingat bagaimana beratnya hari-hari pertama.

Saat aku sengaja menghindari kesempatan bertemu.

Saat aku berusaha tidak mencari keberadaannya.

Saat aku menahan diri untuk tidak membuka media sosial, tidak mengingat-ingat pertemuan yang pernah terjadi, dan tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang selama ini memenuhi kepalaku.

Waktu itu rasanya seperti sedang menghentikan sebuah kebiasaan yang sudah terlanjur menjadi bagian dari rutinitas.

Ada ruang kosong yang tiba-tiba muncul.

Ada rasa gelisah yang sulit dijelaskan.

Seolah ada sesuatu yang hilang dari hari-hariku.

Namun ternyata manusia memang bisa beradaptasi dengan banyak hal, termasuk dengan kerinduan.

Pelan-pelan aku mulai terbiasa.

Bukan karena rindunya menghilang.

Bukan pula karena perasaanku berubah.

Aku hanya mulai memahami bahwa tidak semua rasa harus dipenuhi saat itu juga.

Tidak semua rindu harus segera dituntaskan dengan pertemuan.

Kadang rindu hanya perlu diterima keberadaannya.

Duduk bersamanya sebentar.

Lalu melanjutkan hidup seperti biasa.

Dan mungkin sekarang aku sedang berada di fase itu.

Aku masih ingin bertemu dengannya.

Masih penasaran bagaimana kabarnya.

Masih ingin melihatnya sesekali.

Namun keinginan itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang mendesak.

Tidak lagi seperti rasa haus yang harus segera dipuaskan.

Ia lebih mirip gelombang kecil yang datang dan pergi.

Kadang terasa jelas.

Kadang hanya menjadi latar yang samar.

Aku mulai bisa mengatakan pada diriku sendiri bahwa tidak apa-apa jika hari ini tidak bertemu.

Tidak apa-apa jika tidak ada kabar.

Tidak apa-apa jika aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan.

Karena kenyataannya memang seperti itu.

Aku harus jujur pada diriku sendiri.

Siapa aku?

Dan hubungan kami sebenarnya apa?

Pertanyaan itu yang berkali-kali membawaku kembali ke kenyataan.

Kami tidak memiliki ikatan apa pun.

Tidak ada janji.

Tidak ada komitmen.

Tidak ada hubungan yang bisa menjadi alasan untuk menuntut kehadiran satu sama lain.

Bahkan mungkin sebagian besar cerita ini hanya hidup di dalam kepalaku sendiri.

Karena itu, aku tidak ingin membiarkan rinduku berubah menjadi sesuatu yang membebani.

Baik membebani diriku maupun dirinya.

Aku tidak ingin menjadikan perasaan ini sebagai alasan untuk terus-menerus mencari, mengejar, atau memaksa keadaan berjalan sesuai keinginanku.

Kalau memang suatu hari nanti ada jalan yang mempertemukan kami lebih dekat, biarlah itu terjadi dengan sendirinya.

Kalau tidak pun, aku rasa aku mulai bisa menerimanya.

Sebab pada akhirnya, perasaan ini sudah memberiku cukup banyak hal.

Ia pernah membuat hari-hariku lebih berwarna.

Memberiku alasan untuk tersenyum pada hal-hal kecil.

Membuatku kembali merasakan debar yang sudah lama tidak kurasakan.

Dan untuk itu saja, mungkin aku sudah cukup berterima kasih.

Jadi sekarang aku tidak sedang berusaha melupakan.

Aku juga tidak sedang berusaha mempertahankan.

Aku hanya sedang belajar menempatkan perasaan ini di tempat yang lebih tenang.

Tempat di mana aku masih bisa merindukannya tanpa harus kehilangan diriku sendiri.

Tempat di mana aku masih bisa berharap tanpa menggantungkan seluruh kebahagiaanku pada harapan itu.

Dan mungkin, untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.

Comments

Popular posts from this blog

Just Wanna Say... I love U, I need U, I want U

"Teman-temanmu sudah tahu semua?" tanyaku kemudia, memecah kebiasuan setelah pengakuan paling mencengangkan itu. "Cuma 2 temen terdekatku, 2 mantanku juga sudah tahu." "Kamu percaya, mereka tidak membuka aibmu?" "Insya Allah, percaya...." Aku terdiam lagi. Aku tak yakin, apakah orang lain bisa menjaga rahasia di depan orang lainnya. Pengalamanku, orang lain hanya dapat di percaya saat dia ada di hadapan kita, tapi kalau sudah jauh, dia akan membicarakan aib kita di hadapan teman-temannya. "Beneran pernah mencoba bunuh diri?" tanyaku kemudian, aku penasaran dengan pengakuannya yang mau bunuh diri. "Beneran, sumpah demi Allah SWT. Aku udah terlalu capek dicampakkan. Udah terlalu capek dibuat mainan. Tapi emang pergaulan ini lebih sering hanya main-main aja, tak ada seriusnya." "Sebenarnya tergantung pelakunya, kalo dia tak tergoda, bisa langgeng kok." balasku ragu. Ak...

I am Proud to be Scout

Alhamdulillah.... Lagi-lagi harus sering memuji nama Tuhan karena tak henti-hentinya memberi nikmat kepada hambanya yang haus kasih sayang ini. *ehm.. Seperti biasa, kalau postinganku diawali dengan kata-kata seperti itu, berarti ada 'sesuatu' yang aku terima dan ingin aku bagikan ceritanya di sini. *cerita doang? garing, ah! Iya, seperti yang sudah aku bilang tadi, bahwa hari ini ada sesuatu yang akan aku ceritakan dalam blog ini. Tapi sebelum itu, aku ceritain dulu bahwa seharian ini aku lagi merasa gak enak banget. Capek pikiran, capek badan. Kalo dah begitu, bawaanya badmood. Kalo dah badmood, statusnya pasti  berubah jadi "Senggol, bacok!". *Sadis Untungnya gak lama-lama status "Senggol, bacok!"nya. Agak sorean, abis dhuhur mungkin, status itu berubah menjadi agak mendingan. Tentu bisa ditebak, sedang gimana kalo tiba-tiba status bisa berubah sedemikian rupa kayak githu. Yup, ada kabar gembira. Apakah itu? Pertama, aku dinyatakan sebagai ...

Bincang Buku "I am Proud to be Scout"

Hi, sobat blogger. Hari ini cuacanya panas banget ya.... ato jangan-jangan ini hanya perasaanku saja, karena saat ini lagi di Surabaya. Hmmm.... mungkin karena emang cuaca di Surabaya gak pernah dingin kali ya, makanya panas mulu bawaannya. Padahal udah banyak taman yang dibuat buat menghijaukan kota Surabaya lho... gak ngaruh ternyata. heuheu Ngomong-ngomong tentang Surabaya, hari ini aku lagi di Surabaya nih... Ceritanya lagi ikutan launching buku "I am Proud to be Scout" . Tahu sendirikan, bukuku yang itu baru aja terbit. Karena baru, so pastinya perlu dibuatlah event kecil-kecilan buat ngrayain atas terbitnya buku itu. Yah, semacam syukuran githu deh! Syukuran karena bukunya udah terbit, maka dibuatlah acara launching dan bincang buku serta sharing tentang kepenulisan.  Acara udah disusun rapi, tapi karena ada beberapa hal yang di luar kendali dan rencana kita, akhirnya acara launchingnya diubah jadi bincang buku. You know why lah.... membuat event seperti ini ...