Akhirnya kami bertemu juga.
Setelah sehari sebelumnya aku menghabiskan banyak waktu menunggu seseorang yang tidak pernah datang, hari ini semesta seolah memberiku sedikit belas kasihan. Tidak banyak. Hanya secuil. Hanya cukup untuk membuat rindu yang kemarin mengering kembali menemukan setetes air.
Saat itu aku masih berada di samping kendaraanku. Tidak sedang melakukan sesuatu yang penting sebenarnya. Hanya membenarkan posisi sepatu yang terasa kurang nyaman dan menyangkutkan tas ke pundak dengan gerakan yang sengaja kulambat-lambatkan. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku sering melakukan itu. Menunda beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Seolah ada sesuatu yang sedang kutunggu.
Dan memang ada.
Di saat itulah aku melihat sebuah kendaraan berbelok memasuki area parkir.
Aku langsung mengenalinya.
Bukan karena aku hafal nomor kendaraannya secara utuh. Justru lucunya, aku bahkan tidak tahu angka-angka setelahnya. Tetapi aku hafal kode awalnya. Hafal bentuk motornya. Hafal cara kendaraan itu muncul dari tikungan sebelum memasuki area parkir.
Ada hal-hal yang tanpa sadar tersimpan begitu saja di kepala ketika seseorang terlalu sering kauperhatikan.
Saat itu juga aku tahu.
Dia datang.
Dadaku langsung menegang dengan cara yang selalu membuatku kesal pada diri sendiri. Padahal aku sudah berjanji tidak akan bereaksi berlebihan lagi. Aku sudah berjanji akan lebih santai. Lebih biasa. Lebih dewasa.
Nyatanya tetap saja aku harus diam sejenak untuk menata hati.
Karena setelah sekian lama menunggu kemarin, hari ini aku harus bertemu lagi dengannya.
Aku membiarkannya masuk lebih dulu.
Sengaja.
Aku memperlama urusan dengan tasku yang sebenarnya sudah selesai sejak tadi. Membenarkan tali tas yang tidak perlu dibenarkan. Memastikan resleting yang sebenarnya sudah tertutup rapat. Apa pun agar aku tidak perlu berjalan beriringan dengannya.
Dari kejauhan aku sempat melihat jaket jeans biru yang dikenakannya.
Entah kenapa, detail-detail kecil seperti itu selalu berhasil terekam jelas.
Lalu aku menyusul masuk beberapa saat kemudian.
Di dalam, aku melihatnya sedang berbincang dengan temannya. Hanya sebentar. Ada tawa yang pecah di antara mereka. Ada nada bercanda. Ada umpatan ringan yang terdengar seperti bagian dari keakraban mereka.
Aku tidak benar-benar mendengar apa yang mereka bicarakan.
Aku juga tidak tahu apa yang sedang mereka tertawakan.
Tetapi melihatnya tertawa selalu menghadirkan perasaan aneh.
Seolah ada bagian dari diriku yang ikut merasa lega hanya karena mengetahui ia baik-baik saja.
Mungkin itu berlebihan.
Atau mungkin memang begitulah cara seseorang jatuh terlalu jauh.
Sayangnya, semua itu berlangsung sangat singkat.
Terlalu singkat.
Belum sempat aku menikmati kenyataan bahwa akhirnya aku bisa melihatnya lagi setelah seharian menunggu tanpa hasil kemarin, ia sudah menghilang dari jangkauan pandanganku.
Sepuluh menit.
Mungkin bahkan tidak sampai.
Waktu yang terlalu pendek untuk seseorang yang sedang menahan rindu.
Ketika ia pergi lagi, aku hanya bisa memandangi ruang kosong yang ditinggalkannya.
Dan seperti biasa, aku mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri.
Kenapa selalu begini?
Kenapa setiap kali berhasil bertemu, rasanya selalu kurang?
Kenapa setiap pertemuan justru melahirkan keinginan untuk bertemu lagi?
Bukankah seharusnya rindu berkurang setelah perjumpaan?
Anehnya, yang terjadi justru sebaliknya.
Seolah pertemuan hanya berfungsi sebagai pengingat bahwa aku masih merindukannya.
Lebih dari yang ingin kuakui.
Hari itu aku akhirnya sadar bahwa tidak semua rindu bisa diselesaikan dengan melihat seseorang.
Kadang melihatnya justru membuat rindu menemukan alasan baru untuk bertahan.
Dan sekarang, setelah pertemuan singkat itu berakhir, aku kembali sendirian.
Dia sudah pergi entah ke mana.
Sementara aku masih berada di sini, berusaha berdamai dengan perasaan yang belum juga selesai.
Berjuang mengatasi rindu yang bahkan tidak berani kuungkapkan kepada pemiliknya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!