Pernah tidak, kamu menyukai seseorang, lalu semakin lama mengenalnya justru semakin bingung harus menempatkan perasaanmu di mana?
Bukan karena dia terlalu jelas.
Justru karena dia terlalu sulit dipahami.
Aku sedang berada di titik itu sekarang.
Ada hari-hari ketika aku merasa dirinya begitu dingin. Bahkan lebih dari sekadar dingin. Kadang aku merasa seolah-olah aku adalah seseorang yang tidak ingin ia temui. Gesturnya kaku. Ekspresinya datar. Tatapannya cepat berpindah ketika kebetulan bertemu denganku. Kalau sedang berada dalam jarak dekat, dia seperti berusaha menciptakan ruang yang tak terlihat di antara kami.
Dan anehnya, justru di saat-saat seperti itu pikiranku mulai berisik.
Apa aku mengganggunya?
Apa aku pernah melakukan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman?
Apa dia sebenarnya tidak menyukaiku?
Atau yang lebih parah, apa selama ini aku hanya salah mengartikan semuanya?
Pertanyaan-pertanyaan itu datang tanpa diundang. Duduk diam di kepalaku. Menunggu malam tiba agar bisa tumbuh semakin besar.
Sebab kalau hanya melihat caranya bersikap saat berada di dekatku, kesimpulannya terasa sederhana.
Dia tidak tertarik.
Dia menjaga jarak.
Dia ingin menghindar.
Selesai.
Tapi masalahnya tidak sesederhana itu.
Karena setiap kali aku hampir berhasil meyakinkan diri dengan kesimpulan tersebut, selalu ada sesuatu yang membuat semuanya berantakan lagi.
Ketika berjauhan, justru aku sering merasa dia mencariku.
Bukan mencari dalam arti harfiah. Bukan datang lalu menyapa. Bukan juga mengirim pesan yang bisa mengakhiri semua tanda tanya ini.
Hanya saja, berkali-kali aku merasa keberadaannya selalu muncul di tempat-tempat yang bisa kulihat.
Seolah ia ingin berada dalam radius pandanganku.
Seolah ia ingin memastikan aku menyadari bahwa dirinya ada di sana.
Dan itulah yang membuatku lelah.
Karena dua hal itu bertentangan.
Sangat bertentangan.
Di dekat, dia tampak dingin.
Di jauh, dia terasa hadir.
Di dekat, dia seperti menjaga tembok.
Di jauh, dia seperti melambaikan tangan dari balik tembok itu.
Aku tidak tahu mana yang nyata.
Mungkin keduanya nyata.
Mungkin tidak ada satu pun yang nyata.
Mungkin semua ini hanyalah hasil dari pikiranku yang terlalu sibuk menghubungkan titik-titik yang sebenarnya tidak saling berhubungan.
Aku juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan diriku sendiri.
Karena semakin lama, semakin banyak hal-hal kecil yang terasa sulit diabaikan.
Tatapan yang muncul lalu menghilang.
Kebetulan-kebetulan yang terlalu sering terjadi.
Kemunculannya yang entah kenapa selalu berhasil menarik perhatianku meski aku sedang berusaha fokus pada hal lain.
Dan setiap kali aku mulai bertanya-tanya, aku kembali terjebak dalam lingkaran yang sama.
Bagaimana jika dia memang tidak menyukaiku?
Lalu kenapa aku merasa dicari?
Bagaimana jika dia sebenarnya menyukaiku?
Lalu kenapa dia terlihat begitu dingin?
Aku tidak menemukan jawaban.
Yang kutemukan hanya kemungkinan demi kemungkinan.
Dan semakin banyak kemungkinan yang muncul, semakin kabur kenyataannya.
Kadang aku membayangkan mungkin sebenarnya tidak ada masalah apa-apa.
Mungkin dia memang seperti itu.
Mungkin dia canggung.
Mungkin dia pemalu.
Mungkin dia sedang menghadapi hal lain yang tidak ada hubungannya denganku.
Tapi di lain waktu, pikiranku berubah lagi.
Bagaimana kalau memang ada masalah?
Bagaimana kalau dia salah paham terhadapku?
Bagaimana kalau aku pernah melakukan sesuatu yang tanpa sadar membuatnya menjaga jarak?
Lalu aku kembali mengingat semua pertemuan yang pernah terjadi.
Semua momen yang kuputar ulang seperti adegan film yang tidak pernah selesai diputar.
Mencari petunjuk.
Mencari jawaban.
Mencari sesuatu yang mungkin sebenarnya tidak ada.
Dan sampai hari ini, aku masih berada di tempat yang sama.
Masih heran.
Masih bingung.
Masih bertanya-tanya.
Apa sebenarnya yang terjadi di dalam dirinya ketika ia melihatku?
Karena kalau memang dia tidak peduli, kenapa aku merasa kehadirannya begitu sering singgah di sekitarku?
Dan kalau memang dia peduli, kenapa ia terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha menyembunyikan sesuatu?
Mungkin aku tidak akan pernah tahu.
Atau mungkin suatu hari nanti aku akan menertawakan semua kebingungan ini.
Namun untuk saat ini, aku hanya bisa berjalan pelan sambil membawa satu pertanyaan yang terus menempel di kepalaku.....
Sebenarnya, ada masalah apa antara aku dan dirinya yang bahkan tidak pernah kami bicarakan?
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!