Sampai hari ini aku masih suka tertawa sendiri kalau mengingat kejadian kemarin.
Seperti yang pernah kuceritakan berkali-kali sebelumnya, dia seolah selalu menemukan cara agar tetap berada dalam radar penglihatanku. Kadang terang-terangan, kadang begitu halus hingga aku sendiri bingung apakah memang sedang terjadi sesuatu atau hanya pikiranku yang terlalu rajin menyusun cerita.
Yang paling sering terjadi justru menjelang jam pulang.
Aku pernah bercerita bagaimana beberapa kali aku sengaja menunda pulang hanya karena dia dan teman-temannya sedang duduk di kursi dekat pintu keluar. Mereka mengobrol santai, memainkan ponsel, sesekali tertawa. Sementara aku justru sibuk mencari pekerjaan tambahan yang sebenarnya tidak terlalu penting, hanya agar tidak perlu melewati mereka.
Rasanya canggung sekali.
Bukan karena takut bertemu.
Justru karena terlalu ingin bertemu.
Aku tidak tahu harus memasang wajah seperti apa jika harus berjalan melewatinya dari jarak yang begitu dekat.
Maka aku memilih menunggu.
Dan anehnya, kejadian itu terulang lagi kemarin.
Dia kembali berada di tempat yang sama, bersama teman-temannya, seolah pintu keluar memang menjadi panggung favoritnya untuk menghabiskan waktu sebelum benar-benar pulang. Sedangkan aku, seperti biasa, mulai memperlambat semua pekerjaanku. Membuka berkas yang sebenarnya sudah selesai. Merapikan meja yang bahkan sudah rapi. Apa saja agar waktu terus berjalan.
Namun rupanya, selama ini aku juga diam-diam belajar menghafal kebiasaannya.
Tanpa sengaja.
Aku baru sadar ternyata ada satu pola yang hampir selalu berulang. Setelah cukup lama duduk di sana, biasanya dia akan pergi sebentar menuju toilet.
Kemarin, untuk pertama kalinya aku merasa menemukan celah.
Begitu melihatnya beranjak, aku langsung bersiap. Seolah sedang menunggu aba-aba yang hanya kupahami sendiri.
"Ini waktunya."
Begitu pikirku.
Aku buru-buru membereskan barang, menyampirkan tas ke pundak, lalu berjalan cepat. Bahkan mungkin sedikit berlari kecil. Lucu sekali kalau diingat sekarang. Rasanya seperti sedang melarikan diri dari seseorang, padahal yang sebenarnya sedang kularikan adalah degup jantungku sendiri.
Tetapi ada satu potongan kejadian yang jauh lebih lucu daripada semua itu.
Sesaat sebelum dia menuju toilet, aku sedang menyelesaikan sesuatu di meja. Kepalaku menunduk, fokus pada pekerjaan. Lalu entah kenapa, tanpa alasan tertentu aku mendongak.
Dan tepat pada detik itu...
Dia sedang berjalan mendekat ke arahku.
Jarak kami tidak terlalu jauh. Cukup dekat hingga aku bisa menyadari gerakannya sebelum sempat berpikir apa pun.
Mata kami nyaris bertemu.
Atau mungkin memang bertemu.
Aku tidak yakin.
Yang kuingat hanyalah reaksinya.
Begitu menyadari aku melihat ke arahnya, langkahnya berubah. Hampir seketika ia membelokkan arah menuju toilet, dengan gerakan yang begitu cepat tetapi tetap berusaha terlihat santai. Ada gestur kecil yang belakangan sering kulihat darinya—cara ia mengatur langkah, membenarkan posisi tubuh, atau memainkan ekspresi seolah semua terjadi begitu saja. Sulit dijelaskan. Terlalu samar untuk dijadikan bukti, tetapi terlalu sering untuk benar-benar kulupakan.
Aku hanya terpaku beberapa detik.
Lalu, ketika dia menghilang di balik pintu toilet, aku justru memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur.
Benar-benar kabur.
Aku berjalan secepat mungkin menuju parkiran, hampir setengah berlari, sambil terus menahan tawa yang entah datang dari mana.
Di perjalanan pulang aku terus mengulang adegan itu di kepala.
Entah kenapa terasa lucu.
Lucu karena semuanya tampak kikuk.
Lucu karena kami sama-sama seperti aktor yang lupa dialog, lalu memilih berimprovisasi dengan cara masing-masing.
Dan untuk pertama kalinya, aku mulai berpikir...
Jangan-jangan dia juga mulai kehabisan cara menyembunyikan kegugupannya.
Kalau benar begitu, mungkin aku tidak sendirian.
Karena di sisi lain, aku juga mulai menyadari sesuatu tentang diriku sendiri.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit aku menjaga ketenangan.
Aku masih bisa tersenyum.
Aku masih bisa berpura-pura biasa saja.
Tetapi jauh di dalam dada, ada getaran yang semakin sulit diajak berkompromi.
Dan mungkin itulah yang paling kutakuti.
Bukan dia.
Melainkan diriku sendiri yang perlahan mulai kehilangan kemampuan untuk berpura-pura tidak jatuh cinta.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!