Skip to main content

Dua Orang yang Sama-Sama Berjalan Mengelilingi Lingkaran yang Sama


Hari ini aku memilih menghindarinya lagi.

Entah sudah yang keberapa kali aku melakukan itu. Anehnya, semakin hari justru semakin sering aku mengambil jalan memutar, mencari kesibukan lain, atau berpura-pura tidak melihat ketika sebenarnya ada banyak kesempatan untuk berada lebih dekat dengannya.

Padahal kesempatan itu ada.

Bahkan terlalu banyak.

Kami berada di ruangan yang sama. Pernah beberapa kali hanya terpisah beberapa langkah. Ada momen-momen yang seharusnya cukup mudah jika aku hanya ingin sekadar menyapa atau memulai percakapan sederhana. Tidak perlu sesuatu yang besar. Tidak perlu pengakuan yang dramatis. Hanya sebuah sapaan singkat yang mungkin akan terdengar biasa bagi orang lain.

Namun, justru hal sesederhana itu terasa paling sulit kulakukan.

Aku memilih menghindar.

Bukan karena aku sudah tidak menyukainya.

Justru karena perasaan itu masih ada.

Masih terlalu hidup.

Dan aku mulai takut pada diriku sendiri.

Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana jika semua yang selama ini kubaca ternyata hanyalah tafsir yang kubuat sendiri? Bagaimana jika tatapan yang selama ini kuanggap memiliki arti sebenarnya hanyalah kebetulan yang terlalu sering terjadi? Bagaimana jika semua gestur yang kususun menjadi sebuah cerita ternyata hanyalah kebiasaan yang sama sekali tidak ditujukan kepadaku?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak pernah benar-benar pergi.

Mereka hanya diam sebentar, lalu kembali datang setiap kali aku melihatnya.

Mungkin karena aku pernah berada di titik yang sama sebelumnya.

Pernah merasa yakin.

Pernah percaya bahwa seseorang juga memiliki rasa yang sama.

Lalu akhirnya aku sadar, yang tumbuh hanyalah harapanku sendiri.

Rasa malu setelahnya masih kuingat dengan sangat jelas.

Rasa malu yang membuatku ingin menghilang.

Rasa malu yang membuatku berkali-kali bertanya kenapa aku begitu mudah mempercayai isi kepalaku sendiri.

Karena itulah sekarang aku jauh lebih hati-hati.

Atau mungkin lebih tepat disebut penakut.

Aku tidak lagi memiliki keberanian seperti dulu.

Bukan karena aku semakin kuat.

Justru karena aku semakin tahu bagaimana rasanya jatuh sendirian.

Aku tahu, jika suatu hari nanti aku benar-benar memberanikan diri lalu dia berkata, "Tidak."

Atau bahkan lebih menyakitkan lagi...

Dia hanya menatapku dengan bingung, seolah selama ini memang tidak pernah ada apa-apa.

Aku yang akan hancur lebih dulu.

Aku bukan tipe orang yang pandai berdebat.

Aku bukan orang yang mampu memperjuangkan sesuatu dengan suara lantang.

Aku bukan orang yang akan berkata, "Tidak apa-apa," lalu besoknya benar-benar baik-baik saja.

Aku terlalu mudah menyimpan malu.

Terlalu mudah mengulang percakapan itu berkali-kali di kepala.

Terlalu lama menghukum diriku sendiri.

Dan di luar semua itu, ada kenyataan yang jauh lebih berat daripada sekadar perasaan.

Aku harus menjaga hidupku.

Aku harus menjaga pekerjaanku.

Menjaga nama baikku.

Menjaga posisi yang selama ini kubangun dengan susah payah.

Kalau aku terlalu gegabah, mungkin yang dipertaruhkan bukan hanya hatiku.

Ada banyak hal lain yang bisa ikut runtuh.

Sedangkan baginya?

Entahlah.

Mungkin hidupnya akan tetap berjalan seperti biasa.

Mungkin hanya aku yang harus menanggung segala akibat dari keberanian yang salah tempat.

Itulah sebabnya aku sering terlihat membingungkan.

Kadang aku sengaja berada di dekatnya.

Kadang justru menghilang.

Kadang aku berharap ia melihatku.

Kadang aku berharap ia tidak menyadari keberadaanku sama sekali.

Aku sendiri tidak mengerti sedang memperjuangkan apa.

Aku hanya sedang berusaha menjaga agar perasaanku tidak lebih dulu menghancurkan hidup yang sudah susah payah kutata.

Lucunya, di tengah semua ketakutan itu, masih ada satu harapan yang diam-diam kusimpan.

Aku berharap dia lebih berani.

Aku berharap, jika memang ada sesuatu yang ingin disampaikan, biarlah itu datang darinya lebih dulu.

Bukan karena aku ingin dipilih.

Melainkan karena aku sudah terlalu lelah menjadi orang yang selalu memulai.

Namun, sampai hari ini tidak ada yang benar-benar berubah.

Atau jangan-jangan sebenarnya dia pernah mencoba melangkah, hanya saja setiap kali dia maju, justru aku yang sedang mundur.

Mungkin itulah kami.

Dua orang yang sama-sama berjalan mengelilingi lingkaran yang sama.

Sama-sama saling melihat dari kejauhan.

Sama-sama tidak pernah benar-benar sampai.

Karena setiap kali jarak itu hampir habis, salah satu dari kami selalu memilih melangkah ke belakang.

Lalu kami kembali mengulang cerita yang sama, seolah takdir sengaja mempermainkan keberanian dua hati yang sama-sama lebih pandai menyimpan daripada mengucapkan.

Comments

Popular posts from this blog

Arti Lagu JUDAS - Lady Gaga

Setelah sebelumnya gw berhasil posting tentang arti lagu dari Lady Gaga - Born This Way yang ternyata banyak dibaca oleh pengunjung blog ini, maka pada kesempatan ini gw juga ingin memposting lagu kedua dari penyanyi super nyentrik ini, JUDAS.  Judas ini kalau dilihat dari lyrics secara keseluruhan, maka Judas ini bercerita tentang cinta dan pengampunan. Atau juga tentang jatuh cinta pada cinta yang salah (Yudas bukan Yesus), namun lagu ini jauh lebih dalam dari itu. Percaya atau tidak, Gaga adalah seorang Kristen. Meski ada juga yang meragukannya. Tapi yang jelas, dia percaya Tuhan dan  mengasihi semua orang tanpa memandang siapa mereka.  Dalam lyrics pertama ia mengatakan ia akan membasuh kakinya (ada dalam praktik Kristen Ortodoks) dan meminta agar ia diampuni/dimaafkan bahkan setelah dia mengkhianati. Namanya orang, pasti pernah melakukan kesalahan. Jadi wajar kalau ada kesalahan, pasti mengharap belas kasihan. Dalam lyrics kedua, ia mengatakan dia tid...

My Secret: 'Sesuatu' Yang Harus Kamu Tahu dari Aku

"We talk about other people's problem because we hate dealing with our own problems.” [Anonymous] Setiap orang punya rahasia. Aku, kamu dan orang-orag yang saat ini dekat denganmu, mereka pasti juga menyimpan rahasia, sekecil apapun itu. Dan aku yakin, setiap orang pasti juga ingin tahu dari rahasia yang orang lain miliki, makanya banyak orang yang sering saling mengguncing dan mencari aib dari orang lain juga. Dan yang paling meresahkan dari orang-orang yang haus akan rahasia itu adalah banyak sekali orang yang mengaku bisa menyimpan rahasia, tetapi dengan bangga menceritakannya rahasia yang telah di tangannya, orang yang dipercaya dapat menyimpan rahasia ternyata membocorkan kepada orang lain. Padahal banyak banget lho ya, orang yang sulit sekali mempercayai orang lain karena pernah kecewa dan dikecewakan. Aku salah satunya. Aku juga tidak habis pikir, kenapa mereka suka banget mencari-cari kelemahan orang lain dengan menceritakan rahasia orang lain. Apakah den...

I am Proud to be Scout

Alhamdulillah.... Lagi-lagi harus sering memuji nama Tuhan karena tak henti-hentinya memberi nikmat kepada hambanya yang haus kasih sayang ini. *ehm.. Seperti biasa, kalau postinganku diawali dengan kata-kata seperti itu, berarti ada 'sesuatu' yang aku terima dan ingin aku bagikan ceritanya di sini. *cerita doang? garing, ah! Iya, seperti yang sudah aku bilang tadi, bahwa hari ini ada sesuatu yang akan aku ceritakan dalam blog ini. Tapi sebelum itu, aku ceritain dulu bahwa seharian ini aku lagi merasa gak enak banget. Capek pikiran, capek badan. Kalo dah begitu, bawaanya badmood. Kalo dah badmood, statusnya pasti  berubah jadi "Senggol, bacok!". *Sadis Untungnya gak lama-lama status "Senggol, bacok!"nya. Agak sorean, abis dhuhur mungkin, status itu berubah menjadi agak mendingan. Tentu bisa ditebak, sedang gimana kalo tiba-tiba status bisa berubah sedemikian rupa kayak githu. Yup, ada kabar gembira. Apakah itu? Pertama, aku dinyatakan sebagai ...