Sebenarnya, beberapa hari terakhir aku sedang melakukan sesuatu yang mungkin terdengar konyol.
Bukan menghindarinya karena marah.
Bukan juga karena kecewa.
Apalagi membencinya.
Tidak. Sama sekali bukan itu.
Justru karena aku terlalu sering memikirkannya, aku memilih menciptakan jarak untuk sementara waktu.
Aku sengaja mengisi hari-hariku dengan aktivitas di luar ruangan. Mengambil tugas yang membuatku harus berpindah tempat. Mencari kesibukan baru. Menyetujui kegiatan yang biasanya mungkin akan kutolak karena malas keluar kantor.
Kalau dipikir-pikir, hampir semua keputusan itu memiliki tujuan yang sama.
Mengurangi kemungkinan bertemu dengannya.
Lucu, bukan?
Selama berbulan-bulan aku selalu menunggu kesempatan untuk melihatnya. Sekarang, ketika kesempatan itu masih ada, aku malah sengaja menjauh.
Kadang aku juga bingung dengan diriku sendiri.
Mungkin karena aku sedang melakukan sebuah eksperimen kecil.
Eksperimen yang bahkan tidak pernah dia ketahui.
Aku ingin tahu seberapa besar rasa rindu itu bekerja.
Bukan hanya pada diriku.
Tapi juga pada dirinya.
Karena kalau soal diriku, jawabannya sudah jelas.
Aku merindukannya.
Bahkan lebih sering daripada yang ingin kuakui.
Ada saat-saat ketika tanpa sadar aku membuka media sosial, lalu jari-jariku bergerak sendiri menuju akunnya.
Padahal aku tahu tidak akan menemukan sesuatu yang baru.
Padahal aku tahu sebagian aksesku bahkan sudah tidak ada lagi.
Padahal aku tahu kemungkinan besar aku hanya akan melihat halaman yang sama seperti kemarin.
Tetapi tetap saja aku datang.
Seperti seseorang yang berkali-kali mengetuk pintu rumah kosong hanya untuk memastikan rumah itu masih berdiri.
Aku tahu itu tidak masuk akal.
Namun rindu memang jarang masuk akal.
Rindu tidak selalu ingin berbicara.
Kadang ia hanya ingin memastikan seseorang masih ada.
Dan aku sedang berada di fase itu.
Fase ketika kehadirannya lebih penting daripada percakapan.
Lebih penting daripada jawaban.
Lebih penting daripada kepastian.
Karena yang paling membuatku penasaran justru bukan diriku sendiri.
Melainkan dirinya.
Apa yang terjadi ketika aku tidak ada?
Apa yang terjadi ketika aku berhenti muncul dalam kesehariannya selama beberapa hari?
Apakah ia akan menyadarinya?
Apakah ia akan mencariku?
Ataukah semuanya akan berjalan biasa saja seperti tidak ada yang berubah?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.
Kadang aku membayangkan pertemuan kami nanti.
Setelah beberapa hari tidak bertemu.
Setelah jarak kecil yang sengaja kuciptakan ini selesai.
Aku membayangkan ia datang seperti biasa.
Lalu tanpa sengaja mata kami bertemu.
Dan entah bagaimana, aku bisa melihat sesuatu di sana.
Sesuatu yang selama ini kucari.
Sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Mungkin kerinduan.
Mungkin kelegaan.
Mungkin hanya rasa terkejut karena akhirnya bertemu lagi.
Aku tidak tahu bentuknya seperti apa.
Aku bahkan tidak tahu apakah hal itu benar-benar bisa terlihat.
Tetapi aku ingin mempercayainya.
Aku ingin percaya bahwa rindu memiliki caranya sendiri untuk muncul.
Bahwa seseorang yang kehilangan kehadiran orang lain, meski hanya sebentar, akan meninggalkan jejak kecil di matanya.
Atau mungkin aku hanya sedang berkhayal.
Karena semakin lama aku memikirkannya, semakin aku sadar bahwa seluruh eksperimen ini sebenarnya lebih banyak berbicara tentang diriku sendiri daripada dirinya.
Aku yang ingin memastikan.
Aku yang ingin diyakinkan.
Aku yang ingin menemukan bukti bahwa semua ini tidak hanya hidup di kepalaku.
Sementara dirinya mungkin bahkan tidak tahu bahwa aku sedang melakukan pengujian diam-diam seperti ini.
Dan di situlah letak ironi yang paling lucu.
Aku sengaja menjauh untuk melihat apakah dia merindukanku.
Tetapi setiap hari yang kulewati justru membuatku semakin sadar bahwa yang paling merindukan dalam cerita ini mungkin adalah diriku sendiri.
Meski begitu, aku masih akan menunggu.
Menunggu hari ketika kami bertemu lagi.
Menunggu kemungkinan-kemungkinan yang selalu gagal kutinggalkan.
Dan diam-diam berharap, ketika mata kami kembali bertemu, ada sesuatu yang berubah.
Sekecil apa pun itu.
Karena untuk saat ini, aku hanya memiliki dua hal untuk dijadikan pegangan......
rasa penasaran yang belum selesai,
dan rindu yang ternyata jauh lebih keras kepala daripada yang selama ini kuakui.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!