Skip to main content

Kalau dia memang ingin, kenapa harus aku lagi yang berjalan lebih dulu?


Hari ini sebenarnya semesta terlihat cukup murah hati.

Kalau aku mau jujur, ada banyak kesempatan yang datang begitu saja. Kesempatan yang beberapa minggu lalu mungkin akan kuanggap sebagai hadiah besar. Kesempatan yang selama ini selalu kubayangkan ketika menyusun berbagai skenario dalam kepalaku sebelum tidur.

Dia sendirian.

Tidak dikelilingi teman-temannya seperti biasanya.

Tidak sedang sibuk bercanda dengan kelompoknya.

Tidak sedang terburu-buru pergi ke tempat lain.

Bahkan beberapa kali, menurut penafsiranku yang mungkin benar atau mungkin juga hanya hasil halusinasi seorang yang sedang jatuh hati, dia terlihat berusaha menarik perhatianku. Berada di jalur yang mudah kulihat. Muncul di tempat-tempat yang sulit kuabaikan. Sesekali seperti memberi ruang agar aku bisa mendekat jika memang ingin mendekat.

Dan sebenarnya aku memang ingin.

Sungguh.

Aku bahkan sudah memiliki begitu banyak skenario untuk situasi seperti itu.

Aku tahu harus membuka percakapan dengan apa.

Aku tahu harus berdiri di mana.

Aku tahu harus bertanya apa.

Aku tahu bagaimana caranya membuat semuanya terlihat santai dan tidak terlalu mencurigakan.

Setidaknya begitulah yang selalu kubayangkan saat sendirian.

Namun seperti biasa, kenyataan tidak pernah berjalan sesuai naskah.

Karena tepat ketika kakiku hampir melangkah, ada satu ingatan yang muncul begitu saja.

Pesanku.

Pesan yang tidak pernah dibalas.

Pesan yang kuberanikan diri untuk kirim setelah sekian lama hanya bermain tatapan dan kemungkinan.

Pesan yang kubikir akan menjadi awal dari sesuatu.

Atau setidaknya menjadi penutup yang jelas.

Namun yang kudapat justru keheningan.

Lalu kemudian akunku tak lagi bisa menjangkaunya.

Dan sampai hari ini, aku masih belum tahu harus menafsirkan itu sebagai apa.

Penolakan?

Ketidaktertarikan?

Atau hanya keadaan yang kebetulan kusalahpahami?

Aku tidak tahu.

Tapi ego laki-laki memang aneh.

Kadang ia bisa bertahan menghadapi kesepian bertahun-tahun.

Kadang ia bisa menerima kenyataan bahwa dirinya tidak dipilih.

Namun ketika merasa ditolak secara langsung, meski hanya oleh sebuah pesan yang tak dijawab, luka kecil itu bisa tinggal jauh lebih lama daripada yang seharusnya.

Maka ketika kesempatan itu datang hari ini, aku mendadak berhenti.

Aku bertanya pada diriku sendiri.

Untuk apa?

Kalau memang dia ingin dekat, kenapa pesanku dibiarkan menggantung?

Kalau memang dia ingin mengenalku lebih jauh, kenapa aku harus selalu menjadi orang yang bergerak lebih dulu?

Kalau memang dia menginginkan sesuatu, kenapa aku yang harus terus menerjemahkan kode-kode yang tak pernah dijelaskan?

Pertanyaan-pertanyaan itu datang begitu cepat hingga mengalahkan semua keberanian yang sejak lama kukumpulkan.

Dan akhirnya aku memilih diam.

Lagi.

Ironisnya, aku tidak yakin apakah itu karena harga diriku masih terlalu tinggi, atau justru karena harga diriku terlalu rendah.

Karena ada bagian dalam diriku yang masih menyukainya.

Masih menikmati kehadirannya.

Masih memperhatikan gerak-geriknya.

Masih mencari keberadaannya tanpa sadar.

Tetapi ada bagian lain yang terus mengingatkan bahwa aku pernah mencoba mendekat dengan cara yang paling sederhana, menyapa.

Dan sapaan itu tidak pernah benar-benar disambut.

Mungkin itulah yang membuat semuanya terasa rumit.

Bukan karena aku tidak berani mendekat.

Bukan karena aku tidak punya kesempatan.

Melainkan karena setiap langkah maju selalu ditarik kembali oleh kenangan akan satu langkah sebelumnya yang tidak menemukan tempat untuk mendarat.

Jadi hari ini aku kembali pulang dengan cerita yang sama.

Ada kesempatan.

Ada keinginan.

Ada kemungkinan.

Tetapi di antara semuanya, masih ada ego yang duduk diam di sudut hati, memeluk luka lamanya sendiri, lalu berbisik pelan.....

"Kalau dia memang ingin, kenapa harus aku lagi yang berjalan lebih dulu?"

Dan sampai malam ini, aku masih belum menemukan jawaban yang cukup kuat untuk membantah bisikan itu.

Comments