Kadang aku berpikir, mungkin aku memang tidak berbakat menjadi detektif.
Atau setidaknya, tidak berbakat menjadi detektif yang menyelidiki orang yang disukainya sendiri.
Sebab setelah sekian lama mengamati, menebak-nebak, menyusun teori, membangun skenario, dan membuat berbagai kesimpulan yang belum tentu benar, aku baru menyadari satu fakta yang sangat sederhana.
Dan fakta itu membuatku tertawa sendirian.
Bukan tertawa karena lucu.
Lebih tepatnya tertawa karena malu.
Karena ternyata aku melakukan kesalahan yang sangat konyol.
Aku masih ingat ketika beberapa waktu lalu aku memberanikan diri mengirim pesan kepadanya. Sebuah pesan sederhana yang bahkan membutuhkan keberanian berhari-hari untuk dikirimkan.
Di antara berbagai hal yang bisa kutanyakan, aku justru bertanya tentang namanya.
Saat itu aku benar-benar yakin bahwa nama yang ia gunakan di media sosial bukan nama asli.
Aku menganggapnya hanya nama samaran.
Nama internet.
Nama yang sengaja dipakai untuk bersenang-senang seperti banyak orang lainnya.
Mungkin karena aku sendiri juga melakukan hal yang sama.
Aku menggunakan nama lain.
Nama Jepang.
Nama yang tidak ada hubungannya dengan identitas asliku.
Maka secara otomatis aku mengira dia juga begitu.
Aku membayangkan dia mungkin seorang penggemar anime.
Seorang wibu diam-diam.
Atau seseorang yang sekadar menyukai bunyi nama Jepang yang terdengar menarik.
Pokoknya dalam pikiranku, nama itu pasti bukan nama asli.
Dan dengan keyakinan yang luar biasa itu, aku bertanya.
Sungguh percaya diri.
Sungguh tanpa keraguan.
Sungguh tidak tahu bahwa suatu hari aku akan menyesali pertanyaan tersebut.
Beberapa waktu kemudian, rasa penasaranku membawaku ke berbagai pencarian yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Pencarian yang dimulai dari rasa ingin tahu kecil lalu berkembang menjadi kegiatan investigasi yang tidak pernah diminta siapa pun.
Sampai akhirnya aku menemukan sebuah data lama.
Data penerima bantuan sekolah beberapa tahun sebelumnya.
Dan di sanalah aku melihat nama itu.
Persis sama.
Tidak berubah.
Tidak berbeda satu huruf pun.
Aku membaca sekali.
Lalu dua kali.
Kemudian memastikan lagi.
Dan semakin kulihat, semakin jelas bahwa tidak ada kesalahan.
Nama yang selama ini kukira nama samaran ternyata memang nama aslinya.
Nama yang kukira hanya identitas media sosial ternyata memang identitas yang sebenarnya.
Saat itulah aku hanya bisa menatap layar beberapa saat.
Diam.
Lalu tertawa.
Tertawa panjang.
Tertawa karena baru sadar bahwa aku telah mengirim pertanyaan yang mungkin terdengar sangat aneh.
Bayangkan saja.
Seseorang datang lalu bertanya, "Siapa nama kamu?"
Padahal nama itu sudah terpampang jelas.
Dan ternyata memang nama aslinya.
Semakin kupikirkan, semakin aku ingin menepuk jidat sendiri.
Mungkin dari sudut pandangnya, aku terlihat seperti orang yang kurang teliti.
Atau mungkin terlihat seperti orang yang sedang mencari alasan untuk membuka percakapan.
Yang lebih membuatku malu adalah kemungkinan kedua itu terasa jauh lebih mendekati kenyataan.
Karena jika jujur pada diri sendiri, mungkin aku memang tidak terlalu peduli soal namanya.
Yang sebenarnya kuinginkan saat itu hanyalah sebuah hubungan kecil.
Sebuah percakapan.
Sebuah alasan agar ada kata-kata yang bisa dipertukarkan.
Aku hanya tidak tahu harus memulai dari mana.
Maka aku memilih pertanyaan yang paling sederhana.
Dan ternyata justru pertanyaan itulah yang sekarang terlihat paling konyol.
Kadang aku membayangkan kalau suatu hari nanti ia benar-benar menjawab pesan itu.
Aku tidak tahu apakah aku harus malu atau tertawa.
Mungkin keduanya.
Karena sekarang aku sudah mengetahui jawabannya.
Bahkan sebelum dia sempat memberikannya.
Dan yang membuat semuanya semakin lucu, setelah sekian banyak usaha mencari tahu dirinya, justru penemuan terbesarku hari ini bukanlah tentang dirinya.
Melainkan tentang diriku sendiri.
Bahwa ternyata aku bisa begitu serius menyusun teori panjang, hanya untuk akhirnya menemukan bahwa kesalahan paling besar dalam cerita ini adalah asumsi yang kubuat sejak awal.
Dan sekarang pertanyaan berikutnya muncul.
Kalau nama saja bisa kutebak dengan salah sejauh itu, bagaimana jika selama ini aku juga salah menebak semua hal yang lain?
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!