Skip to main content

Ketika Seseorang Masih Melihat Harapan dalam Dirimu


Beberapa hari lalu di kantor, aku sempat berbincang dengan seorang teman. Kalau dibilang dekat, sebenarnya tidak juga. Kami bukan tipe teman yang saling bercerita tentang kehidupan pribadi atau sering menghabiskan waktu bersama. Namun kalau dibilang tidak akrab sama sekali, rasanya juga tidak tepat. Kami masih sesekali mengobrol ketika bertemu, bertukar kabar seperlunya, dan sesekali membahas pekerjaan atau hal-hal yang sedang ramai di lingkungan kampus.

Hari itu obrolan kami mengalir santai seperti biasanya. Tidak ada topik khusus yang direncanakan. Hanya percakapan ringan di sela aktivitas kantor. Sampai kemudian, entah bagaimana, pembicaraan mengarah pada jenjang karier dan pengembangan akademik.

Tiba-tiba ia menyarankan sesuatu yang tidak kuduga.

"Kenapa nggak coba post-doctoral?"

Aku sempat diam beberapa saat.

Bukan karena tidak tahu apa itu post-doctoral. Justru sebaliknya. Dulu, beberapa tahun lalu, aku pernah memiliki keinginan ke arah sana. Aku pernah membayangkan melanjutkan perjalanan akademik lebih jauh. Pernah membayangkan bekerja sama dengan peneliti lain, menulis lebih banyak publikasi, dan mencoba membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam karier yang selama ini kujalani.

Namun mendengar saran itu sekarang rasanya berbeda.

Aku hanya tersenyum kecil sambil menjawab seadanya. Karena jujur saja, diriku yang sekarang tidak lagi memiliki semangat yang sama seperti dulu.

Entah sejak kapan, keinginan itu seperti memudar perlahan.

Mungkin semuanya bermula dari berbagai kejadian yang kualami tahun lalu. Tahun yang sampai sekarang masih terasa meninggalkan bekas. Tahun ketika reputasiku terasa runtuh di hadapanku sendiri. Tahun ketika aku mulai meragukan banyak hal, termasuk diriku sendiri.

Kadang aku berpikir, untuk apa memperbaiki diri terlalu jauh jika pandangan orang sudah terlanjur terbentuk?

Aku tahu pemikiran itu mungkin tidak sepenuhnya benar. Namun pikiran seperti itu sering muncul begitu saja. Ada bagian dalam diriku yang merasa bahwa apa pun yang kulakukan sekarang, sebagian orang akan tetap mengingat versi diriku yang pernah dianggap bermasalah. Seolah-olah satu kesalahan bisa lebih mudah diingat daripada seratus hal baik yang datang setelahnya.

Karena itulah belakangan aku tidak terlalu memiliki keinginan untuk tampil menonjol lagi. Tidak terlalu ingin berada di depan. Tidak terlalu ingin menunjukkan sesuatu kepada banyak orang.

Meski begitu, jauh di dalam hati, aku tahu aku masih berusaha bangkit.

Aku masih mencoba mengikuti berbagai lomba dan kompetisi. Masih mencoba mengirim tulisan. Masih mencoba melakukan hal-hal kecil yang dulu pernah membuatku percaya diri. Bukan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain, melainkan untuk memulihkan keyakinan pada diriku sendiri yang sempat hilang.

Mungkin prosesnya lambat.

Mungkin hasilnya belum terlihat.

Tapi aku masih berjalan.

Temanku itu kemudian mengatakan sesuatu yang cukup lama tinggal di kepalaku.

Ia bilang aku tidak perlu terlalu mendengarkan suara-suara sumbang di sekitar. Menurutnya, salah satu hal yang ia sukai dariku adalah sikapku yang tidak suka ikut campur urusan orang lain. Aku dianggap tidak senang bergosip dan tidak mudah terbawa konflik yang bukan urusanku.

Aku hanya tertawa kecil mendengarnya.

Kalau saja dia tahu alasan sebenarnya.

Bukan karena aku memiliki prinsip yang luar biasa tinggi. Bukan pula karena aku sengaja menjaga jarak dari semua gosip.

Aku memang tidak tahu apa-apa.

Aku tidak dekat dengan siapa-siapa.

Aku tidak terlalu masuk ke lingkaran pertemanan mana pun. Aku jarang ikut nongkrong. Jarang ikut percakapan panjang di luar urusan pekerjaan. Akibatnya, aku hampir selalu menjadi orang yang paling lambat mengetahui kabar apa pun.

Aku tidak tahu gosip tentang orang lain.

Aku tidak tahu cerita yang sedang beredar tentang teman-teman kantor.

Bahkan bisa jadi, aku juga tidak tahu cerita yang sedang beredar tentang diriku sendiri.

Namun dalam perjalanan pulang hari itu, ada satu hal yang terus kupikirkan.

Di tengah semua keraguan yang masih kusimpan, di tengah rasa malu yang belum sepenuhnya hilang sejak tahun lalu, ternyata masih ada seseorang yang melihat diriku bukan sebagai masalah. Masih ada seseorang yang berbicara tentang masa depanku, bukan masa laluku.

Dan entah kenapa, untuk sesaat, hal kecil itu terasa lebih berarti daripada yang ingin kuakui. Karena kadang, ketika kita terlalu sibuk melihat kerusakan dalam diri sendiri, kepercayaan kecil dari orang lain bisa menjadi pengingat bahwa mungkin... kita belum sepenuhnya selesai. Mungkin masih ada bagian dari diri kita yang layak diperjuangkan untuk bangkit kembali.

Comments

Popular posts from this blog

One Direction – Live While We're Young (Arti Lagu)

One Direction atau 1D sekarang lagi booming-boomingnya. Sepertinya saya gak salah jika mau sedikit menerjemahkan salah satu lagunya. Meski lagu-lagunya banyak yang digilai banyak orang, tapi sampai sekarang saya tetap tidak mengidolakannya, apalagi mengoleksi lagu-lagunya. Saya menulis tulisan ini alasannya cuma satu, biar yang berkunjung di blogku bertambah. simple, kan? Kali ini saya memilh lagunya 1D yang judulnya  Live While We're Young. Banyak yang beranggapan, lagu ini tentang sex. Ajakan untuk berbuat sex lebih tepatnya. Anggapan mereka tidaklah salah, karena liriknya jelas banget mengarahnya kesana. Kalo ada yang ngeyel dan membela diri bahwa lagu ini bukan lagu tentang ajakan sex, tanya deh pada orang tua kita,  Get some means have sex. Simple as that. Sedikit tambahan, One Direction adalah grup penyanyi pria asal Inggris-Irlandia yang terbentuk di London pada tahun 2010. Grup ini beranggotakan Niall Horan, Zayn Malik, Liam Payne, Harry Style...

Curhat

"Sungguh terlalu, kamu berhasil membuatku tergila-gila padamu. Tak ada satu menit pun berlalu tanpa aku memikirkanmu. Beib, I love you." "Love u too... Aku kuliah jam setengah 6 lagi, beib." "Alhamdulillah hsil labnya negatif. " "Morning, beib. Rajin banget kuliah jadwal jam segitu. Btw, tes apa?" "Hehe ternyata salah lihat jadwal, besok yang kuliah jam segitu. Ntar kuliah jam setengah 11 cuman tes SGOT/SGPT." "Tes apa itu?" "Gak tau juga. Itu pokoknya kalau melebihi normal berarti kenak tipes, hepatitis dkk." "Aku cuma pernah tes darah aja, waktu banyak orang yang kena DB." "Hmmm.....semalem tidur jam berapa?" "Umm... masih sore kok, beib. Kamu ketiduran, aku juga. Bangun jam 11 malem, nonton tv. tapi gak tahu tidur lagi jam berapa." "Eeemmm... " "Mau cerita apa, beib?" "Kemaren penuh emosi tok. Kemaren kan aku muntah-muntah, makan ju...

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...