Semalam rapat di masjid berlangsung lebih ramai dari biasanya. Awalnya suasana berjalan sebagaimana rapat-rapat rutin pada umumnya. Pembahasan berpusat pada rencana melanjutkan pembangunan masjid yang sudah cukup lama terhenti. Ada pembicaraan tentang kebutuhan dana, tahapan pembangunan, hingga harapan agar bangunan yang selama ini mangkrak bisa kembali dikerjakan.
Aku sendiri datang tanpa ekspektasi apa pun. Kupikir rapat hanya akan membahas persoalan fisik masjid, lalu selesai sebagaimana biasanya. Beberapa orang menyampaikan pendapat, yang lain mendengarkan. Suasananya cukup tenang. Tidak ada perdebatan berarti.
Namun menjelang acara ditutup, tiba-tiba muncul satu usulan yang membuat arah pembicaraan berubah.
Ada seseorang yang mengangkat tangan dan mengusulkan reformasi kepengurusan takmir masjid.
Awalnya usulan itu disampaikan dengan nada yang hati-hati. Bahkan terkesan malu-malu. Ruangan sempat hening beberapa saat. Tidak banyak yang langsung menanggapi. Seolah semua orang sedang menimbang apakah topik itu layak dibahas malam itu atau tidak.
Tetapi keheningan itu tidak berlangsung lama.
Salah seorang jamaah yang dikenal cukup vokal mulai menyampaikan pendapatnya. Dari situlah suasana berubah. Satu demi satu orang mulai ikut berbicara. Yang semula hanya terdengar seperti usulan kecil perlahan berkembang menjadi pembahasan yang jauh lebih besar.
Aku yang duduk di belakang hanya mendengarkan.
Semakin lama aku menyadari bahwa yang sedang dibahas ternyata bukan sekadar pergantian pengurus takmir. Ada sesuatu yang lebih dalam dari itu. Pembicaraan mulai mengarah pada kepemimpinan masjid selama ini. Nama imam yang selama bertahun-tahun memimpin mulai disebut-sebut. Kritik bermunculan. Keluhan yang selama ini mungkin hanya beredar dalam obrolan warung dan teras rumah mendadak keluar ke ruang rapat.
Saat itulah aku mulai merasa bahwa yang sedang terjadi bukan sekadar reformasi.
Ini lebih mirip pergantian kekuasaan.
Atau kalau memakai istilah yang lebih dramatis, semacam kudeta kecil-kecilan dalam lingkup masjid.
Sejujurnya aku tidak terlalu memahami akar persoalannya. Selama ini aku memang jarang mengikuti dinamika masyarakat secara mendalam. Aku hanya mendengar selentingan-selentingan kecil dari waktu ke waktu. Kabar yang lewat sebentar lalu hilang. Tidak pernah benar-benar kucari tahu.
Baru setelah pulang dan bercerita kepada istriku, aku mulai memahami bahwa ternyata ketidakpuasan terhadap pak yai yang selama ini memimpin memang sudah lama berkembang di tengah masyarakat. Rupanya ada banyak hal yang selama ini dibicarakan orang-orang, sementara aku sama sekali tidak mengikuti perkembangannya.
Mungkin karena aku memang tidak terlalu dekat dengan siapa-siapa.
Aku juga teringat bahwa beberapa kali aku pernah diminta menjadi imam salat di masjid. Namun setiap kali tawaran itu datang, aku selalu menolaknya. Alasannya sederhana. Sejak kecil aku memang tidak pernah terlalu cocok dengan sosok pak yai tersebut. Entah karena perbedaan pandangan atau pengalaman masa lalu yang membentuk kesan tertentu di dalam diriku.
Karena itu, meskipun beberapa kali diberi kesempatan, aku tetap memilih tidak terlibat lebih jauh.
Namun yang membuatku tersenyum semalam adalah hasil akhirnya.
Setelah semua pembicaraan panjang itu, ternyata imam-imam yang kemudian muncul sebagai pengganti justru anak-anak muda. Wajah-wajah yang selama ini lebih sering kulihat berada di barisan jamaah kini mulai maju ke depan memimpin salat.
Ada sesuatu yang menarik melihat pergantian generasi terjadi secara langsung di hadapan mata.
Dan pagi tadi, saat salat Subuh, perubahan itu benar-benar terlihat.
Imam yang memimpin bukan lagi imam yang biasa kulihat selama bertahun-tahun. Sosok baru berdiri di depan jamaah. Sementara imam lama ikut berdiri di barisan makmum, sama seperti aku dan jamaah lainnya.
Tidak ada keributan.
Tidak ada pidato panjang.
Tidak ada drama.
Hanya pergantian yang terjadi begitu saja.
Saat melihat pemandangan itu, aku tiba-tiba teringat satu hal. Memang benar, dalam tradisi Islam, imam pada akhirnya berdiri di depan karena diterima oleh makmumnya. Ia memimpin karena ada kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dan ketika kepercayaan itu bergeser, kepemimpinan pun bisa berganti.
Entah kenapa, peristiwa kecil di masjid semalam membuat pikiranku melayang pada kisah-kisah sejarah Islam yang pernah kubaca. Tentang masa-masa penuh gejolak setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib, ketika persoalan kepemimpinan bukan hanya soal siapa yang berdiri di depan, tetapi juga soal penerimaan umat, dukungan masyarakat, dan perubahan zaman yang terus bergerak.
Tentu saja, apa yang terjadi di masjid kampungku tidak bisa disamakan dengan peristiwa besar dalam sejarah. Skalanya sangat berbeda.
Namun malam itu aku kembali menyadari satu hal sederhana......
bahkan di tempat yang paling akrab sekalipun, perubahan selalu mungkin terjadi. Kadang perlahan, kadang tiba-tiba. Dan sering kali, orang-orang yang tidak terlalu memperhatikan seperti diriku baru menyadarinya ketika semuanya sudah benar-benar berubah.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!