Kemarin, tanpa sengaja, kami terjebak dalam sebuah keadaan yang membuatku ingin tertawa sekaligus mengumpat pada diri sendiri.
Sebuah lorong sempit menuju loker kantor. Tidak terlalu panjang, tidak terlalu ramai, dan yang paling menyebalkan, tidak menyediakan ruang untuk mundur. Tidak ada sudut untuk bersembunyi. Tidak ada jalan memutar. Tidak ada alasan untuk tiba-tiba menghilang.
Aku datang dari arah dalam ruangan. Tujuanku sederhana, mengambil botol minum yang kutinggalkan di loker. Sedangkan dia datang dari arah sebaliknya, dari pintu depan. Mungkin tujuannya sama. Mungkin juga tidak. Aku tidak pernah benar-benar tahu urusan apa yang membawanya ke sana.
Yang jelas, kami bergerak menuju titik yang sama.
Awalnya aku belum menyadarinya. Sampai kemudian, beberapa langkah sebelum bertemu, aku melihat sosok itu.
Dia.
Dan seperti biasa, otakku langsung berubah menjadi pusat kendali darurat.
Dalam hitungan detik, pikiranku berputar mencari berbagai kemungkinan. Haruskah aku berhenti? Haruskah aku berpura-pura lupa sesuatu lalu kembali? Haruskah aku melihat ponsel agar terlihat sibuk? Atau mungkin memutar badan dan mencari jalan lain?
Sayangnya, semua pilihan itu langsung gugur.
Lorong itu terlalu sempit.
Jarak kami sudah terlalu dekat.
Dan waktu tidak memberiku kesempatan untuk melarikan diri.
Maka yang terjadi hanyalah sebuah tatapan singkat.
Sangat singkat.
Hanya sepersekian detik.
Namun anehnya, waktu terasa sedikit melambat ketika itu terjadi.
Aku melihatnya.
Dia melihatku.
Lalu secepat itu pula kami sama-sama membuang pandangan.
Seolah ada kesepakatan tak tertulis yang tidak pernah dibicarakan sebelumnya.
Ia lebih dulu sampai di depan loker. Meletakkan sesuatu. Tangannya bergerak cepat. Kepalanya sedikit menoleh lalu buru-buru memalingkan wajah ketika menyadari aku juga sedang berjalan ke arah yang sama.
Aku bahkan sempat menangkap kesan kaget di gerakannya.
Atau mungkin itu hanya imajinasiku.
Belakangan ini aku memang tidak terlalu percaya pada penafsiranku sendiri.
Kemudian ia membelakangiku.
Dan aku tidak punya pilihan selain terus berjalan ke arahnya.
Botol minumku ada di sana.
Lokerku ada di sana.
Nasib burukku juga ada di sana.
Beberapa detik berikutnya terasa sangat canggung.
Aneh sekali bagaimana seseorang yang nyaris tidak pernah berbicara denganku bisa membuatku kehilangan kemampuan untuk bersikap normal.
Aku berdiri di belakangnya.
Terlalu dekat untuk berpura-pura tidak sadar.
Terlalu jauh untuk dianggap sedang berinteraksi.
Aku ingin menyapa.
Tapi dua pesan yang tak pernah mendapat balasan itu kembali muncul di kepalaku.
Aku ingin diam.
Tapi diam juga terasa salah.
Aku benar-benar tidak tahu harus menjadi apa pada saat itu.
Beruntungnya, semesta mungkin masih sedikit berbaik hati.
Ada orang lain yang berdiri di dekat loker. Entah sedang bermain ponsel, membalas pesan, atau sekadar menghabiskan waktu. Aku tidak peduli.
Yang penting dia ada.
Kehadiran orang ketiga itu seperti penyelamat yang turun tepat waktu.
Canggung yang sempat membesar mendadak pecah.
Aku cepat-cepat mengambil botol minumku.
Tidak berlama-lama.
Tidak menoleh.
Tidak mencari alasan tambahan untuk tetap berada di sana.
Aku langsung berbalik dan kembali ke dalam ruangan.
Seolah-olah jika aku bergerak cukup cepat, jantungku akan berhenti berisik.
Namun cerita rupanya belum selesai.
Beberapa saat kemudian, ketika ia masuk ke dalam ruangan, aku tanpa sengaja melihatnya lagi.
Dan di situlah masalah baru muncul.
Hari itu ia mengenakan pakaian berwarna putih.
Sederhana.
Tidak mencolok.
Bahkan warna itu adalah warna yang sering kupakai sendiri.
Namun entah kenapa, hari itu warna putih terlihat berbeda ketika dikenakan olehnya.
Lebih terang.
Lebih hidup.
Seolah warna itu memang menunggunya untuk dipakai.
Aku sampai kesal pada diriku sendiri karena menyadarinya.
Bukankah beberapa waktu terakhir aku berusaha tidak terlalu memerhatikannya?
Bukankah aku sudah berjanji untuk sedikit menjaga jarak dari segala hal yang berhubungan dengannya?
Lalu kenapa aku masih sempat memperhatikan warna bajunya?
Kenapa aku masih sempat berpikir bahwa ia terlihat begitu cantik hari itu?
Dan kenapa pertanyaan itu justru bertahan lebih lama daripada tatapan singkat kami di lorong tadi?
Mungkin karena beberapa perasaan memang tidak tumbuh dari percakapan.
Tidak dari sentuhan.
Tidak pula dari kedekatan.
Kadang ia hanya tumbuh dari hal-hal kecil yang bahkan tidak masuk akal.
Sebuah lorong sempit.
Tatapan yang buru-buru dihindari.
Botol minum yang diambil tergesa-gesa.
Dan seseorang yang tiba-tiba terlihat terlalu indah dalam warna putih.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!