Pada akhirnya, aku harus mengakui satu hal yang selama ini berusaha kututupi dengan berbagai alasan.
Aku memang menyukainya.
Sesederhana itu.
Sesulit itu juga.
Karena ketika seseorang mulai menempati ruang tertentu dalam hidupmu, bahkan tanpa status dan tanpa kepastian, keberadaannya perlahan berubah menjadi sesuatu yang ingin kamu ketahui setiap hari.
Tidak harus bertemu.
Tidak harus berbicara.
Kadang cukup tahu bahwa dia baik-baik saja.
Cukup tahu bahwa hari ini dia ada di suatu tempat, menjalani harinya seperti biasa.
Aneh memang.
Bagaimana mungkin seseorang yang nyaris tidak memiliki hubungan apa-apa denganku bisa membuatku memikirkan hal-hal sekecil itu?
Tapi begitulah adanya.
Dan minggu ini tampaknya akan menjadi minggu yang cukup berat.
Bukan karena pekerjaan.
Bukan karena aktivitas yang menumpuk.
Justru karena aktivitas itulah.
Aku akan lebih banyak berada di luar. Jadwal sedang padat. Ada banyak urusan yang harus diselesaikan. Banyak tempat yang harus didatangi. Banyak orang yang harus ditemui.
Yang artinya satu hal.
Kemungkinan untuk bertemu dengannya akan semakin kecil.
Biasanya aku masih bisa berharap pada kebetulan.
Berpapasan di lorong.
Melihatnya dari sudut ruangan.
Menyadari keberadaannya dari kejauhan.
Atau sekadar mengetahui bahwa dia ada di tempat yang sama.
Namun minggu ini bahkan kemungkinan-kemungkinan kecil itu terasa menjauh.
Dan lucunya, justru ketika kesempatan bertemu semakin kecil, aku baru sadar betapa seringnya aku menggantungkan rasa tenang pada keberadaannya.
Aku jadi bingung.
Kalau tidak bertemu, bagaimana aku tahu kabarnya?
Pertanyaan itu terdengar berlebihan.
Aku tahu.
Bahkan aku sendiri kadang menertawakan diriku.
Memangnya siapa aku?
Bukan keluarganya.
Bukan sahabatnya.
Bukan orang yang punya hak untuk bertanya mengapa hari ini ia tidak muncul.
Tapi perasaan sering kali tidak peduli pada logika seperti itu.
Perasaan hanya tahu bahwa ia ingin tahu.
Dan ketika tidak mendapatkan apa yang ingin diketahuinya, ia mulai gelisah sendiri.
Karena itulah kadang aku melakukan hal-hal yang sedikit memalukan.
Bukan menghubunginya.
Bukan juga mencari-cari secara langsung.
Aku hanya sesekali berakhir melihat jejak-jejak kecil yang mungkin berhubungan dengannya.
Kadang melalui orang lain.
Kadang melalui potongan cerita yang tidak sengaja kudengar.
Kadang melalui status seseorang yang kebetulan berada di tempat yang sama dengannya.
Seolah aku sedang menyusun puzzle dari kepingan yang bahkan bukan milikku.
Masalahnya, aku juga tidak mengenal lingkaran pertemanannya.
Aku tidak tahu siapa yang dekat dengannya.
Aku tidak tahu siapa yang sering bersamanya.
Aku bahkan tidak tahu harus melihat ke mana jika suatu saat benar-benar ingin mengetahui kabarnya.
Yang kutahu hanya satu orang.
Satu teman yang pernah beberapa kali kulihat berada di dekatnya.
Itu pun sepertinya bukan teman khusus.
Orang itu akrab dengan hampir semua orang.
Jadi sulit memastikan apa pun dari sana.
Dan mungkin memang seharusnya begitu.
Mungkin hidup sedang mengingatkanku bahwa aku tidak seharusnya tahu terlalu banyak.
Bahwa ada batas yang harus dijaga.
Bahwa tidak semua rasa penasaran harus mendapatkan jawaban.
Tetapi tetap saja, ketika malam mulai sepi dan pekerjaan hari itu selesai, pikiranku sering kembali ke tempat yang sama.
Apakah hari ini dia baik-baik saja?
Apakah dia masih datang seperti biasanya?
Apakah dia sedang tertawa bersama teman-temannya?
Apakah dia juga sibuk seperti aku?
Atau mungkin ia sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang diam-diam memikirkan semua hal itu?
Aku tidak tahu.
Dan mungkin memang tidak perlu tahu.
Namun ada kalanya perasaan tidak mencari kepastian besar.
Ia hanya mencari kabar kecil.
Sekecil mengetahui bahwa seseorang yang disukainya masih menjalani hari dengan baik.
Dan hari ini, kurasa aku harus belajar menerima satu hal yang sederhana......
Kadang merindukan seseorang juga berarti belajar hidup tanpa selalu mengetahui kabarnya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!