Skip to main content

Menjadi Sangat Berani dalam Imajinasi


Kalau biasanya dia yang datang terlambat, kali ini justru aku yang terlambat.

Bukan karena sengaja ingin membalas perlakuannya. Bukan juga karena ingin terlihat tidak peduli. Justru alasannya jauh lebih sederhana dan jauh lebih manusiawi, aku kelelahan. Semalaman aku tidak benar-benar tidur. Setiap kali berhasil terlelap, mimpi buruk datang seperti tamu yang tidak diundang. Membuatku terbangun berkali-kali dengan dada sesak dan pikiran yang masih dipenuhi sisa-sisa kecemasan yang bahkan tidak bisa kujelaskan asalnya dari mana.

Akhirnya, sebelum berangkat, aku memutuskan untuk tidur sebentar.

Hanya sebentar, kataku pada diri sendiri.

Ternyata cukup lama untuk membuat jadwalku berantakan.

Di perjalanan, aku sudah bisa menebak konsekuensinya. Akan ada banyak hal yang terlewat. Banyak momen yang biasanya tanpa sadar kutunggu. Banyak kesempatan untuk sekadar melihatnya datang, melihat bagaimana ia memulai harinya, atau menangkap tingkah-tingkah kecil yang sering kali menjadi bahan pikiranku hingga malam.

Dan benar saja.

Ketika aku tiba, rasanya seperti masuk ke tengah cerita yang sudah berjalan beberapa bab tanpa kehadiranku.

Aku kehilangan bagian awalnya.

Kehilangan banyak adegan yang biasanya berhasil kurekam diam-diam dalam ingatan.

Anehnya, aku tidak terlalu kecewa.

Karena ternyata hari itu masih menyisakan hal-hal lain yang tidak kalah membingungkan.

Belakangan ini aku merasa dia semakin berani menunjukkan dirinya. Sulit menjelaskan maksudnya. Bukan sesuatu yang bisa ditulis sebagai fakta, melainkan lebih seperti kesan yang tertinggal setelah melihatnya. Ada rasa percaya diri yang semakin kentara. Cara berdiri yang lebih tegak. Cara bergerak yang lebih tenang. Cara menempatkan diri dalam ruangan yang seolah tahu persis ke mana perhatian orang-orang akan tertuju.

Dan aku tidak bisa membohongi diri sendiri.

Aku memperhatikannya.

Kemarin aku melihatnya melakukan itu.

Hari ini juga.

Seolah ada kesadaran penuh bahwa dirinya sedang diperhatikan.

Atau mungkin hanya aku yang terlalu banyak memperhatikan.

Aku tidak tahu.

Yang kutahu, beberapa kali aku mendapati diriku menatap lebih lama dari yang seharusnya. Tidak sampai berani menatap langsung terlalu lama, tentu saja. Aku masih pengecut dalam urusan itu. Tapi cukup lama untuk menangkap detail-detail kecil yang biasanya luput.

Dan entah kenapa, ada kepuasan aneh ketika berhasil melihatnya lebih lama dari biasanya.

Seperti seseorang yang akhirnya menemukan potongan puzzle yang selama ini hilang.

Meski setelah itu tetap tidak mengerti gambar besarnya.

Di sisi lain, ada hal lain yang juga mulai menggangguku.

Aku merasa dia beberapa kali menggunakan orang lain sebagai bagian dari permainannya.

Bukan secara terang-terangan. Tidak pernah sejelas itu.

Tapi ada momen-momen ketika ia tampak sengaja menciptakan situasi tertentu melalui orang lain. Mendekat melalui lingkaran yang lebih aman. Berada di sekitar tanpa harus benar-benar berhadapan langsung.

Kadang aku bertanya-tanya apakah itu memang sengaja atau hanya pikiranku yang kembali bekerja terlalu keras.

Karena semakin hari aku semakin sadar bahwa kisah ini dibangun di atas tafsir.

Tafsir atas gerakan.

Tafsir atas tatapan.

Tafsir atas kebetulan-kebetulan yang mungkin memang hanya kebetulan.

Meski begitu, malam ini aku justru tertawa sendiri.

Karena muncul pikiran yang cukup konyol.

Kalau memang dia menggunakan orang lain sebagai bagian dari strateginya, mungkin aku juga bisa melakukan hal yang sama.

Bukan untuk membalas.

Bukan untuk membuatnya cemburu.

Tapi sekadar untuk mengacaukan pola yang selama ini terlalu mudah ditebak.

Namun bahkan ketika ide itu muncul, aku sudah tahu kemungkinan akhirnya.

Aku akan menyusun berbagai skenario sebelum tidur.

Membayangkan berbagai kemungkinan.

Merancang kalimat-kalimat yang terdengar cerdas di kepala.

Lalu besok, ketika benar-benar berhadapan dengannya, semuanya akan hilang begitu saja.

Karena sejauh ini, itulah bakat terbaikku.

Menjadi sangat berani dalam imajinasi, lalu berubah menjadi orang paling kikuk ketika kenyataan benar-benar datang menghampiri.

Comments

Popular posts from this blog

One Direction – Live While We're Young (Arti Lagu)

One Direction atau 1D sekarang lagi booming-boomingnya. Sepertinya saya gak salah jika mau sedikit menerjemahkan salah satu lagunya. Meski lagu-lagunya banyak yang digilai banyak orang, tapi sampai sekarang saya tetap tidak mengidolakannya, apalagi mengoleksi lagu-lagunya. Saya menulis tulisan ini alasannya cuma satu, biar yang berkunjung di blogku bertambah. simple, kan? Kali ini saya memilh lagunya 1D yang judulnya  Live While We're Young. Banyak yang beranggapan, lagu ini tentang sex. Ajakan untuk berbuat sex lebih tepatnya. Anggapan mereka tidaklah salah, karena liriknya jelas banget mengarahnya kesana. Kalo ada yang ngeyel dan membela diri bahwa lagu ini bukan lagu tentang ajakan sex, tanya deh pada orang tua kita,  Get some means have sex. Simple as that. Sedikit tambahan, One Direction adalah grup penyanyi pria asal Inggris-Irlandia yang terbentuk di London pada tahun 2010. Grup ini beranggotakan Niall Horan, Zayn Malik, Liam Payne, Harry Style...

Curhat

"Sungguh terlalu, kamu berhasil membuatku tergila-gila padamu. Tak ada satu menit pun berlalu tanpa aku memikirkanmu. Beib, I love you." "Love u too... Aku kuliah jam setengah 6 lagi, beib." "Alhamdulillah hsil labnya negatif. " "Morning, beib. Rajin banget kuliah jadwal jam segitu. Btw, tes apa?" "Hehe ternyata salah lihat jadwal, besok yang kuliah jam segitu. Ntar kuliah jam setengah 11 cuman tes SGOT/SGPT." "Tes apa itu?" "Gak tau juga. Itu pokoknya kalau melebihi normal berarti kenak tipes, hepatitis dkk." "Aku cuma pernah tes darah aja, waktu banyak orang yang kena DB." "Hmmm.....semalem tidur jam berapa?" "Umm... masih sore kok, beib. Kamu ketiduran, aku juga. Bangun jam 11 malem, nonton tv. tapi gak tahu tidur lagi jam berapa." "Eeemmm... " "Mau cerita apa, beib?" "Kemaren penuh emosi tok. Kemaren kan aku muntah-muntah, makan ju...

My Regrets

Hmmm... malam ini seperti malam sebelumnya, aku teringat akan kebersamaanku bersamanya. Ingat hari dimana pertama kali dia nyatakan cinta, ingat saat pertama kali kita setuju untuk menjalani hubungan bersama, menemani langkahku, mendampingi hidupku, mengisi hatiku. Masih sama seperti malam-malam sebelumnya, dengan setumpuk rindu yang kutahu takkan pernah berubah untuknya. Hmmm.... beberapa hari ini memang tak ada percakapan diantara kita. Aku kesal, dia terdiam. Aku dalam amarah, dia semakin tak terjamah. Andai saja kita saling terbuka. Andai kita mau jujur dengan hati kita. Mungkin kita tak akan seperti ini. Membisu, tak ada kata yang mampu mencairkan hubungan yang membeku.  Hmmm... Kalau saja perasaanku lebih kuat dari pada keegoisanku. Mungkin aku kan mengerti apa maunya. Ketidak pahamanku atas maunya membuatku menggila. Membuatku sesak. Membuatku galau berkepanjangan. Dan inilah yang membuatku sadar diri, kalau jauh darinya buatku merasa ada yang hilang. Ada sesuatu ya...