Pernahkah kamu merasa menjadi tokoh dalam fantasi seseorang yang bahkan tidak benar-benar kamu kenal? Bukan seseorang yang dekat, bukan pula orang yang setiap hari mengobrol denganmu. Hanya seseorang yang sesekali berpapasan di lorong, bertemu sekilas di ruang yang sama, lalu kembali menjalani hidup masing-masing seolah tak pernah terjadi apa-apa. Pertanyaan itu beberapa kali muncul di kepalaku, dan entah kenapa, setiap kali muncul, selalu meninggalkan kebingungan yang sama.
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyadarinya. Awalnya kupikir semua itu hanya kebetulan. Tatapan mata yang terlalu lama. Gerakan tubuh yang terasa dibuat-buat ketika aku lewat. Sikap yang berubah hanya ketika aku berada dalam radius pandangnya. Aku mencoba menepis semuanya. Barangkali aku hanya terlalu peka. Barangkali aku memang sedang mencari-cari makna pada sesuatu yang sebenarnya biasa saja.
Namun semakin lama, semakin sulit bagiku menganggap semuanya sebagai kebetulan.
Beberapa kali aku melihat gestur yang bagiku terasa terlalu intim untuk dilakukan kepada seseorang yang bahkan belum pernah diajak berbincang. Bukan tindakan yang terang-terangan atau vulgar. Justru sebaliknya. Sangat halus. Sangat singkat. Hampir seperti bisa disangkal kapan saja. Cara berdiri yang sengaja dipamerkan, gerakan merapikan pakaian sambil memastikan aku sedang melihat ke arahnya, tatapan yang turun-naik sekejap sebelum buru-buru dialihkan, hingga ekspresi yang seolah sedang menguji apakah reaksiku sesuai dengan harapannya.
Semuanya berlangsung hanya beberapa detik.
Dan anehnya, justru karena berlangsung begitu singkat, semuanya menjadi sulit dijelaskan kepada orang lain.
Kalau aku menceritakannya, mungkin orang akan berkata aku terlalu banyak berimajinasi. Kalau aku diam saja, pikiranku terus mengulang adegan-adegan itu seperti film pendek yang diputar tanpa henti. Aku terjebak di antara dua kemungkinan yang sama-sama melelahkan: apakah aku benar-benar menangkap sesuatu yang memang sedang terjadi, ataukah aku hanya sedang menyusun cerita dari potongan-potongan kejadian yang sebenarnya tidak saling berhubungan?
Yang membuatku semakin bingung, pengalaman seperti ini ternyata bukan hanya sekali.
Orangnya berbeda.
Tempatnya berbeda.
Tahunnya pun berbeda.
Namun pola yang kurasakan nyaris sama.
Selalu ada seseorang yang tiba-tiba tampak berusaha menghadirkan kesan sensual secara sangat samar ketika aku berada di dekatnya. Tidak pernah sampai menyentuh. Tidak pernah sampai mengucapkan sesuatu yang bisa disebut sebagai rayuan. Hanya serangkaian gestur yang membuatku bertanya-tanya apakah aku sedang menjadi sasaran perhatian yang mengandung ketertarikan fisik, atau hanya kebetulan yang terus berulang.
Mungkin karena itulah aku mulai bertanya kepada diriku sendiri.
Apakah aku benar-benar sedang menjadi objek fantasi mereka?
Atau justru aku sedang memproyeksikan rasa penasaranku sendiri kepada mereka?
Pertanyaan itu tidak pernah menemukan jawaban yang benar-benar memuaskan.
Aku tidak bisa membaca isi kepala orang. Aku hanya bisa melihat perilaku dari luar. Dan perilaku, betapapun jelasnya menurutku, tetap bisa memiliki seratus makna yang berbeda. Apa yang bagiku tampak seperti usaha menggoda, bisa jadi bagi orang lain hanyalah kebiasaan yang tidak pernah ia sadari. Apa yang kurasakan sebagai sinyal, mungkin sebenarnya tidak pernah dimaksudkan sebagai sinyal.
Di situlah letak kebingungannya.
Aku hidup di antara kemungkinan-kemungkinan.
Kadang aku yakin ada sesuatu yang memang sedang disampaikan lewat bahasa tubuh. Kadang, setelah malam berganti pagi, keyakinan itu runtuh begitu saja. Aku mulai menertawakan diriku sendiri. "Jangan-jangan kamu memang terlalu banyak berpikir."
Namun beberapa hari kemudian, kejadian serupa kembali terulang.
Lalu aku kembali ragu.
Mungkin memang ada orang yang tertarik.
Mungkin juga tidak.
Yang paling melelahkan ternyata bukan mencari jawabannya, melainkan hidup dalam ruang abu-abu itu. Ruang ketika tidak ada yang cukup jelas untuk diyakini, tetapi juga tidak cukup samar untuk dilupakan. Dan di sanalah aku masih berdiri sampai hari ini, mencoba membedakan antara kenyataan, harapan, dan segala kemungkinan yang diam-diam tumbuh di antaranya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!