Skip to main content

Menunggu Siapa yang Akhirnya Lebih Dulu Kehabisan Alasan untuk Berpura-pura Tidak Punya Perasaan


Mari kita bercerita lagi tentang sore kemarin.

Bukan sore yang sebelumnya sudah kuceritakan panjang lebar. Ini sore yang berbeda, meski jika dipikir-pikir, latarnya hampir sama. Tempatnya sama. Kursi-kursi dekat pintu masuk itu lagi. Langit yang mulai kehilangan warna juga sama. Orang-orang yang bersiap pulang pun sama.

Hanya ada satu hal yang berbeda.

Kali ini teman-temannya masih ada.

Masih duduk di sana. Masih mengobrol santai. Bahkan sampai aku pulang pun mereka belum benar-benar bubar. Mereka seperti membentuk lingkaran kecil yang membuat suasana sore terasa hidup, sementara aku tetap menjadi diriku sendiri, seseorang yang berdiri sedikit di luar lingkaran, mengamati dunia dari kejauhan.

Tapi sebenarnya cerita ini bukan tentang mereka.

Cerita ini tentang dia.

Tentang seseorang yang, entah sengaja atau tidak, selalu berhasil membuatku memikirkan hal-hal yang seharusnya sederhana menjadi rumit.

Aku memperhatikannya dari jauh.

Tidak terus-menerus.

Tidak sampai mengabaikan pekerjaanku.

Hanya sesekali, ketika pandangan sedang tidak punya tujuan dan kebetulan jatuh ke arahnya.

Dan seperti biasanya, aku menemukan sesuatu yang membuatku tersenyum sendiri.

Dia lagi-lagi terlihat berusaha berada dalam jangkauan pandanganku.

Atau mungkin aku hanya terlalu percaya diri.

Aku juga tidak tahu.

Masalahnya, semakin lama aku mengenalnya, semakin aku hafal pola-pola kecil yang ia miliki.

Aku tahu bagaimana ia bergerak ketika santai.

Aku tahu bagaimana ia bersikap ketika benar-benar tidak peduli pada keadaan sekitar.

Aku juga mulai tahu bagaimana caranya berpura-pura biasa saja.

Dan justru karena itulah aku sering merasa lucu sendiri.

Karena beberapa hal yang ia lakukan terasa seperti seseorang yang sedang berusaha terlihat natural, padahal terlalu sadar bahwa dirinya sedang dilihat.

Aku tidak menyalahkannya.

Kalau dipikir-pikir, aku juga sama.

Sebagai orang yang lebih nyaman menyimpan semuanya di dalam kepala, aku terbiasa membuat skenario sebelum menghadapi situasi sosial. Bahkan percakapan sederhana pun kadang sudah kulatih berkali-kali di dalam pikiran sebelum benar-benar terjadi.

Bukan karena ingin memanipulasi keadaan.

Hanya karena aku tidak pandai menghadapi ketidaksiapan.

Aku membutuhkan naskah.

Aku membutuhkan kemungkinan-kemungkinan cadangan.

Aku membutuhkan jalan keluar jika keadaan tiba-tiba menjadi canggung.

Mungkin karena itulah aku mudah mengenali ketika orang lain melakukan hal yang sama.

Dan dia...

Entahlah.

Kadang aku merasa sedang melihat seseorang yang juga sibuk menyusun naskahnya sendiri.

Ada pola-pola yang terasa terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Ada gerakan-gerakan kecil yang seolah ingin mengundang perhatian tanpa benar-benar meminta perhatian.

Ada usaha untuk terlihat santai yang justru membuat semuanya terasa semakin kentara.

Lucunya, aku tidak lagi terlalu sibuk mencari arti dari semua itu.

Dulu mungkin iya.

Dulu aku akan menghabiskan malam hanya untuk menganalisis satu tatapan, satu langkah, atau satu kebetulan kecil.

Sekarang aku mulai lelah.

Atau mungkin lebih tepatnya, aku mulai menikmati kebingungan itu sendiri.

Karena pada akhirnya, apa pun arti dari semua tingkah aneh itu, satu hal tetap tidak berubah.

Aku menyukainya.

Dan itu bahkan sudah terjadi jauh sebelum semua dugaan ini muncul.

Jauh sebelum aku mulai memperhatikan pola-polanya.

Jauh sebelum aku mulai mengingat kebiasaannya.

Jauh sebelum aku mengenal suara, langkah, atau cara dia berada di sebuah ruangan.

Aku sudah lebih dulu jatuh hati.

Mungkin karena senyumnya.

Mungkin karena tatapannya.

Mungkin karena sesuatu yang bahkan tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata.

Jadi sebenarnya semua pertunjukan kecil yang kulihat sekarang bukanlah penyebab aku menyukainya.

Aku sudah sampai di titik itu sejak lama.

Karena itulah aku sering tertawa sendiri.

Kalau memang tujuannya untuk membuatku memperhatikan, rasanya sudah terlambat.

Aku sudah melakukannya sejak awal.

Yang membuatku bertahan sekarang bukan lagi rasa penasaran apakah aku menyukainya atau tidak.

Jawaban itu sudah jelas.

Yang belum jelas justru bagian lain.

Apakah semua ini hanya hidup di dalam kepalaku?

Apakah aku sedang membaca cerita yang sebenarnya tidak pernah ditulis?

Ataukah memang ada seseorang di seberang sana yang sama bingungnya denganku, sama takutnya untuk memulai, dan sama keras kepalanya untuk mengaku?

Entahlah.

Untuk saat ini aku tidak ingin memaksakan jawaban.

Biarlah waktu yang bekerja.

Biarlah semua skenario itu dimainkan sampai selesai.

Aku tidak sedang terburu-buru.

Aku hanya duduk di kursi penonton, menikmati setiap adegan ganjil yang terus berulang, sambil menunggu siapa yang akhirnya lebih dulu kehabisan alasan untuk berpura-pura tidak punya perasaan.

Comments

Popular posts from this blog

One Direction – Live While We're Young (Arti Lagu)

One Direction atau 1D sekarang lagi booming-boomingnya. Sepertinya saya gak salah jika mau sedikit menerjemahkan salah satu lagunya. Meski lagu-lagunya banyak yang digilai banyak orang, tapi sampai sekarang saya tetap tidak mengidolakannya, apalagi mengoleksi lagu-lagunya. Saya menulis tulisan ini alasannya cuma satu, biar yang berkunjung di blogku bertambah. simple, kan? Kali ini saya memilh lagunya 1D yang judulnya  Live While We're Young. Banyak yang beranggapan, lagu ini tentang sex. Ajakan untuk berbuat sex lebih tepatnya. Anggapan mereka tidaklah salah, karena liriknya jelas banget mengarahnya kesana. Kalo ada yang ngeyel dan membela diri bahwa lagu ini bukan lagu tentang ajakan sex, tanya deh pada orang tua kita,  Get some means have sex. Simple as that. Sedikit tambahan, One Direction adalah grup penyanyi pria asal Inggris-Irlandia yang terbentuk di London pada tahun 2010. Grup ini beranggotakan Niall Horan, Zayn Malik, Liam Payne, Harry Style...

Curhat

"Sungguh terlalu, kamu berhasil membuatku tergila-gila padamu. Tak ada satu menit pun berlalu tanpa aku memikirkanmu. Beib, I love you." "Love u too... Aku kuliah jam setengah 6 lagi, beib." "Alhamdulillah hsil labnya negatif. " "Morning, beib. Rajin banget kuliah jadwal jam segitu. Btw, tes apa?" "Hehe ternyata salah lihat jadwal, besok yang kuliah jam segitu. Ntar kuliah jam setengah 11 cuman tes SGOT/SGPT." "Tes apa itu?" "Gak tau juga. Itu pokoknya kalau melebihi normal berarti kenak tipes, hepatitis dkk." "Aku cuma pernah tes darah aja, waktu banyak orang yang kena DB." "Hmmm.....semalem tidur jam berapa?" "Umm... masih sore kok, beib. Kamu ketiduran, aku juga. Bangun jam 11 malem, nonton tv. tapi gak tahu tidur lagi jam berapa." "Eeemmm... " "Mau cerita apa, beib?" "Kemaren penuh emosi tok. Kemaren kan aku muntah-muntah, makan ju...

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...