Ada banyak kesempatan hari itu.
Mungkin terlalu banyak, sampai-sampai aku sendiri tidak punya alasan yang cukup kuat untuk mengatakan bahwa keadaan tidak mendukung. Sebab kenyataannya justru sebaliknya. Kami berada dalam jarak yang dekat. Sangat dekat, bahkan. Beberapa kali aku menyadari keberadaannya hanya beberapa langkah dariku. Tidak perlu mencari ke sudut ruangan. Tidak perlu melongok ke pintu masuk. Tidak perlu menebak-nebak apakah hari itu ia datang atau tidak. Ia ada di sana, berada dalam lingkaran aktivitas yang sama denganku.
Dan seperti hari-hari yang lain, atau mungkin hanya karena aku sudah terlalu terbiasa memperhatikannya, aku merasa ia beberapa kali berusaha masuk ke dalam radar penglihatanku.
Bukan dengan cara yang mencolok.
Justru dengan cara-cara yang sulit dibuktikan.
Muncul di tempat yang sama.
Melintas pada waktu yang aneh.
Berdiri sedikit lebih lama dari yang diperlukan.
Atau mungkin semua itu hanyalah kebetulan yang terus-menerus kuberi makna.
Aku tidak tahu.
Aku sungguh tidak tahu lagi.
Yang kutahu hanya satu: ada banyak momen yang bisa kusimpan hari itu.
Momen-momen kecil yang biasanya cukup untuk membuatku bertahan beberapa hari ke depan. Momen yang nantinya akan kuputar ulang saat malam datang dan pikiranku mulai berjalan ke mana-mana. Momen yang akan kususun menjadi seratus kemungkinan berbeda sebelum akhirnya kusadari bahwa aku tetap tidak punya jawaban apa pun.
Dan di antara semua kesempatan itu, sebenarnya ada sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Aku bisa menyapanya.
Hanya itu.
Satu sapaan sederhana yang mungkin selesai dalam hitungan detik.
Satu kalimat ringan yang mungkin tidak akan mengubah apa pun.
Atau mungkin justru mengubah segalanya.
Aku tidak pernah tahu.
Karena lagi-lagi aku memilih diam.
Bukan karena tidak mau.
Bukan karena tidak ingin.
Justru karena terlalu ingin.
Ada perang yang tidak pernah benar-benar selesai di dalam kepalaku.
Perang yang selalu muncul setiap kali kesempatan itu datang.
Satu sisi diriku berkata bahwa aku seharusnya berani. Bahwa tidak ada yang akan berubah jika aku terus menunggu. Bahwa semua kebingungan ini mungkin bisa berakhir hanya dengan satu langkah kecil.
Namun sisi yang lain selalu lebih keras.
Sisi yang masih mengingat dua pesan yang tidak pernah mendapatkan jawaban.
Sisi yang merasa sudah mencoba lebih dulu dan tidak menemukan jalan pulang selain diam.
Sisi yang diam-diam menganggap dirinya sudah ditolak meski tak pernah mendengar kata penolakan secara langsung.
Dan mungkin memang di situlah masalahnya.
Penolakan yang jelas kadang lebih mudah diterima daripada penolakan yang hanya hidup di dalam dugaan.
Karena dugaan tidak pernah benar-benar selesai.
Ia terus tumbuh.
Terus berkembang.
Terus mencari bukti untuk menguatkan dirinya sendiri.
Maka setiap kali aku hampir memberanikan diri untuk menyapa, perasaan itu datang lagi.
Bagaimana jika aku salah selama ini?
Bagaimana jika semua yang kulihat hanyalah cara pikiranku menghibur diri sendiri?
Bagaimana jika setelah semua ini, aku tetap hanya seseorang yang kebetulan berada dalam ruang yang sama dengannya?
Aku tidak yakin sanggup menanggung jawaban itu.
Bukan karena aku tidak siap kehilangan harapan.
Melainkan karena aku tidak yakin bisa menanggung rasa malu jika ternyata aku memang salah.
Aku pernah berada di tempat itu sebelumnya.
Dan anehnya, luka-luka lama selalu punya kemampuan untuk membuat seseorang ragu melangkah, bahkan ketika jalan di depannya terlihat aman.
Jadi aku memilih menunggu.
Pilihan yang mungkin terdengar pasif, tetapi nyatanya melelahkan.
Karena menunggu bukan berarti tenang.
Menunggu bukan berarti tidak berharap.
Menunggu justru membuatku memperhatikan lebih banyak hal.
Setiap gerakan.
Setiap tatapan.
Setiap usaha yang menurutku tampak seperti pencarian perhatian.
Aku menyaksikan semuanya dari jauh, seperti penonton yang terlalu takut naik ke atas panggung.
Kadang aku membenci diriku sendiri karena itu.
Kadang aku memakluminya.
Sebab jauh di dalam hati, aku masih percaya bahwa jika memang ada sesuatu yang ingin disampaikan, suatu hari nanti keberanian itu harus datang dari salah satu pihak.
Dan untuk saat ini, aku tahu aku belum cukup berani.
Maka aku tetap berdiri di tempat yang sama.
Mengamati.
Menunggu.
Menyimpan setiap momen ke dalam ingatan.
Sambil diam-diam berharap bahwa suatu hari nanti, yang lebih dulu memilih untuk berbicara bukanlah aku.
Melainkan dirinya. Karena sampai hari ini, aku masih terjebak di antara dua keyakinan yang saling bertentangan, merasa diinginkan, dan merasa sudah ditolak. Dan di antara keduanya, aku hanya bisa melakukan satu hal yang paling kukenal, menunggu.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!