Skip to main content

Mungkin Aku Sedang Cemburu


Jangan-jangan memang ini yang namanya cemburu.

Aku baru menyadarinya malam ini, setelah semua kejadian hari ini selesai dan pikiranku mulai memutar ulang setiap adegan yang sempat kulewati. Karena saat semuanya berlangsung, aku terus meyakinkan diri bahwa aku baik-baik saja. Aku berkali-kali berkata pada diriku sendiri bahwa aku tidak peduli. Aku tidak berhak peduli. Aku juga tidak ingin peduli.

Tapi tubuh kadang lebih jujur daripada pikiran.

Dan ada sesuatu yang terasa tidak nyaman sejak siang tadi.

Awalnya aku tidak mengerti dari mana asalnya.

Aku melihatnya berbicara dengan seseorang. Salah satu orang yang cukup populer di kantor. Mereka tampak akrab. Bercakap-cakap dengan santai. Tertawa. Bertahan dalam percakapan yang cukup lama hingga tanpa sadar aku beberapa kali memastikan apakah mereka sudah selesai atau belum.

Lucunya, saat itu aku tidak merasa sedang memperhatikan mereka.

Aku bahkan masih bisa bekerja seperti biasa.

Masih bisa melakukan aktivitasku sendiri.

Masih bisa berpura-pura bahwa pemandangan itu tidak berarti apa-apa.

Tetapi sekarang, ketika semuanya sudah berlalu, aku mulai memahami bahwa mungkin ada sesuatu yang tertinggal di dadaku sejak saat itu.

Sesuatu yang tidak nyaman.

Sesuatu yang sedikit perih.

Bukan karena mereka berbicara.

Bukan karena mereka terlihat akrab.

Melainkan karena ada pertanyaan yang diam-diam muncul di belakang semua itu.

Kenapa dia bisa seperti itu dengan orang lain, tapi tidak denganku?

Pertanyaan sederhana.

Tapi ternyata cukup tajam.

Karena aku tahu bagaimana rasanya berdiri di sisi lain.

Menunggu sapaan yang tidak pernah datang.

Menyusun kalimat yang tidak pernah terucap.

Mengirim pesan yang tidak pernah dibalas.

Lalu melihatnya berbicara dengan mudah kepada orang lain.

Mungkin di situlah letak sakitnya.

Bukan pada orang ketiganya.

Bukan pada percakapannya.

Melainkan pada kenyataan bahwa sesuatu yang tampak mudah bagi orang lain terasa begitu sulit ketika menyangkut diriku.

Dan ketika kesempatan datang sore tadi, kesempatan yang sebenarnya sudah lama kuharapkan, aku mendadak kehilangan keinginan untuk melangkah.

Aku bisa saja mendekat.

Aku bisa saja menyapa.

Aku bisa saja menjalankan salah satu dari puluhan skenario yang selama ini kusimpan di kepala.

Tapi luka kecil itu masih ada.

Pesan yang tidak dibalas.

Akun yang tak lagi bisa menjangkaunya.

Perasaan ditolak yang meskipun tidak pernah diucapkan secara langsung, tetap terasa nyata.

Aku tahu ada orang yang mungkin akan berkata bahwa semuanya belum tentu seperti yang kubayangkan.

Bahwa bisa saja ada alasan lain.

Bahwa bisa saja aku salah paham.

Dan mungkin mereka benar.

Tapi hati jarang bekerja berdasarkan kemungkinan.

Hati bekerja berdasarkan apa yang dirasakan.

Dan yang kurasakan adalah ini: aku pernah mencoba mendekat, lalu tidak menemukan sambutan.

Karena itulah kakiku berhenti.

Karena itulah aku memilih diam.

Bukan karena aku tidak ingin lagi.

Justru mungkin karena masih ingin.

Terlalu ingin, sampai-sampai aku tidak sanggup mengambil risiko ditolak untuk kedua kalinya.

Malam ini aku akhirnya memahami satu hal.

Mungkin aku memang sedang cemburu.

Bukan cemburu yang besar dan meledak-ledak.

Bukan cemburu yang membuat orang marah atau menuntut.

Melainkan cemburu yang sunyi.

Cemburu yang hanya berupa rasa tidak enak di dada.

Rasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar dimiliki.

Dan di tengah semua itu, ada satu kalimat yang terus berulang dalam kepalaku.

Kalimat yang mungkin lebih merupakan nasihat untuk diriku sendiri daripada kesimpulan tentang dirinya.

Ketika seseorang terasa menjauh atau menghindar, jangan terus memaksa diri untuk mendekat.

Jangan mengganggu ketenangannya hanya karena kita belum bisa menenangkan hati sendiri.

Setulus apa pun niatmu, tidak semua pintu harus diketuk berkali-kali.

Mungkin itu yang sedang kucoba pelajari.

Bahwa menyukai seseorang tidak selalu berarti harus memiliki keberanian untuk mengejarnya sampai akhir.

Kadang, menyukai seseorang juga berarti menerima bahwa ia mungkin tidak sedang berjalan ke arah yang sama.

Dan jika memang begitu, tugas paling sulit bukanlah melupakan.

Melainkan berhenti mengetuk pintu yang sejak lama tidak pernah benar-benar terbuka.

Comments