Skip to main content

Penantian Semu


Padahal sejak pagi aku sudah membayangkan bagaimana hari ini akan berjalan.

Seperti biasanya, aku membayangkan akan ada pertemuan-pertemuan kecil yang tampak tidak penting bagi orang lain, tetapi cukup berarti bagiku. Aku membayangkan akan melihatnya memasuki ruangan. Lalu seperti yang sering terjadi dalam cerita yang diam-diam kususun sendiri, ia akan mulai mencari cara agar tetap berada dalam jangkauan pandanganku.

Mungkin ia akan mondar-mandir melewati tempatku. Mungkin beberapa kali berpura-pura memiliki urusan di sudut ruangan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Mungkin juga kami akan kembali memainkan permainan lama yang tidak pernah kami sepakati: saling mencuri pandang lalu buru-buru berpaling seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku bahkan sudah membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang lebih canggung.

Berpapasan di koridor yang sempit. Bertemu di dekat loker. Atau berdiri dalam jarak yang terlalu dekat sehingga tidak ada pilihan selain saling menyadari keberadaan masing-masing.

Biasanya, pada momen-momen seperti itu, kami selalu terlihat aneh.

Terlalu sadar satu sama lain, tetapi terlalu gengsi untuk bersikap biasa.

Terlalu sering bertemu, tetapi tidak pernah benar-benar memulai percakapan.

Dan entah kenapa, justru bagian-bagian itulah yang selalu kutunggu.

Mungkin terdengar konyol. Menunggu sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi. Menunggu seseorang yang bahkan tidak pernah berjanji akan datang. Tetapi begitulah caranya perasaan bekerja. Ia sering kali membangun harapan dari hal-hal yang bahkan tidak pernah diucapkan.

Karena itulah aku terus menunggu.

Sesekali mataku melirik ke arah pintu masuk.

Lalu kembali ke pekerjaanku.

Beberapa menit kemudian, aku melihat ke sana lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Seolah-olah dengan cukup banyak menoleh, aku bisa membuatnya muncul dari balik pintu.

Waktu berjalan pelan hari itu.

Orang-orang datang dan pergi. Suara percakapan berganti-ganti. Aktivitas kantor berjalan seperti biasa. Tetapi orang yang tanpa sadar kutunggu tidak kunjung terlihat.

Awalnya aku masih berpikir mungkin ia terlambat.

Lalu mungkin sedang ada urusan lain.

Kemudian mungkin sedang berada di ruangan berbeda.

Sampai akhirnya semua kemungkinan itu habis satu per satu.

Dan yang tersisa hanyalah kenyataan sederhana, hari ini aku tidak menemukannya.

Aneh memang.

Aku selalu berusaha meyakinkan diri bahwa aku baik-baik saja tanpa kehadirannya. Bahwa hidupku tetap berjalan seperti biasa. Bahwa aku tidak sebergantung itu pada momen-momen kecil yang melibatkannya.

Namun ketika sore mulai mendekat dan bayangannya tetap tidak muncul, ada ruang kosong yang perlahan terasa semakin nyata.

Bukan karena kami memiliki hubungan khusus.

Bukan karena ada janji yang tidak ditepati.

Bukan juga karena aku berhak merasa kehilangan.

Justru karena tidak ada semua itu.

Aku tidak memiliki alasan yang sah untuk kecewa, tetapi kekecewaan itu tetap datang.

Diam-diam.

Pelan-pelan.

Mengendap seperti hujan yang tidak jadi turun.

Ketika akhirnya aku memutuskan pulang, aku berjalan keluar dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Tidak sedih sepenuhnya. Tidak marah. Tidak juga patah hati.

Hanya seperti seseorang yang datang membawa harapan kecil di dalam saku, lalu pulang dengan saku yang tetap kosong.

Di perjalanan pulang aku sempat menertawakan diriku sendiri.

Betapa mudahnya suasana hatiku berubah hanya karena berhasil atau gagal melihat satu orang.

Betapa anehnya aku bisa menunggu selama itu untuk seseorang yang bahkan mungkin tidak tahu bahwa dirinya sedang ditunggu.

Tetapi mungkin memang seperti itulah rindu bekerja.

Ia tidak selalu meminta pertemuan.

Kadang ia hanya meminta kesempatan untuk melihat.

Dan hari ini, bahkan kesempatan sekecil itu pun tidak kudapatkan.

Maka aku pulang membawa kecewa yang tidak bisa kutunjukkan kepada siapa-siapa.

Kecewa yang tidak memiliki nama.

Kecewa yang bahkan tidak berhak disebut kehilangan.

Sebab bagaimana mungkin aku bisa kehilangan seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar kumiliki?

Comments

Popular posts from this blog

I am Proud to be Scout

Alhamdulillah.... Lagi-lagi harus sering memuji nama Tuhan karena tak henti-hentinya memberi nikmat kepada hambanya yang haus kasih sayang ini. *ehm.. Seperti biasa, kalau postinganku diawali dengan kata-kata seperti itu, berarti ada 'sesuatu' yang aku terima dan ingin aku bagikan ceritanya di sini. *cerita doang? garing, ah! Iya, seperti yang sudah aku bilang tadi, bahwa hari ini ada sesuatu yang akan aku ceritakan dalam blog ini. Tapi sebelum itu, aku ceritain dulu bahwa seharian ini aku lagi merasa gak enak banget. Capek pikiran, capek badan. Kalo dah begitu, bawaanya badmood. Kalo dah badmood, statusnya pasti  berubah jadi "Senggol, bacok!". *Sadis Untungnya gak lama-lama status "Senggol, bacok!"nya. Agak sorean, abis dhuhur mungkin, status itu berubah menjadi agak mendingan. Tentu bisa ditebak, sedang gimana kalo tiba-tiba status bisa berubah sedemikian rupa kayak githu. Yup, ada kabar gembira. Apakah itu? Pertama, aku dinyatakan sebagai ...

Just Wanna Say... I love U, I need U, I want U

"Teman-temanmu sudah tahu semua?" tanyaku kemudia, memecah kebiasuan setelah pengakuan paling mencengangkan itu. "Cuma 2 temen terdekatku, 2 mantanku juga sudah tahu." "Kamu percaya, mereka tidak membuka aibmu?" "Insya Allah, percaya...." Aku terdiam lagi. Aku tak yakin, apakah orang lain bisa menjaga rahasia di depan orang lainnya. Pengalamanku, orang lain hanya dapat di percaya saat dia ada di hadapan kita, tapi kalau sudah jauh, dia akan membicarakan aib kita di hadapan teman-temannya. "Beneran pernah mencoba bunuh diri?" tanyaku kemudian, aku penasaran dengan pengakuannya yang mau bunuh diri. "Beneran, sumpah demi Allah SWT. Aku udah terlalu capek dicampakkan. Udah terlalu capek dibuat mainan. Tapi emang pergaulan ini lebih sering hanya main-main aja, tak ada seriusnya." "Sebenarnya tergantung pelakunya, kalo dia tak tergoda, bisa langgeng kok." balasku ragu. Ak...

One Direction – Live While We're Young (Arti Lagu)

One Direction atau 1D sekarang lagi booming-boomingnya. Sepertinya saya gak salah jika mau sedikit menerjemahkan salah satu lagunya. Meski lagu-lagunya banyak yang digilai banyak orang, tapi sampai sekarang saya tetap tidak mengidolakannya, apalagi mengoleksi lagu-lagunya. Saya menulis tulisan ini alasannya cuma satu, biar yang berkunjung di blogku bertambah. simple, kan? Kali ini saya memilh lagunya 1D yang judulnya  Live While We're Young. Banyak yang beranggapan, lagu ini tentang sex. Ajakan untuk berbuat sex lebih tepatnya. Anggapan mereka tidaklah salah, karena liriknya jelas banget mengarahnya kesana. Kalo ada yang ngeyel dan membela diri bahwa lagu ini bukan lagu tentang ajakan sex, tanya deh pada orang tua kita,  Get some means have sex. Simple as that. Sedikit tambahan, One Direction adalah grup penyanyi pria asal Inggris-Irlandia yang terbentuk di London pada tahun 2010. Grup ini beranggotakan Niall Horan, Zayn Malik, Liam Payne, Harry Style...