Kadang-kadang, justru rasa kasihanlah yang datang lebih dulu daripada rasa rinduku sendiri.Aku melihatnya beberapa kali berusaha berada di dekatku. Bukan sekali atau dua kali. Ada banyak kesempatan hari ini ketika dia seperti sengaja memilih jalur yang membuat kami berada dalam ruang yang sama. Entah itu hanya kebetulan, entah memang ada niat yang kusisipkan sendiri ke dalam setiap gerakannya. Aku sudah terlalu sering salah menafsirkan keadaan hingga kini aku tak lagi berani mengatakan mana yang nyata dan mana yang hanya dibangun oleh pikiranku sendiri.
Yang jelas, hari ini dia terlihat begitu kentara.
Beberapa kali aku menangkap keberadaannya berada tidak jauh dariku. Kadang berjalan melewati meja kerjaku, kadang berdiri di area yang masih berada dalam jangkauan pandanganku. Sesekali aku juga mencarinya tanpa sadar. Kepalaku mendongak, mataku berkeliling ruangan, lalu menemukannya sedang sibuk dengan aktivitasnya sendiri.
Aku melihatnya.
Dia juga mungkin melihatku.
Lalu semuanya berhenti sampai di sana.
Lucunya, ketika jarak kami benar-benar dekat, justru aku kehilangan semua keberanian yang selama ini kususun dalam kepalaku. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Tidak ada kalimat pembuka yang terasa wajar. Bahkan sapaan sederhana pun terasa terlalu berat untuk melewati tenggorokanku.
Akhirnya aku melakukan apa yang paling sering kulakukan selama ini.
Diam.
Aku justru mengobrol dengan orang-orang lain yang berada di sekitarnya. Aku bisa tertawa bersama mereka. Bisa bercanda, bertanya, bahkan membahas hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Anehnya, ketika hanya tinggal satu langkah untuk berbicara dengannya, semua kata itu menghilang begitu saja.
Seolah-olah ada tembok bening yang hanya bisa kami lihat berdua.
Aku berdiri di satu sisi.
Dia di sisi yang lain.
Dan tidak ada satu pun dari kami yang benar-benar mencoba merobohkannya.
Kadang aku merasa kasihan kepadanya.
Kalau memang benar semua yang kulihat selama ini bukan sekadar khayalanku, berarti dia pasti lelah. Lelah berusaha terlihat. Lelah mencari perhatian. Lelah mondar-mandir dalam radius pandanganku sambil berharap aku menangkap maksud yang ingin ia sampaikan.
Kalau memang benar begitu.
Kalau.
Karena lagi-lagi semuanya selalu berhenti pada kata itu.
Kalau.
Sebab aku pun tidak pernah benar-benar tahu isi kepalanya.
Aku hanya tahu isi kepalaku sendiri.
Dan isi kepalaku masih dipenuhi oleh satu kejadian yang sampai hari ini belum berhasil kulupakan.
Dua pesan yang tak pernah dibalas.
Satu akun yang akhirnya tak lagi bisa melihatnya.
Sesederhana itu.
Mungkin bagi orang lain, itu hanya peristiwa kecil. Hal yang bisa diabaikan begitu saja. Namun bagiku, itu terasa seperti jawaban yang tidak pernah diucapkan. Penolakan yang tidak pernah ditulis dengan kata-kata, tetapi cukup jelas untuk membuatku berhenti melangkah.
Sejak hari itu aku membuat satu keputusan yang sampai sekarang masih kupegang erat.
Aku tidak akan memulai lagi.
Bukan karena gengsi.
Bukan karena ingin menang.
Melainkan karena aku tidak sanggup menerima penolakan yang sama untuk kedua kalinya.
Kalau memang dia ingin mengenalku lebih jauh, biarlah kali ini dia yang memulai.
Biarlah dia yang menyapa lebih dulu.
Biarlah dia yang membuka percakapan pertama.
Aku sudah pernah mengambil langkah itu, dan langkah itu berhenti di ruang hampa.
Kini gilirannya.
Kalau memang ada yang benar-benar ingin diperjuangkan.
Kalau memang ada.
Sementara aku akan tetap berada di tempatku sekarang. Masih mengakui bahwa aku menyukainya. Masih menikmati setiap detik ketika tanpa sengaja kami saling menemukan di ruangan yang sama. Masih diam-diam menyimpan senyum ketika melihat kehadirannya.
Tetapi hanya sampai di sana.
Aku tidak akan berlari mengejarnya.
Aku tidak akan lagi membuka pintu yang pernah kutgetuk tetapi tak pernah dibukakan.
Mungkin suatu hari nanti dia akan lelah dengan sikapku.
Mungkin dia akan menganggap aku terlalu dingin.
Mungkin dia akan menyerah.
Dan anehnya, aku sudah mulai belajar menerima kemungkinan itu.
Bukan karena aku tidak menginginkannya.
Justru karena aku terlalu menginginkannya.
Ada terlalu banyak hal yang harus kupertaruhkan jika hubungan ini benar-benar dimulai. Pekerjaan, kenyamanan, reputasi, bahkan ketenangan yang selama ini berusaha kubangun kembali. Aku tidak yakin semua itu sepadan dengan hubungan yang bahkan belum tentu memiliki tujuan yang sama.
Maka untuk sementara, aku memilih menjadi penonton.
Aku akan melihat sejauh mana usahanya.
Aku akan menunggu, tanpa lagi memaksakan arah cerita.
Kalau dia benar-benar ingin datang, dia tahu di mana aku berada.
Dan kalau ternyata dia memilih berhenti di tengah jalan, mungkin memang begitulah takdir bekerja.
Aku sudah berdamai dengan perasaanku.
Sekarang, yang kutunggu bukan lagi keberanian dari dalam diriku.
Melainkan keberanian dari dirinya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!