Ada satu hal lucu tentang perasaan suka kepada seseorang.
Kadang bukan kejadian besar yang terus diingat. Bukan tatapan mata. Bukan senyum. Bukan pula momen-momen dramatis yang sering kita bayangkan sebelum tidur.
Justru yang bertahan paling lama adalah hal-hal kecil yang saat itu terasa biasa saja.
Lalu entah kenapa, beberapa hari atau bahkan beberapa minggu kemudian, kenangan itu muncul kembali dari tempat persembunyiannya dan membuat kita bertanya-tanya.
Seperti pagi ini.
Karena beberapa hari terakhir aku jarang bertemu dengannya. Jadwalku sedang padat di luar kantor. Kesempatan untuk melihatnya juga semakin sedikit. Akibatnya, otakku mulai melakukan hal yang sudah sangat sering kulakukan.
Mengais-ngais kenangan lama.
Membuka kembali potongan-potongan kejadian yang dulu kulewatkan begitu saja.
Mencari sesuatu yang mungkin sebenarnya tidak ada.
Atau mungkin justru sesuatu yang selama ini luput dari perhatianku.
Pagi ini aku tiba-tiba teringat pada satu kejadian yang bahkan hampir kulupakan.
Hari itu jaringan kantor sedang bermasalah.
Televisi yang biasanya menyala dan memutar lagu-lagu mendadak berhenti. Suasana ruangan terasa aneh. Terlalu sunyi. Terlalu sepi.
Aku termasuk orang yang sulit bekerja dalam keheningan yang terlalu lama.
Karena itulah aku beberapa kali mencoba memperbaikinya.
Aku menekan beberapa tombol.
Mengganti menu.
Mencoba memutar ulang.
Mencoba menyambungkan kembali.
Mencoba ini dan itu.
Berkali-kali.
Namun hasilnya tetap sama.
Tidak ada yang berubah.
Jaringannya tetap tidak tersambung.
Layarnya tetap tidak mau bekerja seperti biasanya.
Sampai akhirnya aku menyerah.
Aku membiarkan televisi itu begitu saja.
Menganggap memang tidak ada yang bisa dilakukan.
Lalu setelah itu aku melihatnya.
Ia berdiri di dekat perangkat yang sama.
Mengotak-atik sesuatu.
Memegang ponselnya.
Sesekali melihat layar.
Sesekali mengetuk sesuatu.
Saat itu aku tidak terlalu memperhatikan.
Aku hanya menganggap ia sedang melakukan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan televisi tersebut.
Aku tidak memikirkannya lebih jauh.
Tidak ada alasan untuk memikirkannya.
Sampai pagi ini.
Entah bagaimana kenangan itu muncul lagi.
Lengkap dengan detail-detail kecil yang dulu tidak kusadari.
Dan tiba-tiba muncul satu kemungkinan yang membuatku berhenti sejenak.
Bagaimana kalau saat itu dia memang sedang mencoba membantu?
Bagaimana kalau ia menyambungkan jaringan dari ponselnya?
Bagaimana kalau setelah melihat aku berkali-kali mencoba memperbaikinya lalu menyerah, ia memutuskan melakukan sesuatu?
Aku tidak tahu.
Benar-benar tidak tahu.
Karena aku tidak pernah bertanya.
Ia juga tidak pernah menjelaskan.
Dan mungkin memang tidak ada yang perlu dijelaskan.
Bisa saja aku salah.
Bisa saja semua ini hanya hasil dari otakku yang sedang kekurangan bahan baru untuk dipikirkan sehingga mulai membongkar arsip lama.
Namun semakin kuingat, semakin terasa aneh.
Karena setelah itu, kalau tidak salah, sistemnya memang kembali berjalan.
Dan aku baru menyadari hubungan antara dua kejadian itu sekarang.
Terlambat sekali.
Seperti biasa.
Aku sering terlambat memahami banyak hal yang berkaitan dengannya.
Yang membuatku terus memikirkan kejadian itu bukan soal televisinya.
Bukan pula soal jaringan internetnya.
Melainkan niat yang mungkin berada di balik tindakan kecil tersebut.
Karena jika memang benar ia melakukan itu, kenapa?
Apakah hanya kebetulan?
Apakah ia memang tipe orang yang ringan tangan membantu siapa saja?
Apakah ia bahkan tidak memikirkannya sama sekali?
Atau...
Apakah ia melakukannya karena melihat aku kesulitan?
Lihatlah.
Aku kembali terjebak pada pertanyaan yang sama.
Pertanyaan yang tidak pernah memiliki jawaban pasti.
Dan mungkin memang tidak akan pernah punya.
Namun di tengah semua ketidakjelasan ini, aku menyadari satu hal.
Kadang yang membuat seseorang sulit dilupakan bukan karena hal-hal besar yang ia lakukan.
Melainkan karena bantuan kecil yang nyaris tidak terlihat.
Bantuan yang bahkan tidak sempat kita sadari saat itu terjadi.
Lalu bertahun-tahun kemudian, atau setidaknya beberapa minggu kemudian, kita baru menyadari bahwa mungkin ada seseorang yang diam-diam memperhatikan lebih banyak daripada yang selama ini kita kira.
Dan sejak pagi tadi, aku masih memikirkan kemungkinan itu.
Kemungkinan kecil.
Kemungkinan yang mungkin salah.
Tetapi cukup untuk membuatku tersenyum sendiri sambil bertanya-tanya.....
Mungkinkah ia benar-benar melakukan sejauh itu?
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!