Sebenarnya, hari itu berjalan hampir persis seperti yang sudah kubayangkan sebelumnya.
Entah karena aku sudah terlalu lama mengamatinya, atau karena pola-pola itu memang terus berulang, aku merasa seolah sedang membaca ulang sebuah naskah yang pernah kubaca berkali-kali. Tidak persis sama, tentu saja. Selalu ada detail baru yang muncul. Namun garis besarnya terasa begitu akrab hingga aku bisa menebak beberapa adegan sebelum benar-benar terjadi.
Bahkan sejak aku baru datang.
Saat itu aku menuju loker untuk menyimpan beberapa barang yang tidak kubutuhkan di meja kerja. Pikiranku masih sibuk dengan urusan lain. Setidaknya, aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku sedang memikirkan hal lain.
Lalu tiba-tiba aku sadar ia ada di belakangku.
Bukan karena aku melihatnya langsung. Aku hanya merasakan keberadaannya. Kadang ada orang-orang tertentu yang tidak perlu dilihat untuk disadari kehadirannya. Entah karena langkahnya, entah karena kebiasaan, atau mungkin karena diam-diam kita memang sudah terlalu mengenali ritmenya.
Karena kejadian seperti itu sudah masuk dalam salah satu skenario yang kususun sendiri di kepalaku, aku memilih tetap tenang.
Tidak menoleh.
Tidak mencari.
Tidak memberikan reaksi apa pun.
Aku hanya cukup tahu bahwa ia ada di sana.
Dan anehnya, mengetahui itu saja sudah cukup membuat pikiranku bekerja terlalu keras.
Setelah itu aku berdiri di depan kaca beberapa saat. Rutinitas biasa. Tidak ada yang istimewa. Namun dari pantulan samar di depan, aku melihat seseorang berjalan perlahan di belakangku.
Dia.
Langkahnya tidak terburu-buru.
Tidak pula sedang menuju sesuatu yang tampak mendesak.
Seolah hanya ingin melintas.
Seolah hanya kebetulan.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Dan justru karena terlihat terlalu biasa, aku malah semakin bingung harus memaknainya bagaimana.
Mungkin memang kebetulan.
Mungkin juga tidak.
Aku tidak pernah benar-benar tahu.
Bukankah selama ini sebagian besar kisah kami memang dibangun dari kata "mungkin"?
Mungkin dia sengaja.
Mungkin aku yang terlalu peka.
Mungkin dia mencari perhatian.
Mungkin aku yang sedang mencari alasan.
Semuanya selalu berakhir di wilayah abu-abu yang sama.
Hari itu pun demikian.
Setelah kejadian kecil itu, ada banyak hal lain yang kulihat. Hal-hal sederhana yang mungkin tidak akan dianggap penting oleh orang lain. Perpindahan tempat. Kemunculan yang tiba-tiba di sudut ruangan tertentu. Kehadiran yang entah kenapa selalu masuk dalam jangkauan pandangku pada waktu-waktu yang tidak terduga.
Aku tidak mencoba menghitungnya.
Sudah tidak lagi.
Karena semakin dihitung, semakin terasa tidak masuk akal.
Aku hanya memperhatikan seperlunya.
Setidaknya itulah yang selalu kukatakan kepada diriku sendiri.
Meski kenyataannya, beberapa kali aku tetap mencuri waktu untuk melihat ke arahnya.
Bukan ketika ia sedang melihat ke arahku.
Justru ketika ia sibuk dengan aktivitasnya sendiri.
Saat ia berbicara dengan orang lain.
Saat ia fokus mengerjakan sesuatu.
Saat ia tidak sadar sedang diperhatikan.
Di saat-saat seperti itulah aku bisa melihatnya lebih lama tanpa harus panik.
Tanpa harus berpura-pura sibuk.
Tanpa harus memikirkan apa yang harus kulakukan jika mata kami bertemu.
Aku hanya merekam.
Menyimpan detail-detail kecil yang mungkin tidak penting.
Cara berdirinya.
Cara ia bergerak.
Ekspresi wajah yang muncul ketika ia sedang tidak menjaga dirinya.
Semacam koleksi kenangan yang tidak pernah kuminta, tetapi terus bertambah dengan sendirinya.
Dan sepanjang hari ini, kalau tidak salah, hanya sekali mata kami benar-benar bertemu.
Singkat sekali.
Mungkin hanya sepersekian detik.
Namun cukup untuk membuatku langsung mengalihkan pandangan.
Bukan karena marah.
Bukan karena malu.
Atau mungkin justru karena keduanya bercampur menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan.
Aku tidak ingin suasana menjadi kikuk.
Tidak ingin terjebak lagi dalam detik-detik canggung ketika dua orang saling menatap lalu sama-sama berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Jadi aku memilih menghindar.
Seperti biasa.
Seperti yang selalu kulakukan.
Dan seperti yang mungkin juga selalu dilakukannya.
Begitulah anehnya hubungan yang bahkan tidak bisa kusebut hubungan ini.
Saat berjauhan, rasanya selalu ada sesuatu yang ingin dicari.
Namun ketika kesempatan untuk benar-benar saling melihat datang, kami justru sibuk mencari cara untuk menyelamatkan diri dari tatapan yang terlalu lama.
Seolah-olah yang paling kami takuti bukan kehilangan satu sama lain.
Melainkan kemungkinan bahwa salah satu dari kami ternyata benar selama ini. Bahwa semua isyarat, semua kebetulan, dan semua pertemuan kecil itu memang berarti sesuatu. Atau mungkin tidak berarti apa-apa sama sekali. Dan mungkin, justru ketidakpastian itulah yang membuat cerita ini terus bertahan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!