Aku mulai kehabisan cerita.
Atau mungkin bukan kehabisan cerita, melainkan kehabisan cara untuk menceritakan hal yang sama berulang-ulang.
Karena jika dipikir-pikir, beberapa bulan terakhir aku hanya berputar di lingkaran yang itu-itu saja. Tentang dia. Tentang tatapan-tatapan yang sulit dijelaskan. Tentang kehadiran yang selalu berhasil mengacaukan pikiranku. Tentang perasaan yang setiap hari berubah bentuk tetapi tidak pernah benar-benar pergi.
Kadang aku sampai merasa bosan pada diriku sendiri.
Bagaimana mungkin seseorang bisa mengeluh tentang hal yang sama begitu lama?
Tapi setiap kali aku memutuskan untuk berhenti memikirkannya, selalu ada sesuatu yang membuatku kembali ke titik awal.
Dan mungkin yang paling melelahkan bukanlah perasaannya.
Melainkan keraguannya.
Aku takut selama ini semua hanya terjadi di kepalaku.
Takut bahwa apa yang kuanggap sebagai pertanda ternyata hanyalah kebetulan yang terlalu sering kutafsirkan.
Takut bahwa aku sedang melakukan kesalahan yang sama seperti banyak orang yang kesepian: melihat harapan di tempat yang sebenarnya kosong.
Aku tahu bagaimana rasanya.
Orang yang tidak pernah benar-benar merasa dicintai sering kali menjadi pencari tanda yang ulung. Mereka akan memperhatikan hal-hal kecil yang tidak diperhatikan orang lain. Sebuah senyum. Sebuah tatapan. Sebuah kehadiran yang berulang.
Lalu diam-diam bertanya dalam hati, "Apakah ini artinya sesuatu?"
Dan aku takut sedang berada di posisi itu.
Namun di sisi lain, aku juga tidak bisa sepenuhnya meyakinkan diriku bahwa aku salah.
Terlalu banyak hal yang terjadi.
Terlalu banyak kebetulan yang terasa seperti bukan kebetulan.
Terlalu banyak momen yang membuatku yakin bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan di balik sikapnya.
Aku pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Aku pernah membaca pertanda yang mirip. Dan pada akhirnya dugaanku terbukti benar.
Karena itulah aku sulit menerima kemungkinan bahwa kali ini aku salah total.
Mungkin aku memang keliru.
Tapi mungkin juga tidak.
Dan di antara dua kemungkinan itulah aku terjebak.
Kadang aku berpikir, mungkin dia sebenarnya juga memiliki perasaan yang sama. Hanya saja dia belum cukup yakin.
Atau mungkin justru aku yang membuatnya ragu.
Aku terlalu diam.
Terlalu pasif.
Terlalu sering berpura-pura tidak melihat apa yang sebenarnya kulihat.
Bisa jadi dia pernah menunggu reaksiku.
Bisa jadi dia pernah berharap aku mengambil satu langkah kecil.
Lalu karena langkah itu tidak pernah datang, dia memilih menjaga jarak.
Aku sering membayangkan kemungkinan itu.
Meskipun aku tidak pernah benar-benar tahu apakah itu kenyataan atau hanya skenario lain yang kubuat untuk menenangkan diriku sendiri.
Hari ini kami bertemu lagi.
Setelah hari Jumat yang menurutku penuh sinyal dan pertanda yang begitu kentara, aku datang dengan ekspektasi yang diam-diam masih kusimpan.
Tapi hari ini berbeda.
Tidak ada permainan yang sama.
Tidak ada keberanian yang sama.
Tidak ada rasa yakin yang sama.
Justru sebaliknya.
Dia terlihat lebih jauh.
Lebih hati-hati.
Lebih sulit ditebak.
Seolah seseorang yang beberapa hari lalu ingin terlihat, kini memilih bersembunyi.
Atau mungkin aku saja yang sedang tidak fokus untuk melihatnya.
Karena jujur saja, pikiranku sedang berantakan.
Ada terlalu banyak hal yang harus kupikirkan di kantor. Terlalu banyak tekanan yang datang bersamaan. Hingga untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak benar-benar mencari momen dengannya.
Aku tidak menghitung berapa kali dia lewat.
Aku tidak terlalu memperhatikan di mana dia duduk.
Aku bahkan tidak punya energi untuk menyusun teori baru.
Pertemuan kami hari ini terlalu singkat untuk dijadikan bahan kesimpulan.
Dan mungkin justru karena singkat itulah aku semakin bingung.
Tidak ada cukup bukti untuk membuatku yakin.
Tapi juga tidak ada cukup alasan untuk membuatku menyerah.
Di tengah semua kekacauan itu, aku mulai memikirkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah serius kupertimbangkan.
Rotasi.
Pindah.
Menjauh dari lingkaran yang sama.
Bukan karena aku membencinya.
Justru karena aku terlalu memikirkannya.
Aku mulai merasa semua ini terlalu riskan.
Terlalu banyak ruang dalam pikiranku yang diam-diam sudah ditempatinya.
Terlalu banyak harapan yang tumbuh tanpa izin.
Dan yang paling berbahaya, aku tidak lagi tahu mana yang benar-benar terjadi dan mana yang hanya hidup di dalam kepalaku.
Mungkin itu sebabnya aku ingin menjauh.
Bukan untuk melupakannya.
Melainkan untuk memastikan apakah perasaan ini akan tetap bertahan ketika aku tidak lagi bisa melihatnya setiap hari.
Karena jika jarak saja mampu menghapus semuanya, mungkin sejak awal ini memang hanya perasaanku seorang diri.
Namun jika tidak, maka mungkin ada sesuatu yang selama ini memang berusaha bertahan, meski tak pernah berani disebutkan namanya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!