Anehnya, justru aku yang memilih menghindar ketika kami bertemu.
Bukan dia.
Aku.
Dan itu kulakukan dengan sadar, dengan segala tenaga yang kumiliki. Aku menjaga jarak sejauh yang masih mungkin dilakukan tanpa terlihat mencurigakan. Aku mengalihkan pandangan. Aku menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Aku mencari alasan untuk tidak terlalu sering berada dalam radius yang sama dengannya.
Bukan karena aku ingin menjauhinya.
Justru karena aku terlalu menyukainya.
Ada hal-hal yang semakin dekat justru semakin sulit dikendalikan. Seperti api kecil yang awalnya hanya menghangatkan, tetapi jika dibiarkan terus menyala bisa membakar seluruh isi rumah. Aku takut perasaan ini menjadi seperti itu.
Sudah berkali-kali aku mencoba menyangkalnya. Sudah berkali-kali aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kekaguman sesaat, hanya rasa penasaran, hanya kebiasaan karena terlalu sering melihat wajah yang sama setiap hari.
Tetapi rasanya aku sudah terlalu lelah untuk berbohong kepada diri sendiri.
Aku menyukainya.
Sesederhana itu.
Aku menyukai kehadirannya. Menyukai cara dia muncul tanpa diduga. Menyukai tingkah-tingkah kecil yang terkadang membuatku tersenyum sendiri saat mengingatnya. Menyukai perasaan menunggu yang seharusnya melelahkan, tetapi anehnya justru menjadi bagian dari hari-hariku.
Karena itulah aku tidak ingin lagi memusuhi perasaanku sendiri.
Aku tidak ingin lagi berpura-pura bahwa tidak ada apa-apa.
Namun menerima perasaan bukan berarti harus membiarkannya mengambil alih hidupku.
Di situlah masalahnya.
Aku perlu menata hidupku.
Aku perlu memastikan bahwa perasaan ini tidak tumbuh menjadi sesuatu yang mengendalikan seluruh suasana hatiku. Aku tidak ingin bangun pagi hanya untuk menunggu apakah hari ini bisa melihatnya atau tidak. Aku tidak ingin semangatku naik turun hanya karena seseorang datang atau tidak datang ke ruangan yang sama.
Aku takut jika suatu hari nanti aku terlalu menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang bahkan belum tentu menjadi milikku.
Maka aku memilih menjaga jarak.
Bukan untuk menghilang.
Bukan untuk melupakan.
Hanya untuk menjaga ritme.
Menjaga agar jantungku tidak selalu berlari setiap kali mataku tanpa sengaja menemukan dirinya di antara keramaian. Menjaga agar pikiranku tetap bisa bekerja tanpa terus-menerus mencari di mana dia berada.
Karena sejujurnya, aku menikmati semua ini.
Aku menikmati jatuh cinta yang diam-diam.
Jatuh cinta yang tidak memiliki status.
Tidak memiliki kepastian.
Tidak memiliki janji.
Hanya ada tatapan-tatapan singkat, kebetulan-kebetulan yang terasa terlalu sering untuk disebut kebetulan, dan berbagai kemungkinan yang terus hidup di kepala.
Mungkin terdengar menyedihkan.
Tetapi ada bagian dalam diriku yang merasa nyaman berada di wilayah abu-abu ini.
Di tempat di mana aku masih bisa berharap tanpa harus menghadapi kenyataan.
Di tempat di mana aku masih bisa membayangkan bahwa mungkin saja dia juga merasakan hal yang sama.
Meski aku tidak pernah benar-benar tahu.
Kadang aku juga berpikir, bagaimana jika suatu hari dia benar-benar berani?
Bagaimana jika suatu hari dia datang dan mengatakan semua yang selama ini hanya kami simpan dalam bahasa isyarat yang tidak pernah selesai diterjemahkan?
Anehnya, aku tidak yakin dengan jawabannya.
Bukan karena aku tidak mau.
Mungkin aku tidak akan menolak.
Tetapi setelah itu apa?
Aku tidak pernah sampai ke bagian akhir dari skenario itu.
Semua khayalanku selalu berhenti tepat sebelum kepastian dimulai.
Karena ternyata selama ini yang paling kusukai bukanlah jawabannya.
Melainkan pertanyaannya.
Bukan akhir ceritanya.
Melainkan kemungkinan-kemungkinan yang hidup di tengah ketidakjelasan.
Maka untuk sementara, aku tetap berada di sini.
Menjaga jarak.
Menjaga hati.
Menjaga ritme.
Sambil diam-diam tetap berharap, jika suatu hari nanti takdir benar-benar berniat mempertemukan dua orang yang sama-sama ragu, semoga salah satu dari mereka lebih dulu menemukan keberanian.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!