Ada Saatnya Mengalah, Ada Saatnya Berdiri

 


Aku termasuk orang yang sebisa mungkin menghindari konflik. Bagiku, tidak semua persoalan harus dibalas dengan kemarahan. Ada banyak keadaan yang justru lebih cepat selesai ketika salah satu pihak memilih mundur selangkah.

Itulah yang kulakukan beberapa waktu terakhir.

Aku menerima ancaman akan dilaporkan ke kepolisian. Bukan sekali. Sudah beberapa kali. Awalnya aku memilih diam. Aku tidak membalas dengan nada yang sama. Aku berpikir, kalau memang aku melakukan kesalahan, biarlah proses yang berjalan. Aku juga tidak ingin persoalan ini semakin besar. Terlalu melelahkan menghabiskan energi untuk bertengkar di ruang publik.

Jadi aku memilih mengalah.

Bukan karena takut.

Bukan juga karena merasa kalah.

Aku hanya ingin semuanya berhenti.

Namun ternyata dugaanku keliru.

Diamku tidak membuat keadaan mereda. Justru setelah itu, serangan demi serangan terus datang. Kalimat-kalimat bernada ancaman masih berulang. Tuduhan masih terus dilontarkan. Rasanya seperti tidak ada ruang untuk benar-benar menyelesaikan persoalan secara baik-baik.

Yang paling membuatku terkejut adalah ketika persoalan ini mulai menyeret nama tempatku bekerja.

Di titik itu aku mulai merasa persoalannya sudah berubah.

Selama ini, apa pun yang terjadi, aku menganggap itu adalah urusanku secara pribadi. Tempat kerjaku tidak mengetahui konflik ini. Rekan-rekanku juga tidak ada hubungannya. Institusi tempatku bekerja sama sekali tidak terlibat.

Karena itulah aku sulit memahami mengapa nama kantor mulai dibawa-bawa.

Ketika sebuah persoalan pribadi mulai diarahkan kepada institusi, dampaknya tidak lagi berhenti pada satu orang. Nama baik lembaga, rekan kerja, bahkan kepercayaan publik bisa ikut terdampak.

Di situlah aku mulai berpikir bahwa mengalah terus-menerus bukan lagi solusi.

Aku pun menyampaikan bahwa jika tuduhan atau pernyataan yang melibatkan nama baik diriku maupun institusi terus berlanjut, aku akan mempertimbangkan menggunakan jalur hukum untuk melindungi hak-hakku. Bukan karena ingin membalas, melainkan karena setiap orang juga memiliki hak untuk melindungi dirinya ketika merasa dirugikan.

Sekarang aku memilih menunggu.

Hari Senin mungkin akan menjadi salah satu penentu. Aku belum tahu apakah benar akan dipanggil atasan atau tidak. Bisa jadi tidak terjadi apa-apa. Bisa juga justru ada klarifikasi yang memang perlu kulakukan.

Aku tidak ingin mendahului keadaan.

Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah mempersiapkan diri apabila memang diminta memberikan penjelasan. Jika itu terjadi, aku ingin menjelaskan semuanya berdasarkan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan berdasarkan emosi atau prasangka.

Pengalaman beberapa tahun terakhir mengajariku satu hal: ketika konflik sudah menyentuh nama baik seseorang atau sebuah institusi, keputusan sebaiknya tidak lagi diambil dalam keadaan marah. Semakin besar persoalannya, semakin penting menjaga kepala tetap dingin.

Aku tidak berharap masalah ini berlanjut ke proses hukum. Siapa pun tentu lebih senang jika sebuah konflik bisa diselesaikan secara baik-baik.

Namun jika memang tidak ada jalan lain, maka biarlah penyelesaiannya ditempuh melalui mekanisme yang berlaku, dengan bukti, fakta, dan proses yang adil. Pada akhirnya, bukan siapa yang paling keras suaranya yang menentukan kebenaran, melainkan apa yang benar-benar dapat dibuktikan.

Ah, disaat seperti ini, aku ingin melihatnya lebih lama. Agar keruhnya pikiranku dapat teralihkan. Meski itu hanya sesaat. 

Comments

Popular posts from this blog

Pemilik Akun Asli @poconggg Terbongkar

Lorde - Team (Arti Lagu)

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)