Hari ini aku menunggunya lebih lama dari biasanya.
Bahkan mungkin terlalu lama.
Berkali-kali mataku terangkat ke arah pintu masuk setiap kali terdengar suara langkah kaki atau pintu yang terbuka. Setiap ada seseorang masuk, tanpa sadar aku selalu berharap sosok itu adalah dirinya. Namun setiap kali harapan itu muncul, yang datang selalu orang lain. Aku kembali menunduk, kembali berpura-pura sibuk dengan pekerjaanku, lalu beberapa menit kemudian mengulang kebiasaan yang sama.
Melihat pintu.
Menunggu.
Kecewa.
Mengulanginya lagi.
Begitu terus sampai aku mulai lelah dengan harapanku sendiri.
Dalam hati aku mulai berkata, mungkin hari ini memang bukan harinya. Mungkin dia sedang bertugas di tempat lain. Mungkin sedang izin. Atau mungkin memang kami tidak akan bertemu hari ini.
Aku hampir menyerah.
Hampir.
Lalu, ketika aku sudah mulai menerima kemungkinan bahwa penantianku sia-sia, pintu itu kembali terbuka.
Dan dia datang.
Aneh memang. Setiap kali melihatnya muncul dari kejauhan, selalu ada sesuatu yang sulit kujelaskan. Bukan sekadar senang karena akhirnya bisa bertemu. Rasanya lebih seperti lega yang perlahan berubah menjadi hangat. Seolah-olah ruangan yang sejak tadi terasa biasa saja mendadak memiliki pusat gravitasi baru.
Pandanganku otomatis menemukannya.
Dan seperti biasanya, aku berpura-pura tidak terlalu memedulikannya.
Padahal dalam hati, semuanya sedang berisik.
Hari itu dia mengenakan pakaian berwarna navy. Entah kenapa warna itu terlihat begitu cocok dengannya. Tidak mencolok, tetapi justru membuatnya semakin menonjol. Ada kesan tenang, dewasa, sekaligus sulit diabaikan. Rambutnya pun tertata rapi. Saat berjalan memasuki ruangan, ada sesuatu pada caranya membawa diri yang membuatku spontan berpikir, "Kenapa hari ini auranya berbeda?"
Sulit dijelaskan.
Barangkali hanya perasaanku.
Atau mungkin memang setiap orang yang sedang jatuh hati selalu melihat seseorang jauh lebih indah daripada kenyataannya.
Aku tidak tahu.
Yang kutahu, untuk beberapa detik aku hanya memandanginya diam-diam sambil berusaha menenangkan diri sendiri.
Lalu, seperti biasa, sandiwara kecilku dimulai.
Aku memasang wajah datar.
Berusaha terlihat biasa saja.
Berpura-pura tidak terlalu peduli dengan kehadirannya.
Padahal baru beberapa menit sebelumnya aku hampir putus asa karena tidak menemukannya.
Lucu juga kalau dipikir-pikir.
Aku menunggu selama itu hanya untuk kemudian berpura-pura seolah kehadirannya tidak berarti apa-apa.
Kadang aku sendiri tidak mengerti kenapa harus serumit ini.
Mungkin karena menjaga gengsi.
Mungkin karena takut terlalu mudah terbaca.
Atau mungkin karena aku sudah terlalu terbiasa menyembunyikan apa pun yang sebenarnya sedang kurasakan.
Di tengah usahaku menjaga wajah tetap tenang, tiba-tiba aku melakukan sesuatu yang bahkan tidak kurencanakan sebelumnya.
Aku menyapa orang yang duduk di sampingku.
Padahal sejak pagi kami nyaris tidak berbicara sama sekali. Tidak ada alasan khusus untuk memulai percakapan. Tidak ada topik yang benar-benar penting. Semua yang keluar dari mulutku hanyalah basa-basi yang sebenarnya bisa saja tidak perlu terjadi.
Namun tetap kulakukan.
Belakangan baru kusadari alasan sebenarnya.
Entah kenapa, ada bagian kecil dalam diriku yang ingin memastikan apakah dia akan memperhatikan.
Apakah dia akan bereaksi.
Apakah dia akan merasa terganggu.
Atau... apakah dia tidak akan merasakan apa-apa.
Sungguh kekanak-kanakan.
Aku bahkan tidak yakin dia mendengar percakapanku. Tidak yakin dia sempat melihat kami berbicara. Bisa jadi dia sama sekali tidak peduli, sementara aku sudah sibuk menyusun berbagai kemungkinan di dalam kepala.
Mungkin dia tidak cemburu.
Mungkin dia bahkan tidak menyadarinya.
Dan mungkin, sekali lagi, semua ini hanyalah permainan yang kubuat sendiri agar hatiku merasa memiliki sedikit harapan.
Begitulah aku.
Terlalu sering menyusun skenario, lalu menjadi penonton bagi skenario yang belum tentu sedang dimainkan oleh orang lain.
Tetapi, meski akhirnya aku tidak pernah tahu apakah sandiwara kecilku berhasil atau tidak, ada satu hal yang tetap membuatku tersenyum hari itu.
Aku hampir pulang dengan keyakinan bahwa kami tidak akan bertemu.
Namun ternyata semesta masih memberiku kesempatan untuk melihatnya, meski hanya sebentar.
Dan anehnya, kadang hanya itu saja sudah cukup untuk membuat satu hari yang nyaris hambar berubah menjadi sedikit lebih ringan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!