Akulah yang Paling Banyak Kehilangan


Kemarin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa begitu mantap dengan keputusan yang sudah berbulan-bulan hanya berani kusimpan di dalam kepala. Rasanya seperti ada sesuatu yang akhirnya mencapai batasnya. Terlalu lama dipendam, terlalu lama dipikirkan, terlalu lama dibiarkan tumbuh tanpa pernah diberi kesempatan untuk mengetahui ke mana arahnya.

Aku ingin mengatakan semuanya.

Sesederhana itu.

Aku ingin berhenti berbicara melalui tatapan yang belum tentu dimengerti. Berhenti menyusun ribuan kemungkinan dari hal-hal kecil yang bahkan bisa saja tidak berarti apa-apa. Berhenti hidup di antara dugaan yang setiap hari berubah bentuk mengikuti suasana hati.

Aku hanya ingin jujur.

Berbulan-bulan memendam rasa ternyata melelahkan. Setiap pertemuan menjadi bahan renungan. Setiap kebetulan terasa seperti teka-teki. Setiap hari aku pulang membawa pertanyaan yang sama, lalu bangun esok paginya dengan pertanyaan yang masih sama pula. Sampai akhirnya kemarin aku berpikir, mungkin sudah waktunya semua ini diselesaikan. Apa pun hasilnya.

Setidaknya aku tidak lagi menjadi tawanan pikiranku sendiri.

Namun manusia memang sering kalah oleh pikirannya sendiri.

Semakin lama kupikirkan, keberanian yang semula terasa begitu besar perlahan mulai surut. Bukan karena perasaanku berubah. Justru karena perasaanku terasa semakin nyata, aku mulai melihat hal-hal yang sebelumnya luput kupertimbangkan.

Aku tiba-tiba bertanya kepada diriku sendiri, apakah kejujuran selalu menjadi jalan terbaik?

Ataukah ada kejujuran-kejujuran yang justru lebih baik tetap tinggal sebagai rahasia?

Aku tidak ingin menyebut siapa yang mungkin akan terluka jika semua ini benar-benar kuucapkan. Mungkin tidak hanya satu orang. Mungkin lebih dari itu. Atau mungkin sebenarnya hanya aku yang sedang membesar-besarkan kemungkinan terburuk. Aku tidak tahu.

Yang jelas, setiap kali mencoba menghitung untung dan ruginya, hasil akhirnya selalu sama.

Akulah yang paling banyak kehilangan.

Bukan hanya soal diterima atau ditolak. Itu bahkan bukan ketakutan terbesar yang kini kurasakan. Yang lebih membuatku berpikir ulang adalah segala sesuatu yang mungkin berubah setelahnya. Hubungan yang selama ini berjalan biasa bisa menjadi canggung. Rutinitas yang selama ini terasa tenang mungkin berubah menjadi penuh kehati-hatian. Hal-hal sederhana yang sekarang masih bisa kunikmati dari kejauhan mungkin justru menghilang ketika semuanya sudah menjadi terang.

Ada harga yang harus dibayar dari setiap kejujuran.

Dan aku belum yakin sanggup membayarnya.

Lucunya, selama ini aku mengira kebahagiaan hanya tinggal sejengkal lagi. Tinggal satu kalimat, satu keberanian, lalu semuanya selesai. Padahal setelah kubayangkan lebih jauh, mungkin justru di situlah persoalan yang sebenarnya dimulai.

Sebab jika semua itu benar-benar terjadi, aku sadar akan ada begitu banyak hal yang harus dijaga. Begitu banyak rahasia yang harus tetap menjadi rahasia. Begitu banyak kepura-puraan yang mungkin harus dipertahankan agar dunia di sekitar kami tetap berjalan seperti biasa.

Aku lelah bahkan sebelum semuanya dimulai.

Barangkali itulah yang membuat langkahku selalu berhenti di ambang pintu.

Aku ingin mengikuti kata hati, tetapi akal terus menarikku kembali. Aku ingin percaya bahwa kebahagiaan layak diperjuangkan, tetapi pada saat yang sama aku juga sadar bahwa tidak semua yang membuat hati bahagia akan membuat hidup menjadi lebih sederhana.

Mungkin karena itulah sampai hari ini aku masih memilih diam.

Bukan karena rasa itu telah hilang.

Melainkan karena aku mulai mengerti bahwa mencintai seseorang terkadang bukan hanya soal keberanian untuk mengungkapkannya, tetapi juga keberanian menerima bahwa ada perasaan-perasaan yang lebih aman jika tetap tinggal sebagai rahasia.

Comments

Popular posts from this blog

Pemilik Akun Asli @poconggg Terbongkar

Lorde - Team (Arti Lagu)

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)