Sore kemarin rasanya sedikit berbeda dibanding beberapa hari sebelumnya.
Mungkin karena selama beberapa hari terakhir kami hanya sempat berpapasan sekilas. Pertemuan kami terlalu singkat untuk meninggalkan banyak kenangan. Aku hanya melihatnya datang atau pergi, lalu masing-masing kembali tenggelam dalam pekerjaan. Tidak ada ruang untuk memperhatikan lebih lama, tidak ada kesempatan bagi pikiranku untuk mengarang berbagai kemungkinan seperti biasanya.
Namun kemarin, entah mengapa, suasananya terasa berubah.
Ia sedang berbincang dengan beberapa temannya. Percakapannya tampak santai, sesekali diselingi tawa kecil. Dari kejauhan aku melihatnya seperti orang yang benar-benar menikmati obrolan itu. Akan tetapi, di sela-sela percakapan tersebut, ada beberapa gerakan kecil yang kembali menarik perhatianku. Sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Gerakan itu begitu halus sehingga bisa saja dianggap sebagai kebiasaan biasa. Namun, dari sudut pandangku, semuanya terasa seperti dilakukan dengan kesadaran penuh untuk tetap terlihat.
Tentu saja aku bisa saja keliru.
Barangkali itu memang hanya caranya berdiri, caranya bergerak, atau kebetulan belaka.
Tetapi pikiranku, seperti biasa, selalu sibuk menafsirkan.
Aku menangkap kesan seolah ia sesekali memastikan dirinya masih berada dalam jangkauan pandanganku. Bukan dengan cara yang terang-terangan, melainkan melalui hal-hal kecil yang nyaris tak dapat dijelaskan. Karena aku memang sudah terlalu lama memperhatikannya, setiap perubahan kecil terasa begitu mudah tertangkap oleh ingatanku.
Yang lucu justru reaksiku sendiri.
Aku tidak merasa berdebar seperti dulu.
Tidak ada gejolak yang membuatku kehilangan kendali.
Aku hanya memperhatikannya.
Diam.
Tanpa banyak berpikir.
Seolah-olah aku sedang mengikuti alur yang ia bangun, apa pun sebenarnya maksud dari semua itu. Aku tidak merasa harus membalas, tidak pula merasa harus menghindar. Aku hanya menjadi penonton yang diam-diam merekam semuanya ke dalam ingatan.
Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, mungkinkah justru ia yang menikmati permainan kecil itu? Mungkinkah ia merasa cukup hanya dengan mengetahui bahwa aku masih sesekali memandang ke arahnya? Atau jangan-jangan semua itu hanya cerita yang diciptakan oleh kepalaku sendiri untuk mengisi ruang kosong yang tak pernah benar-benar mendapatkan jawaban?
Aku tidak tahu.
Dan mungkin memang tidak akan pernah tahu.
Di antara semua kebingungan itu, ada satu pertanyaan lain yang belakangan justru lebih sering menggangguku.
Apa sebenarnya yang membuatku jatuh hati?
Semula kukira jawabannya sederhana.
Mungkin karena wajahnya.
Mungkin karena caranya berpakaian.
Mungkin karena posturnya yang selalu berhasil menarik perhatianku ketika memasuki ruangan.
Namun semakin lama kupikirkan, semakin kusadari bahwa jawabannya tidak sesederhana itu.
Kalau hanya soal penampilan, tentu aku pernah bertemu banyak orang yang sama menariknya.
Kalau hanya soal fisik, seharusnya perasaan ini tidak akan bertahan selama berbulan-bulan.
Lalu apa?
Apakah karena tatapan matanya yang berkali-kali tanpa sengaja bertemu denganku?
Apakah karena rasa penasaran yang tak pernah menemukan ujungnya?
Ataukah justru karena hubungan ini selalu berada di wilayah yang abu-abu, sehingga pikiranku terus-menerus berusaha mengisinya dengan berbagai kemungkinan?
Aku benar-benar tidak tahu.
Yang kutahu hanya satu.
Semakin keras aku mencoba mencari alasan mengapa aku jatuh cinta padanya, semakin sulit pula aku menemukan jawabannya.
Barangkali memang tidak semua perasaan lahir karena sesuatu yang bisa dijelaskan.
Ada yang tumbuh begitu saja.
Pelan.
Diam-diam.
Lalu bertahan bukan karena kita memahami alasannya, melainkan karena setiap kali mencoba melepaskannya, kita justru kembali menemukan diri kita sedang memandang ke arah orang yang sama.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!