Apakah Dia Tahu Kalau Aku Jatuh Cinta Karena Dia Mengucir Rambutnya?
Belakangan ini ada satu pikiran yang terus berputar di kepalaku. Aku sendiri tidak yakin dari mana asalnya. Mungkin hanya dugaan yang terlalu jauh. Mungkin juga sekadar permainan imajinasi yang lahir karena terlalu lama hidup di antara harapan dan ketidakpastian.
Tapi bagaimana jika... ia membaca semua cerita yang kutulis?
Aku tahu, pertanyaan itu terdengar berlebihan. Bahkan sebelum orang lain menyanggahnya, aku sudah lebih dulu menyangkal diriku sendiri. Rasanya terlalu kebetulan jika seseorang yang tidak pernah benar-benar berbicara denganku ternyata diam-diam mengikuti serpihan kisah yang selama berbulan-bulan kutumpahkan dalam tulisan.
Namun, pikiran itu tetap saja datang.
Ia muncul tanpa diundang, lalu menetap cukup lama hingga membuatku mulai menghubungkan hal-hal yang mungkin sebenarnya tidak saling berkaitan.
Buktinya sederhana.
Beberapa hari terakhir aku kembali melihatnya menguncir rambut.
Padahal sebelumnya sudah cukup lama aku tidak melihat penampilan itu. Lalu, setelah berkali-kali kutulis bahwa aku pertama kali jatuh hati justru karena kuncir rambutnya, tiba-tiba ia kembali melakukannya. Sekali, dua kali, lalu berulang lagi.
Aku hanya bisa terdiam.
Apakah ini memang kebetulan?
Ataukah pikiranku sedang bekerja terlalu keras menyusun pola dari kejadian-kejadian yang sebenarnya berdiri sendiri?
Aku benar-benar tidak tahu.
Yang kutahu hanya satu hal, setiap kali melihat rambutnya kembali dikuncir, ada bagian dalam diriku yang langsung goyah. Seolah-olah semua keputusan yang susah payah kususun untuk menjaga jarak mendadak kehilangan kekuatannya.
Lucu sekali.
Aku sudah mencoba berdamai dengan keadaan. Sudah mencoba mengurangi intensitas memikirkannya. Sudah mencoba menerima bahwa mungkin kisah ini memang tidak akan pernah memiliki nama.
Tetapi kemudian ia datang dengan penampilan yang, entah mengapa, selalu berhasil mengacaukan pertahananku.
Aku bahkan mulai menertawakan diriku sendiri.
Masak iya, seseorang bisa begitu mudah kehilangan keseimbangan hanya karena melihat seutas kuncir rambut?
Kalau dipikir-pikir, kedengarannya memang konyol.
Namun hati memang tidak pernah terlalu peduli pada sesuatu yang masuk akal.
Yang lebih menggelitik justru dugaanku sendiri. Jangan-jangan semua ini memang hanya kebetulan, sementara aku sibuk membangun teori yang terlalu rumit. Jangan-jangan ia hanya sedang ingin menguncir rambutnya karena merasa lebih nyaman. Sesederhana itu. Sedangkan aku, seperti biasa, menghabiskan malam-malamku untuk mencari makna yang mungkin memang tidak pernah ada.
Aku sadar kemungkinan itu jauh lebih masuk akal.
Tetapi tetap saja, ada bagian kecil dalam diriku yang diam-diam bertanya, bagaimana jika memang ia membaca semuanya? Bagaimana jika ia mengetahui bahwa ada satu detail sederhana yang mampu membuatku kembali jatuh hati? Bagaimana jika semua ini hanyalah cara pikiranku mencari pembenaran agar tetap bisa berharap?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak meminta jawaban.
Mereka hanya datang, lalu duduk tenang di sudut pikiranku.
Dan yang paling berbahaya adalah aku mulai menunggu hari-hari berikutnya. Menunggu apakah rambut itu akan kembali dikuncir, atau semuanya berhenti begitu saja. Seolah-olah jawabannya bisa menjadi penentu apakah dugaanku selama ini hanya kebetulan atau memang memiliki sedikit jejak kenyataan.
Sungguh, aku tidak ingin terlalu banyak berharap.
Karena aku tahu, harapan yang dibangun di atas dugaan sering kali lebih rapuh daripada yang dibangun di atas kenyataan.
Meski begitu, aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri. Jika ia terus menguncir rambutnya seperti beberapa hari terakhir, besar kemungkinan aku akan kembali mengulang kesalahan yang sama, jatuh hati pada hal sederhana yang bahkan mungkin tidak pernah ditujukan untukku.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!