Kadang-kadang, di sela-sela kesibukan yang berusaha memenuhi kepalaku, muncul satu pikiran yang terus berulang. Pikiran yang selalu datang diam-diam, lalu menghilang sebelum sempat kutemukan keberaniannya.
Bagaimana kalau kali ini aku saja yang memulai?
Sudah terlalu lama kami berjalan di tempat yang sama. Terlalu lama saling memandang dari kejauhan, saling menghindar ketika jarak menjadi terlalu dekat, lalu kembali saling mencari ketika salah satu menghilang dari pandangan. Semua terasa seperti lingkaran yang tak pernah benar-benar menemukan ujungnya.
Dan aku mulai lelah hidup di dalam lingkaran itu.
Sesekali aku membayangkan, bagaimana jika aku mengakhiri semua permainan diam ini. Bukan dengan menjauh, melainkan dengan memperjelasnya. Mengatakan apa yang selama ini kusimpan. Menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di antara kami. Kalaupun memang tidak ada apa-apa, setidaknya aku tidak perlu lagi sibuk menerjemahkan tatapan, langkah kaki, atau kebetulan-kebetulan yang mungkin memang hanya kebetulan.
Bukankah segala sesuatu akan lebih mudah jika diucapkan?
Setidaknya begitu yang sering kukatakan kepada diriku sendiri.
Namun setiap kali keberanian itu mulai tumbuh, selalu ada suara lain yang datang lebih keras.
Bagaimana kalau ternyata selama ini aku hanya salah membaca semua pertanda?
Bagaimana kalau semua yang kuanggap sebagai usaha mendekat hanyalah sikapnya yang memang seperti itu kepada siapa saja?
Bagaimana kalau setelah aku berbicara, justru semua kecanggungan yang selama ini masih bisa kusembunyikan berubah menjadi penyesalan yang harus kutanggung setiap hari?
Pertanyaan-pertanyaan itu selalu berhasil menarikku mundur.
Aku jadi teringat lagi pada dua pesan yang pernah kukirimkan. Sapaan sederhana yang saat itu kukira bisa menjadi awal dari percakapan kami. Bukannya membuka jalan, justru sapaan itu meninggalkan rasa malu yang sampai hari ini masih kubawa ke mana-mana. Sejak saat itu, keberanianku seperti kehilangan sebagian dirinya.
Aku sering berkata bahwa aku hanya sedang menunggu dia lebih berani.
Tetapi semakin kupikirkan, jangan-jangan kalimat itu hanyalah cara halus untuk menyembunyikan ketakutanku sendiri.
Lebih mudah mengatakan, "Aku menunggu dia," daripada mengakui bahwa akulah yang takut ditolak sekali lagi.
Ada bagian dalam diriku yang benar-benar ingin memperjelas semuanya.
Namun ada bagian lain yang justru berharap kisah ini tetap menggantung seperti sekarang.
Sebab selama semuanya belum diucapkan, masih ada ruang untuk berharap.
Masih ada kemungkinan bahwa semua tatapan itu memang memiliki arti.
Masih ada kesempatan untuk percaya bahwa diamnya bukan penolakan.
Begitu semuanya dijelaskan, semua kemungkinan itu akan menyusut menjadi satu jawaban.
Dan entah kenapa, aku lebih takut menghadapi satu jawaban daripada hidup bersama seribu dugaan.
Mungkin memang sudah saatnya salah satu dari kami mengambil langkah pertama.
Mungkin memang aku.
Atau mungkin bukan sekarang.
Aku belum tahu.
Yang kutahu, setiap kali membayangkan harus berdiri di hadapannya dan mengucapkan semua yang selama ini hanya kusimpan di dalam kepala, jantungku kembali berdegup tidak karuan.
Bukan karena aku takut mengakui bahwa aku menyukainya.
Aku sudah lama berdamai dengan perasaan itu.
Yang kutakutkan adalah kemungkinan bahwa setelah semua keberanian itu kukumpulkan, aku justru kehilangan satu-satunya hal yang selama ini masih bisa kunikmati, harapan yang belum pernah benar-benar dibuktikan salah.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!