Belajar Melihat Panggung dari Barisan Penonton
Setelah beberapa kali berkumpul dan mendengar berbagai cerita dari banyak arah, entah kenapa pikiranku terasa sedikit lebih tenang. Bukan karena semua pertanyaan akhirnya terjawab, tetapi karena perlahan-lahan aku mulai mampu melihat rangkaian peristiwa yang selama ini terasa tercerai-berai. Potongan-potongan pengalaman yang dulu berdiri sendiri kini mulai membentuk sebuah pola, meskipun aku tetap sadar bahwa itu adalah kesimpulan yang kubangun dari apa yang kulihat dan kurasakan.
Aku merasa, akhirnya aku menemukan semacam titik terang.
Tahun lalu pernah menjadi masa yang paling berat dalam hidupku. Bukan hanya karena masalah yang menimpaku, tetapi juga karena kenyataan bahwa ketika aku terjatuh, hampir tidak ada tangan yang benar-benar meraih untuk membantuku bangkit. Pada masa itu aku belajar bahwa sepi ternyata tidak selalu berarti tidak ada orang di sekitarmu. Kadang sepi justru hadir ketika kamu dikelilingi banyak orang, tetapi tak seorang pun benar-benar berdiri di sisimu.
Butuh waktu yang cukup panjang untuk menerima kenyataan itu.
Ada masa ketika aku dipenuhi rasa kecewa. Ada hari-hari ketika kemarahan dan kebencian datang silih berganti. Bahkan pernah ada waktu ketika aku merasa putus asa karena kehilangan kepercayaan kepada banyak orang yang sebelumnya kuhormati.
Namun waktu memang bekerja dengan caranya sendiri.
Sedikit demi sedikit, rasa marah itu mulai memudar. Bukan karena aku melupakan apa yang terjadi, melainkan karena aku sadar bahwa menyimpan kebencian terlalu lama hanya akan membuatku tetap terikat pada masa lalu. Aku tidak ingin hidupku terus dikendalikan oleh luka yang sama.
Yang tersisa sekarang hanyalah keinginan untuk memahami.
Dari berbagai percakapan yang kudengar dan beberapa peristiwa yang kemudian menimpa teman maupun kolega, aku menangkap kesan bahwa pola yang muncul sering kali terasa serupa. Ketika ada seseorang tersandung masalah, selalu ada pihak-pihak yang tampak sangat menonjol dalam prosesnya. Mereka hadir dengan suara yang lantang, tampil seolah menjadi tokoh utama dalam penyelesaian persoalan, dan pada akhirnya memperoleh pengakuan karena dianggap berada di pihak yang benar.
Mungkin aku keliru.
Mungkin juga tidak.
Namun itulah kesan yang perlahan terbentuk di dalam pikiranku.
Aku mulai melihat bahwa dalam setiap persoalan, terkadang bukan hanya penyelesaian masalah yang menjadi perhatian. Ada kalanya sebuah kasus juga berubah menjadi ruang bagi sebagian orang untuk menunjukkan citra diri, membangun reputasi, atau memperkuat posisi mereka di hadapan orang lain.
Dulu aku tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu.
Aku menganggap semua orang bekerja sesuai niat baiknya masing-masing.
Tetapi setelah mengalami sendiri dan melihat beberapa kejadian lain yang memiliki kemiripan, aku menjadi lebih berhati-hati dalam menilai orang. Bukan berarti aku merasa sudah mengetahui seluruh kebenaran. Justru sebaliknya. Aku sadar bahwa setiap peristiwa memiliki banyak sisi yang mungkin tidak pernah benar-benar diketahui oleh orang luar.
Yang berubah hanyalah rasa hormatku yang tidak lagi diberikan begitu saja.
Aku belajar bahwa jabatan tidak selalu identik dengan kebijaksanaan. Suara yang paling lantang belum tentu berasal dari hati yang paling bersih. Dan orang yang paling sering berbicara tentang benar dan salah tetaplah manusia biasa, dengan kelemahan dan kekurangannya sendiri.
Mungkin mereka pun pernah keliru.
Mungkin mereka hanya lebih beruntung karena kesalahannya tidak pernah menjadi sorotan seperti yang kualami.
Pemikiran itu justru membuatku berhenti memandang siapa pun sebagai manusia yang sepenuhnya suci. Kita semua sama-sama sedang belajar menjalani hidup. Sama-sama mungkin pernah salah. Bedanya hanya pada siapa yang diketahui banyak orang dan siapa yang luput dari perhatian.
Hari ini aku tidak lagi ingin membenci mereka.
Aku juga tidak ingin mendoakan keburukan bagi siapa pun. Terlalu melelahkan membawa beban seperti itu. Luka yang dulu terasa begitu besar kini perlahan berubah menjadi pelajaran yang ingin kusimpan, bukan dendam yang ingin kupelihara.
Kalau ada satu hal yang benar-benar ingin kubawa dari semua pengalaman ini, mungkin hanyalah kewaspadaan.
Aku ingin lebih bijak memilih kepada siapa aku menaruh kepercayaan. Aku ingin lebih tenang menghadapi penilaian orang lain. Dan yang paling penting, aku ingin memastikan bahwa ketika suatu hari nanti melihat orang lain sedang terjatuh, aku tidak ikut menjadikan penderitaannya sebagai panggung untuk meninggikan diriku sendiri.
Karena hidup sudah cukup berat bagi mereka yang sedang jatuh.
Mereka tidak membutuhkan penonton yang bersorak. Mereka hanya membutuhkan sedikit ruang untuk bangkit kembali.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!