Kadang-kadang, kalau sedang sendirian dan pikiranku mulai mengembara ke mana-mana, aku justru lebih sibuk menyalahkan diriku sendiri daripada mempertanyakan dirinya.
Aku mencoba mengingat kembali semua kejadian yang pernah kami lewati. Semua tatapan yang kebetulan bertemu. Semua kesempatan yang kubiarkan lewat begitu saja. Semua momen ketika sebenarnya salah satu dari kami mungkin hanya perlu mengucapkan satu kalimat sederhana.
"Halo."
Sesederhana itu.
Namun sampai hari ini, kalimat sesederhana itu tetap tidak pernah lahir.
Lalu aku mulai menyusun daftar panjang di dalam kepala. Daftar yang semakin lama semakin bertambah, seolah-olah otakku sedang menjadi penyidik bagi kasus yang tak pernah memiliki saksi.
Mungkin penyebabnya adalah aku sendiri.
Mungkin karena aku sudah tidak lagi mengikuti akun media sosialnya. Mungkin itu membuatnya mengira aku sudah tidak ingin mengenalnya lagi.
Atau mungkin semuanya bermula ketika akunku diblokir. Entah apa alasannya. Bisa jadi memang ada alasan yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Bisa juga karena sesuatu yang tidak pernah kuketahui. Yang jelas, sejak saat itu keberanianku seperti ikut menghilang. Ada bagian dalam diriku yang merasa pernah ditolak, dan rasa itu masih menetap sampai sekarang.
Lalu aku melihat diriku sendiri.
Wajahku memang lebih sering terlihat serius daripada ramah.
Aku jarang tersenyum, apalagi ketika gugup.
Ironisnya, semakin aku menyukainya, semakin sulit pula wajahku terlihat bersahabat di hadapannya. Bukannya tersenyum, aku justru memasang ekspresi yang mungkin terlihat datar, dingin, bahkan cemberut.
Kalau aku menjadi dirinya, mungkin aku juga akan salah paham.
Belum lagi soal keberanian.
Aku terus berkata bahwa aku menunggu dia memulai.
Padahal, bukankah aku juga melakukan hal yang sama?
Aku juga tidak pernah benar-benar menyapanya lebih dulu.
Aku selalu memiliki alasan.
Takut ditolak.
Takut salah paham.
Takut mempermalukan diri sendiri.
Takut hubungan yang bahkan belum dimulai justru berakhir sebelum sempat berjalan.
Lalu, bagaimana mungkin aku berharap seseorang melakukan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak sanggup melakukannya?
Kadang aku juga berpikir, mungkin ia pun sedang kebingungan.
Mungkin.
Aku sengaja menekankan kata mungkin, karena aku tidak pernah benar-benar tahu isi kepalanya.
Barangkali ia memang tidak berani.
Barangkali ia hanya nyaman menjaga jarak.
Barangkali ia memang sesekali berusaha menarik perhatianku, atau mungkin semua itu hanyalah tafsir yang kubangun sendiri.
Aku tidak memiliki kepastian.
Yang kumiliki hanyalah kemungkinan-kemungkinan.
Lucunya, di tengah semua kemungkinan itu, aku merasa kami sedang memainkan permainan yang sama.
Kalau memang ia takut, aku juga takut.
Kalau ia malu, aku lebih malu.
Kalau ia menunggu, aku pun menunggu.
Kalau ia diam, aku bahkan lebih pandai lagi dalam diam.
Akhirnya aku sampai pada kesimpulan yang membuatku tertawa sendiri.
Selama ini aku sempat menyebutnya pengecut.
Namun setelah kupikir-pikir lagi, mungkin bukan dia yang paling pengecut.
Mungkin justru aku.
Atau jangan-jangan kami sama-sama pengecut.
Dua orang yang sama-sama pandai menciptakan skenario di dalam kepala, tetapi kehilangan seluruh dialog ketika benar-benar berdiri berhadapan.
Dua orang yang sama-sama bisa saling memandang dari kejauhan, tetapi mendadak lupa bagaimana cara mengucapkan salam ketika jaraknya tinggal beberapa langkah.
Dan daftar itu terus bertambah.
Satu alasan melahirkan alasan lain.
Satu dugaan memancing dugaan berikutnya.
Sampai akhirnya aku sadar, yang sebenarnya membuat semuanya terasa rumit bukanlah keadaan di luar sana.
Melainkan isi kepala ini yang tidak pernah berhenti mencari jawaban dari pertanyaan yang mungkin sebenarnya bisa selesai hanya dengan satu percakapan.
Betapa lucunya.
Kami belum pernah benar-benar berbicara, tetapi aku sudah berhasil menyusun belasan kemungkinan tentang mengapa kami tidak pernah berbicara.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!