Aku benar-benar mengira hari ini dia tidak akan datang.
Jam sudah lewat dari biasanya. Aktivitas kantor hampir berjalan seperti biasa tanpa kehadirannya. Sedikit demi sedikit aku mulai menerima kemungkinan bahwa hari ini akan menjadi satu lagi hari yang harus kulewati tanpa melihat wajahnya.
Lalu, tanpa peringatan apa pun, pintu masuk terbuka.
Kebetulan saat itu pandanganku memang sedang mengarah ke televisi yang posisinya tepat menghadap pintu. Aku sama sekali tidak sedang menunggunya, setidaknya itulah yang ingin kupercayai. Aku hanya sedang melihat layar yang kebetulan berada di arah yang sama.
Namun begitu sosok itu muncul, seluruh pembelaan yang kubangun runtuh begitu saja.
"Itu dia."
Kalimat itu langsung melintas di kepalaku.
Dan anehnya, dalam hitungan detik, emosiku seperti berebut mengambil alih.
Ada rasa senang.
Ada rasa lega.
Ada sedikit kegirangan yang berusaha kutahan mati-matian.
Tetapi bersamaan dengan itu muncul juga kebingungan yang sama besarnya.
Sekarang harus bagaimana?
Haruskah aku tetap melihat ke arahnya?
Haruskah aku pura-pura tidak tahu kalau dia baru datang?
Haruskah aku menoleh sebentar, lalu kembali sibuk dengan pekerjaanku?
Atau justru jangan melihat sama sekali?
Begitulah.
Pertemuan kami hampir selalu diawali oleh pertanyaan-pertanyaan kecil yang sebenarnya tidak perlu ada, tetapi selalu berhasil memenuhi kepalaku.
Pada akhirnya aku memilih cara yang paling sering kulakukan akhir-akhir ini.
Memasang wajah datar.
Berusaha terlihat biasa saja.
Seolah kehadirannya tidak mengubah apa pun.
Padahal, di dalam hati, aku tahu ada sesuatu yang berubah. Tidak besar. Tidak sampai membuatku kehilangan kendali seperti beberapa bulan yang lalu. Degup jantungku juga sudah jauh lebih tenang dibandingkan dulu.
Mungkin aku mulai terbiasa.
Atau mungkin aku hanya semakin pandai menyembunyikannya.
Entahlah.
Yang jelas, aku tetap senang melihatnya datang.
Meski senangnya tidak lagi meledak-ledak.
Lebih seperti rasa lega karena seseorang yang diam-diam kutunggu akhirnya benar-benar muncul.
Lucunya, setelah itu aku tetap tidak berani memandanginya secara langsung.
Aku malah beberapa kali memanfaatkan pantulan cermin.
Aku memperhatikannya lewat bayangan, bukan lewat tatapan yang benar-benar bertemu.
Kalau dipikir-pikir, alasannya terdengar konyol.
Kenapa harus melalui cermin?
Kenapa harus mencari jalan memutar hanya untuk melihat seseorang yang sebenarnya berada di ruangan yang sama?
Aku juga tidak punya jawaban yang benar.
Mungkin karena lewat pantulan cermin aku merasa lebih aman.
Aku bisa memastikan dia ada di sana tanpa harus khawatir tatapan kami bertemu dan membuat suasana kembali canggung.
Atau mungkin aku memang sedang mencari cara agar tetap bisa menikmati kehadirannya tanpa terlihat terlalu jelas sedang memperhatikannya.
Sungguh, perasaan manusia memang rumit.
Ingin melihat, tetapi takut ketahuan sedang melihat.
Ingin dekat, tetapi justru memilih bersembunyi di balik pantulan kaca.
Ingin terlihat biasa saja, padahal di dalam hati sedang diam-diam bersyukur karena hari ini tidak jadi pulang tanpa sempat melihat wajahnya.
Dan mungkin itu saja sudah cukup.
Aku tidak membutuhkan percakapan.
Tidak membutuhkan sapaan.
Tidak juga menuntut adanya sesuatu yang istimewa.
Hari ini, mengetahui bahwa dia benar-benar datang ternyata sudah mampu membuat suasana hatiku sedikit lebih ringan.
Meski setelah itu aku tetap berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Barangkali memang begitulah caraku bertahan.
Menyimpan rasa secukupnya, menyembunyikannya sebaik mungkin, lalu diam-diam merasa bahagia hanya karena semesta masih memberiku kesempatan melihat seseorang yang, entah sejak kapan, berhasil menjadi bagian kecil dari alasan mengapa aku masih bersemangat datang ke tempat ini setiap hari.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!