Bertemu di Jalan


 Di tengah keputusasaan karena beberapa hari tak berhasil bertemu dengannya, aku mulai merasa kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar kumiliki. Anehnya, aku masih mampu menjalani pekerjaanku seperti biasa. Aku masih bisa tertawa ketika perlu, masih bisa menyelesaikan tugas satu per satu, masih bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Dari luar, mungkin tak ada yang berubah.

Namun aku tahu, ada satu kebiasaan kecil yang diam-diam terus kulakukan.

Mencarinya.

Mataku tanpa sadar selalu menyapu sudut-sudut ruangan yang biasanya menjadi tempat ia muncul. Lorong yang sering kulewati terasa lebih lengang. Area loker yang biasanya hanya kulewati sekilas kini justru menjadi tempat yang sering kutatap lebih lama, berharap ada sosok yang tiba-tiba datang dari balik pintu. Bahkan menjelang jam pulang, aku berkali-kali mengulur waktu. Masih ada pekerjaan yang sebenarnya bisa diselesaikan besok, masih ada alasan untuk tetap berada di kantor sedikit lebih lama. Siapa tahu kami berpapasan. Siapa tahu hari ini semesta sedang berbaik hati.

Namun harapan itu tidak pernah datang.

Hari berganti tanpa pertemuan.

Aku tidak tahu ia sedang berada di mana. Tidak tahu sedang mengerjakan apa. Tidak tahu mengapa beberapa hari ini ia seperti menghilang dari semua tempat yang biasanya membuat kami saling melihat, meski hanya beberapa detik.

Aku juga tidak punya keberanian untuk mencari tahu.

Hubungan kami terlalu samar untuk dijadikan alasan bertanya kepada orang lain. Bagaimana mungkin aku tiba-tiba menanyakan kabarnya, sementara aku sendiri tidak pernah benar-benar hadir di hidupnya? Maka yang bisa kulakukan hanyalah menebak-nebak, lalu membiarkan pikiranku dipenuhi kemungkinan yang tak pernah memiliki jawaban.

Sore kemarin, ketika harapan itu mulai benar-benar memudar, semesta justru memilih cara yang paling aneh untuk mempertemukan kami.

Bukan di kantor.

Bukan di lorong.

Bukan pula di depan loker yang selama ini menjadi saksi dari begitu banyak tatapan yang tak pernah berubah menjadi percakapan.

Melainkan di jalan.

Aku sedang menyetir mobil, bersiap meninggalkan hiruk-pikuk kantor. Lalu, dari arah berlawanan, sebuah motor melintas. Aku sebenarnya tidak terlalu hafal motornya. Yang pertama kali kukenali justru jaket yang dikenakannya. Jaket itu begitu akrab di mataku hingga sebelum wajahnya terlihat jelas pun, aku sudah tahu siapa pengendaranya.

Semuanya berlangsung sangat cepat.

Hanya beberapa detik.

Ia melintas.

Aku melintas.

Di antara padatnya kendaraan menjelang lampu merah, mataku sempat menangkap wajahnya. Dan entah hanya perasaanku atau memang benar demikian, rasanya ia juga melihat ke arahku.

Aku ingin percaya bahwa mata kami sempat bertemu.

Aku bahkan merasa seperti tersenyum.

Atau mungkin tidak.

Aku sendiri tidak yakin.

Saat itu pikiranku terbagi dua. Sebagian sibuk memperhatikan kendaraan di depan agar tidak terlambat mengerem. Sebagian lagi mendadak dipenuhi rasa lega karena akhirnya, setelah beberapa hari yang terasa kosong, aku berhasil melihatnya lagi, meski hanya sekelebat.

Sesampainya agak jauh dari persimpangan, aku justru mengumpat pelan di dalam hati.

Ternyata aku pulang terlalu cepat.

Padahal sejak siang aku sudah berniat menunda kepulangan. Aku sudah membayangkan akan mengulur waktu seperti biasanya, berharap kami bertemu di kantor walau hanya sebentar. Namun entah mengapa, sore itu aku merasa tidak akan menjumpainya. Aku menyerah pada dugaan itu, merapikan barang-barangku lebih cepat, lalu memilih pulang.

Dan justru ketika aku berhenti berharap, kami malah dipertemukan di jalan.

Ironisnya, pertemuan itu hanya berlangsung sekejap. Terlalu singkat untuk mengobati rindu, tetapi cukup lama untuk membuatku terus memikirkannya sepanjang perjalanan pulang.

Ah, semesta memang punya selera humor yang aneh.

Ketika aku menunggu, ia tak pernah datang. Ketika aku memutuskan berhenti menunggu, ia justru muncul di tempat yang sama sekali tidak kuduga. Seolah-olah ingin mengingatkanku bahwa tidak semua pertemuan bisa direncanakan, dan tidak semua penantian akan berakhir di tempat yang selama ini kita tunggui.

Comments

Popular posts from this blog

Pemilik Akun Asli @poconggg Terbongkar

Lorde - Team (Arti Lagu)

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)