Sebenarnya, tidak ada cerita baru yang ingin kutulis hari ini.
Kalau dipikir-pikir, kisah kami hanya berputar di tempat yang sama. Adegannya berganti, harinya berubah, tetapi alurnya nyaris tidak pernah benar-benar bergerak. Kami bertemu, saling melihat sekilas, menjaga jarak, lalu pulang dengan pikiran masing-masing. Besoknya terulang lagi. Minggu depannya juga begitu. Seolah-olah semesta sengaja menulis cerita yang sama dengan sudut pandang yang sedikit berbeda setiap harinya.
Barangkali karena itulah aku mulai kehabisan kata-kata.
Atau mungkin, yang sebenarnya berubah adalah perasaanku sendiri.
Aku masih menyukainya.
Kalimat itu tidak berubah.
Namun cara hatiku menyambut kehadirannya perlahan mulai berbeda.
Seperti kemarin, misalnya.
Aku tetap merasa senang ketika akhirnya bisa melihatnya. Ada rasa lega yang diam-diam muncul begitu mengetahui ia benar-benar datang. Tetapi setelah itu... ya sudah.
Tidak ada ledakan apa pun.
Tidak ada degup jantung yang tiba-tiba berlari lebih cepat.
Tidak ada kegugupan yang biasanya membuatku lupa harus melakukan apa.
Semuanya terasa datar.
Bukan datar karena bosan.
Bukan pula karena rasa itu hilang.
Lebih seperti air yang akhirnya menemukan permukaannya setelah sekian lama berombak.
Aku sendiri kesulitan menjelaskannya.
Rasanya aneh.
Biasanya, hanya dengan melihatnya berjalan dari pintu masuk saja, ada sesuatu yang langsung bergejolak di dalam dadaku. Kadang perutku terasa ringan, seperti ada sekumpulan kupu-kupu kecil yang mendadak beterbangan tanpa izin. Aku tahu banyak orang menyebutnya butterfly effect, meski tentu bukan istilah ilmiah yang sebenarnya. Yang jelas, sensasi itu dulu sering sekali muncul setiap kali kami berpapasan.
Kemarin tidak.
Aku tetap beberapa kali mencarinya dengan pandangan.
Tetap ingin memastikan ia ada di ruangan yang sama.
Tetap diam-diam memperhatikannya ketika ada kesempatan.
Tetapi setelah menemukannya, rasanya seperti... "Oh, dia ada."
Sesederhana itu.
Lalu aku kembali melakukan pekerjaanku.
Beberapa bulan yang lalu, hal seperti itu rasanya mustahil terjadi.
Aku pasti akan mencari-cari alasan agar bisa melihatnya lebih lama.
Mengingat setiap detail bajunya.
Merekam setiap gerak kecilnya.
Mengulang semuanya ketika sampai di rumah.
Sekarang aku masih melakukannya, hanya saja tidak lagi dengan gejolak yang sama.
Aku sempat bertanya pada diriku sendiri, apakah ini pertanda bahwa aku mulai kehilangan rasa?
Namun semakin kupikirkan, jawabannya justru tidak mengarah ke sana.
Aku masih menunggunya datang.
Masih sedikit kecewa jika tidak bertemu.
Masih merasa hari terasa lebih lengkap ketika sempat melihat wajahnya, meski hanya beberapa detik.
Kalau begitu, mungkin bukan rasanya yang berkurang.
Mungkin aku hanya mulai terbiasa.
Barangkali hati memang memiliki caranya sendiri untuk beradaptasi.
Perasaan yang pada awalnya datang seperti badai, lama-kelamaan berubah menjadi angin yang lebih tenang. Ia tetap ada, tetap terasa, tetapi tidak lagi memorak-porandakan isi dada setiap kali muncul.
Dan entah kenapa, aku justru sedikit takut dengan perubahan ini.
Takut kalau suatu hari nanti aku benar-benar biasa saja.
Takut kalau wajah yang dulu selalu kutunggu perlahan menjadi sama seperti wajah-wajah lain yang kulihat setiap hari.
Namun di sisi lain, ada bagian diriku yang merasa lega.
Mungkin beginilah cinta yang mulai belajar dewasa.
Tidak lagi sibuk membuat jantung berlari tanpa arah.
Tidak lagi memaksa diri untuk terus berdebar.
Ia hanya hadir dengan tenang, duduk di sudut hati, lalu sesekali mengingatkan bahwa ada seseorang yang masih ingin kulihat setiap hari.
Dan mungkin itu sudah cukup.
Sebab ternyata, tidak semua rasa harus selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia memilih menetap sebagai ketenangan yang nyaris tak terasa, tetapi diam-diam tetap membuat seseorang menjadi alasan kecil mengapa kita masih menoleh ke arah pintu setiap kali ada langkah kaki yang terdengar masuk ke dalam ruangan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!