Hari ini aku datang lebih siang dari biasanya.
Barangkali karena semalam aku tidak terlalu bersemangat untuk memulai hari. Atau mungkin memang ada bagian kecil dalam diriku yang sedang ingin menguji sesuatu. Entahlah. Yang jelas, ketika akhirnya aku tiba di kantor, hal pertama yang tanpa sadar kulakukan tetap sama seperti hari-hari sebelumnya, mencari keberadaannya.
Namun dia belum datang.
Aku menunggu beberapa saat. Tidak lama, hanya cukup untuk membuat mataku beberapa kali mengarah ke pintu masuk. Barangkali sebentar lagi dia muncul. Barangkali kami hanya terpaut beberapa menit.
Lalu aku mulai memperhatikan keadaan di sekitarku.
Beberapa orang sudah hadir. Aktivitas kantor berjalan seperti biasa. Namun ada satu hal yang membuatku tiba-tiba merasa yakin.
Teman-teman yang biasanya datang bersamanya juga belum terlihat.
Aku mengenali pola itu.
Sudah beberapa kali terjadi sebelumnya. Jika salah satu dari mereka tidak datang, sering kali dia juga tidak muncul. Entah karena memang bertugas di tempat lain, entah karena alasan lain yang tidak pernah kuketahui.
Saat itulah aku berhenti menunggu.
Bukan karena benar-benar tahu bahwa dia tidak akan datang, melainkan karena aku merasa tidak perlu lagi berharap terlalu banyak hari ini.
Lucunya, justru sebelum berangkat tadi aku sempat berpikir untuk mengakhiri semua cerita ini.
Aku lelah.
Bukan lelah menyukainya.
Melainkan lelah mengulang kisah yang rasanya selalu berputar di tempat yang sama.
Tatapan mata.
Jarak yang sengaja dijaga.
Pertemuan yang terlalu singkat.
Harapan yang tumbuh setiap pagi.
Kekecewaan kecil setiap sore.
Lalu semuanya dimulai lagi keesokan harinya.
Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, apakah pembaca yang suatu hari nanti membaca semua catatan ini akan merasa bosan?
Jangan-jangan mereka akan berpikir, "Kenapa ceritanya itu-itu saja?"
Lalu aku tersenyum sendiri.
Sebab ternyata aku pun merasakan hal yang sama.
Aku bosan menuliskannya.
Tetapi anehnya, aku tidak pernah benar-benar kehabisan alasan untuk kembali menulis.
Selalu ada detail kecil yang ingin kusimpan. Selalu ada potongan kenangan yang terasa sayang jika dibiarkan menghilang begitu saja. Dan mungkin memang begitulah bentuk kisah yang tidak pernah memiliki kepastian. Ia tidak bergerak maju, tetapi juga tidak benar-benar selesai.
Ia hanya berputar.
Pelan.
Terus-menerus.
Sampai kadang aku sendiri lupa, sebenarnya aku sedang menunggu apa.
Yang semakin kusadari justru hal lain.
Sudah hampir tujuh bulan aku menjalani hari-hariku dengan keberadaannya sebagai salah satu sumber semangat. Kalimat itu terdengar berlebihan, bahkan bagiku sendiri. Namun semakin kupikirkan, semakin sulit pula aku membantahnya.
Aku sering membayangkan bagaimana hari pertamaku bekerja di tempat ini seandainya waktu itu aku tidak pernah melihatnya.
Entah mengapa, bayangan itu selalu berakhir sama.
Aku merasa mungkin saja aku tidak akan bertahan selama ini.
Mungkin aku akan pulang dengan perasaan hampa seperti dulu.
Mungkin tekanan pekerjaan akan terasa jauh lebih berat tanpa ada sesuatu yang, setidaknya, mampu membuatku menantikan hari esok.
Mungkin aku akan menyerah lebih cepat.
Tentu saja semua itu hanya dugaan.
Aku tidak pernah benar-benar tahu seperti apa kenyataannya jika hidupku berjalan tanpa pernah bertemu dengannya.
Yang kutahu hanyalah satu hal.
Selama tujuh bulan terakhir, kehadirannya, meski hanya sesekali kulihat dari kejauhan, berhasil mengubah caraku menjalani hari.
Ia tidak menyelesaikan masalah-masalahku.
Ia tidak mengurangi beban pekerjaanku.
Ia bahkan tidak pernah benar-benar hadir dalam hidupku.
Namun anehnya, mengetahui bahwa ada kemungkinan aku akan bertemu dengannya setiap pagi sudah cukup membuat langkahku terasa sedikit lebih ringan.
Barangkali memang semua ini hanya ada di dalam sudut pandangku.
Barangkali baginya, aku hanyalah seseorang yang kebetulan bekerja di ruangan yang sama.
Dan mungkin memang begitu adanya.
Tetapi sekalipun semua ini ternyata hanya kisah yang hidup di kepalaku sendiri, aku tetap ingin jujur pada satu hal.
Aku pernah sangat terbantu oleh kehadirannya.
Tanpa ia sadari.
Tanpa ia minta.
Tanpa pernah ada janji apa pun di antara kami.
Dan mungkin, justru karena tidak pernah ada apa-apa itulah, aku perlahan mulai belajar menerima bahwa tidak semua orang yang menyelamatkan kita dari hari-hari yang berat memang ditakdirkan untuk tinggal lebih lama di dalam hidup kita.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!