Hati yang Memilih Jatuh Cinta Kepada Hal-hal yang Tidak Bisa Dijelaskan oleh Logika
Lucunya, jika ada yang bertanya kapan tepatnya aku mulai jatuh cinta, jawabannya bukan karena percakapan yang panjang, bukan pula karena perhatian yang istimewa. Bahkan bukan karena kami pernah memiliki hubungan yang dekat. Jawabannya justru terdengar sangat sepele, nyaris konyol.
Aku jatuh cinta ketika melihatnya mengucir rambut.
Sampai sekarang pun aku tidak benar-benar mengerti apa yang membuat tatanan rambut sederhana itu mampu mengubah begitu banyak hal di dalam diriku. Padahal, itu hanya kuncir rambut. Sesederhana orang yang sedang merapikan diri sebelum mulai beraktivitas. Tidak ada yang istimewa jika dilihat oleh orang lain. Namun entah mengapa, saat pertama kali melihatnya seperti itu, ada sesuatu yang bergeser dalam hatiku. Sesuatu yang bahkan tidak sempat meminta izin sebelum menetap begitu saja.
Aku sering mencoba mencari penjelasan yang masuk akal.
Mungkin karena wajahnya terlihat lebih terbuka. Mungkin karena kesan yang ditimbulkannya tampak berbeda. Atau mungkin memang tidak ada alasan apa pun selain hati yang memilih jatuh cinta kepada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh logika.
Sejak saat itu, setiap kali ia menguncir rambutnya, aku selalu merasa sedang melihat versi dirinya yang pertama kali membuatku berhenti. Seolah-olah waktu diputar kembali ke hari ketika semua ini belum serumit sekarang.
Yang membuatku heran adalah betapa rapuhnya tekad yang sudah susah payah kubangun.
Beberapa waktu lalu aku benar-benar merasa sudah selesai. Aku mulai lelah dengan segala dugaan, penantian, dan cerita yang terus berulang tanpa benar-benar bergerak ke mana-mana. Aku mengatakan kepada diriku sendiri bahwa sudah saatnya berhenti. Sudah cukup menjadikan seseorang sebagai pusat dari begitu banyak pikiran. Sudah cukup memberi ruang bagi perasaan yang tidak pernah memiliki kepastian.
Aku bahkan percaya pada keputusan itu.
Sampai akhirnya kami bertemu lagi.
Dan di hari itu, tanpa aba-aba, ia kembali menguncir rambutnya.
Sesederhana itu.
Tidak ada percakapan. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada momen dramatis seperti dalam cerita-cerita romantis. Hanya sebuah kuncir rambut yang pernah menjadi awal dari semuanya.
Aneh sekali.
Perasaanku yang semula terasa tenang mendadak oleng. Keputusan yang selama berhari-hari kucoba yakini seperti kehilangan pijakan hanya dalam hitungan detik. Aku sampai menertawakan diriku sendiri. Bagaimana mungkin seseorang yang merasa sudah begitu rasional bisa goyah hanya karena detail sekecil itu?
Bukankah seharusnya manusia lebih kuat daripada sebuah tatanan rambut?
Ternyata aku tidak.
Kemarin aku berkali-kali mencuri kesempatan untuk melihatnya sedikit lebih lama. Tentu saja aku harus berpura-pura. Berpura-pura sedang memperhatikan hal lain, berpura-pura kebetulan menoleh ke arah yang sama, berpura-pura tidak sedang menikmati pemandangan yang diam-diam membuat hatiku kembali berantakan.
Padahal aku tahu, semakin lama kupandang, semakin sulit pula aku mengembalikan keputusan yang sudah kubangun dengan susah payah.
Barangkali beginilah cara hati bekerja.
Ia tidak selalu runtuh oleh peristiwa-peristiwa besar. Kadang ia hanya membutuhkan satu detail kecil yang menyimpan terlalu banyak kenangan. Satu isyarat sederhana yang mengingatkan mengapa dulu semuanya bermula.
Dan ternyata, dalam kisahku, detail kecil itu adalah seutas kuncir rambut.
Betapa lucunya hati ini. Ia mampu bertahan menghadapi penolakan, mampu bertahan dalam ketidakjelasan selama berbulan-bulan, tetapi justru menyerah pada sesuatu yang bahkan tidak pernah dimaksudkan untuk membuat siapa pun jatuh cinta.
Mungkin memang benar, yang paling sulit dilawan bukanlah orangnya, melainkan kenangan pertama yang membuat kita memandangnya dengan cara yang berbeda.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!