Kadang Aku Merasa Semua Ini Sia-Sia


Kemarin aku baru tiba di kantor ketika langit sudah benar-benar gelap. Waktu magrib bahkan sudah lama berlalu. Seharian aku berada di kantor cabang untuk menjalankan tugas audit, sehingga langkahku menuju kantor utama sore itu terasa lebih berat dari biasanya. Di sepanjang perjalanan, ada satu pikiran yang terus berputar di kepalaku. Aku tidak terlalu berharap, tetapi juga tidak sepenuhnya menyerah.

Apakah kami akan bertemu malam ini?

Logikaku mengatakan peluangnya kecil. Jam sudah terlalu malam. Banyak orang pasti sudah pulang. Namun ada bagian lain dalam diriku yang justru begitu yakin. Entah mengapa, aku merasa masih ada kemungkinan kami berpapasan. Barangkali karena selama berbulan-bulan tanpa sadar aku telah menghafal ritme hari-harinya. Aku tidak tahu alasan di balik keyakinan itu, hanya saja ada perasaan yang berkata bahwa ia belum pulang.

Dan ternyata firasat itu tidak sepenuhnya keliru.

Begitu memasuki area loker, aku merasakan kehadirannya bahkan sebelum benar-benar melihatnya. Dari sudut mataku tertangkap sebuah siluet yang keluar dari arah toilet. Aku tidak menoleh. Aku sengaja tidak memastikan. Namun aku hampir yakin, itu adalah dirinya. Anehnya, aku sudah terlalu hafal dengan cara ia berjalan, tinggi tubuhnya, bahkan bayangan yang terbentuk ketika cahaya koridor jatuh dari samping. Ada hal-hal yang tak perlu lagi dikonfirmasi karena ingatan telah lebih dulu mengenalinya.

Aku tetap berpura-pura tidak tahu.

Seolah-olah orang yang baru saja berjalan ke arahku hanyalah salah satu pegawai lain yang kebetulan lewat. Aku sibuk merapikan tas, menyusun kembali barang-barang yang kubawa dari kantor cabang, lalu berdiri beberapa saat di depan loker sebelum menuju mejaku.

Padahal sebenarnya, sebagian besar perhatianku sedang berusaha menahan diri agar tidak mencarinya.

Aku takut jika terlalu sering melihat ke arahnya, semuanya akan tampak terlalu jelas.

Beberapa saat kemudian, tanpa harus benar-benar menatap, aku merasa ia masih berada di sekitar pintu keluar. Sesekali berpindah posisi, sesekali berhenti cukup lama, seolah belum benar-benar memiliki alasan untuk pulang. Entah itu hanya perasaanku atau memang kenyataan, aku tidak pernah benar-benar tahu. Yang kutahu hanyalah, keberadaannya terasa tetap berada dalam jangkauan pandangku, seperti seseorang yang sengaja tidak ingin terlalu jauh meninggalkan tempat itu.

Aku menahan keinginan untuk melihat lebih lama.

Lucunya, justru karena aku tidak melihat secara utuh, pikiranku bekerja jauh lebih keras. Aku membayangkan ia masih di sana. Membayangkan ia sesekali melirik ke arahku. Membayangkan kami sama-sama sibuk berpura-pura tidak menyadari keberadaan satu sama lain.

Betapa aneh hubungan ini.

Kami begitu dekat secara jarak, tetapi begitu jauh dalam keberanian.

Aku bahagia karena malam itu ternyata masih bisa melihatnya, walaupun hanya dalam bentuk siluet, bayangan, dan beberapa detik keberadaan yang nyaris tak berarti bagi siapa pun selain diriku. Anehnya, potongan-potongan kecil seperti itulah yang justru paling lama menetap dalam ingatan.

Namun ketika perjalanan pulang dimulai, pikiranku kembali dipenuhi pertanyaan yang sama.

Sampai kapan semuanya akan seperti ini?

Sampai kapan aku harus menunggu seseorang mengambil langkah pertama, sementara aku sendiri juga tidak memiliki keberanian untuk melangkah? Rasanya sedikit ironis. Aku sering mengeluhkan bahwa ia tidak pernah benar-benar memulai, padahal aku pun melakukan hal yang sama. Kami seperti dua orang yang sama-sama berdiri di tepi jembatan, saling menunggu siapa yang lebih dulu menyeberang, sementara waktu terus berjalan tanpa peduli pada keraguan kami.

Kadang aku merasa semua ini sia-sia.

Melelahkan.

Bahkan sedikit membosankan.

Bukan karena perasaannya mulai hilang, melainkan karena cerita kami tidak pernah bergerak ke mana-mana. Selalu berhenti di tatapan yang ditahan, langkah yang diurungkan, dan keberanian yang hanya selesai sebagai rencana di dalam kepala.


Comments

Popular posts from this blog

Pemilik Akun Asli @poconggg Terbongkar

Lorde - Team (Arti Lagu)

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)