Kembali ke Titik Nol
Sore tadi kami bertemu lagi. Suasananya sebenarnya tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Orang-orang masih berada di tempatnya masing-masing, aktivitas kantor tetap berjalan seperti biasa, dan kami kembali menjadi dua orang yang berada dalam ruang yang sama tetapi seolah hidup dalam dunia masing-masing. Tidak ada sesuatu yang benar-benar istimewa. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada kejadian besar yang bisa kuceritakan sebagai sesuatu yang mengubah jalan cerita.
Namun justru itu yang membuatku bingung.
Hari ini aku tidak merasakan apa yang kurasakan kemarin.
Kemarin, setelah beberapa hari tidak bertemu, aku melihatnya seperti seseorang yang tiba-tiba memiliki cahaya sendiri. Di antara orang-orang lain, entah mengapa ia terlihat berbeda. Lebih cerah. Lebih hidup. Lebih menarik daripada biasanya. Aku sampai berpikir bahwa mungkin aku kembali jatuh cinta kepadanya untuk kesekian kalinya.
Tetapi sore ini semuanya seperti kembali ke titik nol.
Kami bahkan berada sangat dekat.
Begitu dekat sampai-sampai, jika aku benar-benar kehilangan kendali atas diriku sendiri, mungkin aku bisa saja meraih tangannya. Bahkan mungkin memeluknya. Jarak kami tidak lagi menjadi persoalan. Tidak ada dinding yang secara fisik menghalangi. Tidak ada lorong panjang yang memisahkan. Tidak ada alasan teknis mengapa aku tidak bisa mendekat.
Justru aku sendiri yang memilih tidak melakukannya.
Dan anehnya, bukan karena takut.
Aku hanya tidak merasakan dorongan seperti kemarin.
Aku tetap menyukainya. Setidaknya aku masih percaya begitu. Aku masih memperhatikan keberadaannya. Aku masih tahu ketika ia berada di dekatku. Aku masih diam-diam berharap ia menyapaku lebih dulu. Tetapi rasa yang kemarin begitu penuh itu hari ini terasa jauh lebih datar.
Seolah-olah hatiku sedang berkata, "Ya, dia ada di sana."
Lalu selesai.
Tidak ada debaran yang berlebihan. Tidak ada perasaan seperti ingin menghentikan waktu. Tidak ada keinginan untuk terus melihatnya sampai lupa bahwa aku sedang berada di kantor.
Mungkin memang seperti inilah perasaan yang selama ini tidak pernah bisa kujelaskan.
Kadang begitu besar sampai membuatku ingin memperjuangkannya. Kadang begitu kecil sampai aku sendiri bertanya apakah sebenarnya aku pernah benar-benar jatuh cinta.
Sementara itu, dari kejauhan, ia masih melakukan hal-hal yang selama ini kuanggap sebagai caranya mencari perhatianku. Sesekali ia berada di sekitar jangkauan pandangku. Ada gerakan-gerakan kecil yang terasa seperti sengaja dilakukan ketika ia tahu aku bisa melihat. Entah benar atau tidak, aku tidak lagi berani memastikan.
Aku hanya tahu satu hal: ia masih membuatku sedikit kesal.
Bukan kesal karena keberadaannya, melainkan karena pola yang terus berulang.
Kalau memang hanya ingin mencari perhatian, mengapa tidak pernah benar-benar berani mendekat?
Kalau memang hanya ingin bermain-main dengan tatapan dan gestur, mengapa harus dilakukan berkali-kali?
Dan kalau memang ada sesuatu yang lebih serius, mengapa ketika kemungkinan untuk berbicara terbuka sebenarnya sudah tersedia, ia justru kembali berlindung di balik pura-pura tidak terjadi apa-apa?
Pertanyaan itu kembali muncul.
Apakah dia memang sedang mencoba mendekat, atau aku yang terlalu mudah membaca sesuatu dari perilakunya?
Aku bahkan tidak tahu lagi mana yang lebih melelahkan, menunggunya atau meragukan diriku sendiri.
Lucunya, hari ini aku justru mulai berpikir bahwa mungkin aku tidak perlu terlalu serius menafsirkan semuanya. Mungkin apa yang kulihat hanyalah kebiasaan seseorang. Mungkin juga memang ada maksud tertentu yang belum berani ia katakan.
Aku tidak tahu.
Dan mungkin itulah yang membuat semuanya tetap menarik sekaligus melelahkan.
Sebab setiap kali aku merasa sudah memahami polanya, tiba-tiba perasaanku sendiri berubah.
Kemarin aku melihatnya bersinar dan merasa ingin mencintainya lagi.
Hari ini kami berada sedekat itu, tetapi aku justru merasa biasa saja.
Mungkin cinta memang tidak selalu datang dengan debaran. Atau mungkin yang kemarin hanyalah kekaguman yang sedang berada pada titik tertingginya.
Aku belum tahu.
Yang jelas, kalau memang ia ingin sesuatu yang lebih dari sekadar saling mencari perhatian, mungkin suatu hari ia harus berani keluar dari permainan itu.
Karena aku mulai lelah menjadi penonton.
Dan lebih lelah lagi menjadi orang yang terus-menerus menebak apakah sebenarnya ada cerita di balik semua ini.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!