Layakkah Aku untuk Dicintai


Semalam aku tidak benar-benar bisa tidur. Bukan karena ada pekerjaan yang belum selesai atau suara bising yang mengganggu dari luar. Yang membuatku tetap terjaga justru sesuatu yang jauh lebih sunyi, pikiranku sendiri. Ia terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah berhasil kujawab, lalu mengulanginya lagi, seolah-olah ada satu jawaban yang sengaja kusembunyikan dari diriku sendiri.

Pertanyaannya sederhana, tetapi terasa begitu berat.

Mengapa, jika memang benar dugaanku selama ini tidak keliru, seseorang bisa menyukaiku?

Semakin kupikirkan, semakin aneh rasanya.

Karena orang yang paling sulit menyukai diriku adalah... diriku sendiri.

Aku sudah terlalu lama hidup bersama keyakinan-keyakinan yang tidak ramah. Aku terbiasa merasa tidak cukup baik, tidak cukup menarik, tidak cukup berharga untuk diperjuangkan. Ada hari-hari ketika aku melihat diriku sendiri seperti seseorang yang hanya dipenuhi kekurangan. Kesalahan-kesalahan masa lalu, penolakan yang pernah kualami, dan segala bentuk kegagalan yang masih kusimpan, perlahan berubah menjadi cara pandang terhadap diriku sendiri.

Entah sejak kapan aku mulai percaya bahwa aku memang tidak layak dicintai.

Mungkin karena keyakinan itu diulang terlalu sering.

Mungkin karena luka-luka lama tidak pernah benar-benar sembuh, hanya tertutup oleh kesibukan.

Atau mungkin karena jauh di dalam hati, aku memang belum pernah benar-benar memaafkan diriku sendiri.

Itulah sebabnya, ketika beberapa bulan terakhir aku merasa ada seseorang yang berkali-kali berusaha menarik perhatianku, aku justru tidak merasa percaya diri. Yang muncul bukan rasa bangga, melainkan rasa curiga kepada pikiranku sendiri.

Bagaimana jika aku salah membaca semuanya?

Bagaimana jika semua yang kuanggap sebagai isyarat hanyalah kebetulan yang terlalu sering kuhubung-hubungkan?

Lalu, seandainya pun semua itu benar, pertanyaan berikutnya justru terasa lebih sulit.

Mengapa harus aku?

Pertanyaan itu terdengar menyedihkan, tetapi itulah yang terus menggangguku semalam. Aku berkali-kali membayangkan kemungkinan untuk berbicara terus terang kepadanya. Mengakhiri semua teka-teki yang selama ini hanya berputar di kepalaku. Menanyakan apakah benar ada sesuatu yang selama ini kami sembunyikan dalam diam.

Namun setiap kali keberanian itu mulai tumbuh, selalu ada suara lain yang lebih keras.

Suara yang berkata bahwa aku akan ditolak.

Suara yang mengingatkanku pada pesan yang pernah tidak terbalas.

Suara yang meyakinkanku bahwa orang seperti aku tidak pantas berharap terlalu jauh.

Mungkin inilah alasan terbesar mengapa selama ini aku selalu maju-mundur.

Orang lain mungkin mengira aku hanya pemalu. Padahal yang sebenarnya terjadi jauh lebih rumit. Aku bukan hanya takut mendengar jawaban "tidak". Aku juga takut jika jawaban "tidak" itu justru membenarkan semua hal buruk yang selama ini kupercayai tentang diriku sendiri.

Bahwa aku memang tidak cukup.

Bahwa aku memang tidak layak.

Bahwa sejak awal aku hanya sedang berkhayal.

Ironisnya, di sisi lain, ada bagian kecil dalam diriku yang tetap ingin mengetahui jawabannya. Bagian itu lelah hidup di antara dugaan dan tafsir. Ia ingin berhenti menebak-nebak setiap tatapan, setiap kebetulan, setiap pertemuan yang terlalu singkat untuk dijadikan kepastian.

Aku ingin bertanya.

Benar-benar ingin.

Namun aku juga sadar, jawaban yang keluar nanti bisa mengubah banyak hal. Bukan hanya hubungan kami, tetapi juga caraku memandang diriku sendiri.

Mungkin karena itulah aku masih diam.

Bukan karena aku tidak memiliki keberanian sama sekali, melainkan karena aku masih sedang bernegosiasi dengan seseorang yang paling sulit kuhadapi, diriku sendiri.

Dan mungkin, sebelum aku mencari jawaban dari dirinya, ada satu pertanyaan yang harus lebih dulu kujawab dengan jujur.

Jika suatu hari nanti ternyata ada seseorang yang benar-benar memilihku, apakah aku sudah siap mempercayai bahwa aku memang pantas untuk dipilih?

Entahlah.

Untuk saat ini, pertanyaan itu masih menggantung di langit-langit pikiranku, menemani malam yang terlalu panjang dan hati yang belum juga selesai berdamai dengan dirinya sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Pemilik Akun Asli @poconggg Terbongkar

Lorde - Team (Arti Lagu)

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)