Masih Berdiri di Persimpangan yang Sama, di Antara Keberanian dan Ketakutan


Kadang aku sendiri mulai lelah dengan kisah yang seperti tidak pernah menemukan ujungnya. Rasanya setiap hari hanya berputar pada lingkaran yang sama. Ada harapan, lalu muncul keraguan. Ada keyakinan, lalu datang ketakutan. Aku melangkah sedikit, kemudian mundur lebih jauh. Begitu terus, berulang-ulang, hingga aku mulai bertanya kepada diriku sendiri, sebenarnya aku sedang memperjuangkan sesuatu atau hanya sedang bertahan di dalam kebingungan yang kuciptakan sendiri.

Di satu sisi, aku cukup sadar bahwa jika semua ini berakhir tidak sesuai harapan, orang yang paling banyak menanggung akibatnya adalah aku. Aku memahami risiko itu. Aku tahu ada banyak hal yang bisa berubah, bahkan mungkin hilang, jika suatu hari nanti aku benar-benar mengutarakan isi hatiku. Kesadaran itu tidak pernah pergi. Ia selalu duduk di sudut pikiranku, mengingatkan agar aku tidak gegabah.

Namun anehnya, di sisi lain masih ada bagian kecil dalam diriku yang terus berbisik pelan.

Bagaimana kalau justru ini adalah cinta yang selama ini kucari?

Aku tidak tahu dari mana keyakinan itu datang. Barangkali hanya harapan yang terlalu lama dipelihara. Barangkali hanya hati yang menolak menyerah meskipun logika sudah berkali-kali mengajaknya pulang.

Beberapa hari terakhir kami tidak bertemu sama sekali. Hari-hariku terasa berjalan lebih datar dari biasanya. Aku memang masih bisa bekerja, masih bisa menyelesaikan tanggung jawab seperti biasa, tetapi ada ruang kosong yang tidak bisa kujelaskan. Bukan karena hidupku berhenti tanpanya, melainkan karena aku sudah terlalu terbiasa melihatnya menjadi bagian kecil dari rutinitasku.

Lalu sore itu, tanpa kuduga, ia akhirnya muncul lagi.

Belakangan aku baru tahu bahwa ia datang setelah dihubungi oleh teman-temannya yang bertanya mengapa ia tidak pernah terlihat beberapa hari terakhir. Entah apa alasannya, aku tidak tahu. Dan mungkin memang tidak perlu tahu.

Yang jelas, ketika akhirnya aku melihatnya kembali, ada rasa lega yang tidak bisa kusembunyikan, bahkan dari diriku sendiri.

Seperti biasa, ia kembali dengan segala tingkah kecil yang selama ini selalu membuatku kebingungan. Beberapa kali aku merasa ia sengaja berada dalam lintasan pandangku. Kadang berjalan melewati tempatku, kadang muncul di sudut ruangan yang sama, kadang berdiri cukup lama seolah memberi kesempatan agar aku menyadari kehadirannya.

Aku tidak tahu apakah semua itu memang ditujukan kepadaku.

Aku juga tidak lagi berani memastikan.

Yang bisa kulakukan hanyalah mengamati seperlunya.

Beberapa kali mata kami bertemu. Justru kali ini aku merasa ia lebih sering melihat ke arahku daripada biasanya. Sedangkan aku, berkali-kali memilih mengalihkan pandangan. Bukan karena tidak ingin melihatnya, tetapi karena aku takut. Takut jika semua yang kulakukan justru membuatku semakin tenggelam dalam dugaan yang belum tentu benar. Takut jika tatapan-tatapan itu hanya memiliki arti di dalam kepalaku sendiri.

Jadi aku memilih berpura-pura sibuk.

Padahal diam-diam aku tahu persis kapan ia berada di dekatku.

Padahal diam-diam aku bahagia karena akhirnya bisa melihatnya lagi.

Bahagia yang sederhana, tetapi cukup untuk membuat hari yang semula terasa kosong kembali memiliki warna.

Namun bersamaan dengan rasa itu, muncul kesadaran lain yang terus mengetuk pelan.

Keadaan seperti ini tidak akan berlangsung selamanya.

Kami tidak mungkin selamanya hanya saling menatap dari kejauhan. Tidak mungkin terus hidup dalam rangkaian isyarat yang hanya dimengerti oleh masing-masing, tanpa pernah memastikan apakah keduanya sedang membaca cerita yang sama atau justru sedang menulis kisah yang berbeda.

Mungkin memang sudah waktunya salah satu dari kami berhenti bersembunyi.

Belakangan aku mulai berpikir, mungkin aku perlu berbicara terus terang. Bukan untuk memaksakan sebuah hubungan, bukan pula untuk mengejar jawaban yang kuinginkan, melainkan agar kami sama-sama berhenti hidup dalam ketidakjelasan. Jika ternyata perasaanku keliru, setidaknya aku bisa belajar menerima kenyataan. Jika ternyata memang ada perasaan yang sama, kami tidak perlu lagi saling menghindar sekaligus saling mencari dalam diam.

Entahlah.

Sampai hari ini aku masih berdiri di persimpangan yang sama, di antara keberanian dan ketakutan.

Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku mulai merasa bahwa kejelasan, apa pun bentuknya, mungkin lebih menenangkan daripada terus hidup bersama pertanyaan yang tidak pernah selesai.

Comments

Popular posts from this blog

Pemilik Akun Asli @poconggg Terbongkar

Lorde - Team (Arti Lagu)

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)