Belakangan ini aku sering merasa sedih sendiri ketika membaca ulang semua cerita yang kutulis.
Bukan karena ceritanya buruk.
Justru karena aku mulai menyadari satu hal yang selama ini luput kusadari.
Kisah ini tidak bergerak ke mana-mana.
Ia seperti terjebak dalam lingkaran yang sama. Hari demi hari berganti, minggu demi minggu berlalu, tetapi alurnya nyaris tidak berubah. Kami bertemu, saling melihat dari kejauhan, menghindari ketika jarak terlalu dekat, lalu pulang membawa pikiran masing-masing. Esoknya, semuanya kembali terulang dengan pola yang hampir sama.
Tidak ada kemajuan.
Tidak ada keberanian.
Tidak ada satu langkah pun yang benar-benar mengubah arah cerita.
Aku menyukainya.
Itu sudah selesai kuperdebatkan dengan diriku sendiri.
Aku tidak lagi ingin menyangkalnya.
Yang belum selesai justru keberanianku.
Aku masih terlalu takut untuk mengubah semua dugaan menjadi sebuah pertanyaan yang nyata.
Kadang aku juga merasa—atau mungkin hanya berharap—bahwa ada rasa yang serupa di pihaknya. Ada beberapa hal yang menurutku sulit dianggap sekadar kebetulan. Namun lagi-lagi, semua itu hanya hidup di dalam wilayah yang bernama mungkin. Dan kata mungkin adalah tempat yang paling nyaman sekaligus paling menyiksa untuk ditinggali.
Kemarin sore menjadi contoh yang sederhana.
Kami memang bertemu.
Akhirnya.
Setelah beberapa hari sebelumnya kesempatan itu nyaris tidak ada.
Namun pertemuan itu begitu singkat hingga rasanya belum sempat menjadi kenangan.
Aku masih berharap akan ada momen kecil yang bisa kubawa pulang. Tatapan yang sedikit lebih lama. Kebetulan yang membuat kami berdiri berdekatan. Atau sekadar alasan untuk saling berada dalam ruang yang sama lebih lama daripada biasanya.
Ternyata tidak.
Ia lebih dulu keluar.
Lalu bergabung bersama teman-temannya.
Mereka berdiri sambil mengobrol, sesekali tertawa, entah sedang membahas apa. Dari tempatku berdiri, aku hanya melihat kerumunan itu dari kejauhan. Aku tidak memiliki alasan untuk mendekat, dan mungkin memang tidak seharusnya ada alasan.
Yang bisa kulakukan hanya menghela napas panjang.
Lucunya, rasa kecewa itu bukan karena ia sedang bersama teman-temannya.
Melainkan karena aku sadar, kesempatan yang sejak pagi kubayangkan ternyata selesai hanya dalam hitungan menit.
Sesingkat itu.
Aku sempat berharap masih ada waktu ketika menjelang Magrib.
Kupikir mungkin masih ada kesempatan kecil yang tertinggal di penghujung hari. Dan memang ada beberapa momen yang membuatku merasa ia seperti berusaha tetap berada dalam jangkauan pandanganku. Atau mungkin hanya aku yang kembali menafsirkan hal-hal biasa menjadi sesuatu yang lebih berarti.
Aku tidak tahu.
Yang kutahu, momen itu pun berlalu begitu cepat.
Belum sempat benar-benar kusimpan, ia sudah hilang lagi bersama ramainya aktivitas sore.
Lalu aku pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Bukan sedih karena kehilangan.
Sebab sejak awal aku memang tidak pernah memiliki apa-apa.
Bukan pula kecewa kepadanya.
Melainkan kecewa pada diriku sendiri.
Aku mulai bertanya, sampai kapan cerita ini akan terus berjalan seperti ini?
Sampai kapan aku hanya akan menjadi penonton yang diam-diam mengumpulkan potongan-potongan kenangan tanpa pernah berani menciptakan satu kenangan baru?
Barangkali memang benar.
Musuh terbesar dalam kisah ini bukanlah jarak.
Bukan pula keadaan.
Melainkan aku sendiri.
Aku yang selalu memilih diam ketika kesempatan datang.
Aku yang selalu menemukan alasan untuk mundur beberapa langkah setiap kali keberanian mulai tumbuh.
Aku yang lebih nyaman hidup di dalam kemungkinan daripada menghadapi satu jawaban yang mungkin tidak sesuai harapan.
Dan karena itulah, malam ini, untuk kesekian kalinya, aku kembali mengutuk diriku sendiri.
Bukan karena aku jatuh cinta.
Melainkan karena aku begitu pandai memelihara rasa itu dalam diam, tetapi begitu pengecut untuk membiarkannya berjalan ke mana-mana.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!