Skip to main content

Menjadi Auditor dan Satu Momen yang Terus Tertinggal di Kepalaku


Sialnya, hari itu aku hanya bisa melihatnya sebentar.

Padahal, kalau boleh jujur, sejak pagi aku sudah berharap setidaknya ada sedikit waktu luang untuk sekadar memastikan ia datang. Bukan untuk mengobrol, bukan pula untuk menciptakan momen-momen yang selama ini sering kubesar-besarkan di dalam kepala. Hanya ingin melihatnya, lalu kembali bekerja seperti biasa.

Sayangnya, hari itu bukan milikku.

Selama beberapa hari terakhir aku sedang menjadi auditor dalam kegiatan audit mutu internal. Tugasku bukan pekerjaan yang bisa dikerjakan sambil lalu. Aku harus memeriksa dokumen, mencocokkan bukti, menilai capaian kinerja, hingga mengaudit pekerjaan para pimpinan dan unit-unit strategis selama satu tahun penuh. Konsentrasi menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar. Satu angka yang terlewat atau satu dokumen yang salah dibaca bisa mengubah keseluruhan hasil audit.

Karena itulah, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pikiranku benar-benar dipenuhi oleh pekerjaan.

Bahkan aku hampir tidak memiliki ruang untuk memikirkan dirinya.

Sesekali memang aku masih mencarinya dengan pandangan, tetapi hanya sekilas. Setelah itu pikiranku kembali ditarik oleh tabel, laporan, dan catatan temuan yang harus segera kuselesaikan.

Menjelang sore akhirnya kami sempat berada di ruangan yang sama.

Namun waktunya tidak lama.

Ketika aku melihatnya, ia sudah bersiap untuk pulang.

Seperti biasa, ada beberapa gerakan kecil yang, entah hanya kebetulan atau memang sengaja, selalu berhasil menarik perhatianku. Aku tidak lagi berusaha menerjemahkan semuanya. Aku hanya menyadari bahwa kehadirannya tetap mudah kutangkap, meski pikiranku sedang sibuk dengan banyak hal lain.

Di antara semua yang kulihat sore itu, ada satu momen yang terus tertinggal di kepalaku.

Ia duduk di depan deretan loker.

Cahaya sore masuk dari arah samping, jatuh pelan pada wajahnya. Ia tidak sedang melakukan sesuatu yang istimewa. Hanya duduk, menunggu waktu pulang seperti orang-orang lain.

Namun justru dalam kesederhanaan itulah aku kembali mengerti alasan mengapa dulu perasaan ini bermula.

Saat itu, tanpa sengaja, aku kembali melihat sosok yang pertama kali membuatku menoleh berbulan-bulan lalu.

Cantik.

Bukan karena pakaian yang dikenakannya.

Bukan pula karena riasan atau hal-hal yang mencolok.

Ada sesuatu yang sulit kujelaskan. Mungkin cara ia diam. Mungkin caranya menatap ke depan tanpa sadar sedang diperhatikan. Atau mungkin memang begitulah cara hati bekerja, ia memilih satu wajah, lalu memutuskan bahwa wajah itulah yang akan selalu terlihat berbeda dibanding wajah-wajah lain.

Aku tersenyum sendiri.

Lalu kembali menunduk pada pekerjaanku.

Audit belum selesai.

Masih ada rekap temuan yang harus kususun sebelum hari benar-benar berakhir.

Karena itulah aku baru bisa pulang menjelang waktu Isya.

Kantor mulai sepi.

Sebagian besar orang sudah meninggalkan ruangan. Suara ketikan keyboard terdengar semakin jelas karena tidak lagi bercampur dengan percakapan banyak orang. Aku masih sibuk menginput hasil audit satu per satu, memastikan tidak ada data yang tertinggal.

Kupikir hari itu sudah selesai.

Kupikir kesempatan melihatnya memang hanya beberapa menit sore tadi.

Namun ternyata semesta masih menyisakan satu adegan kecil yang sama sekali tidak masuk ke dalam dugaanku.

Di tengah kesibukanku mengetik, tiba-tiba ada seseorang masuk ke ruangan.

Aku mendongak.

Dan seketika sedikit terkejut.

Dia.

Ternyata ia kembali ke kantor.

Bukan untuk menemuiku.

Bukan pula karena ada urusan denganku.

Belakangan kusadari ia hanya mengantarkan sesuatu untuk orang lain. Sebuah urusan sederhana yang sama sekali tidak berkaitan denganku.

Tetapi tetap saja, kehadirannya membuatku berhenti mengetik beberapa detik.

Aku benar-benar tidak menyangka akan melihatnya lagi malam itu.

Lucu memang.

Di hari ketika pekerjaan begitu padat hingga nyaris tidak memberiku kesempatan memikirkannya, justru semesta seperti sengaja mempertemukan kami dua kali.

Pertama ketika ia hendak pulang.

Kedua ketika aku mengira hari itu benar-benar telah selesai.

Comments

Popular posts from this blog

Cody Simpson - La Da Dee (Arti Lagu)

Kalo ngomong soal lagu, dari beberapa lagu yang beberapa hari ini sudah terposting, kayaknya lagu inilah yang cocok denganku. Dari segi lirik, kayaknya mampu menggambarkan seperti apakah jalan pikiranku selama beberapa bulan ini. Biasalah, seperti postinganku sebelumnya, aku memang tipe laki-laki pemuja masa lalu. Selalu saja ingin mengulang masa lalu, karena rasa nyaman yang aku dapatkan dari masa lalu itulah aku ingin mengulangnya selalu. Baiklah, kali ini bukan bercerita tentang curhatanku, tapi postingan kali ini untuk mengartikan lagu-lagu yang menurutku memang enak didengarkan dalam minggu-minggu ini.  Kali ini yang mampu menggambarkan suasana hatiku adalah lagunya Cody Simpson - La Da Dee. There's no way to say this song's about someone else Every time you're not in my arms I start to lose myself Someone please pass me my shades Don't let 'em see me down You have taken over my days So tonight I'm going out Dalam bait ini menjel...

Was a Story Only I Didn’t Know

Kamu benar-benar telah melupakan segalanya Terlihat dari caramu menyapaku Sambutmu melukaiku Samar-samar, mulai mengiris, mulai terasa sadis. Berpisah baik-baik Itu katamu Karena bagiku aku tak tahu Was a Story Only I Didn’t Know Apa itu namanya? Hanya cinta sesaat? Samar-samar kini aku mulai mengerti Kenapa hanya kata maaf selesaikan semua Tangisku mungkin tak lagi datang Karena bagiku itu tak penting lagi Perpisahan itu hanya cerita lama Tak perlu diungkit lagi Was a story only I didn’t know

The Raid, Kerennya Naudzubillah!

Tak banyak film Indonesia yang aku tonton. Kalau pun disuruh untuk menyebutkan satu persatu, mungkin aku bisa menyebutkan judul-judulnya. Yah, jarang-jarang lho aku nonton film Indonesia. Meski aku bangga dengan produk dalam negeri, tapi untuk menonton hasil kerja dari sineas Indonesia, kayaknya tunggu dulu deh! Aku belum yakin dengan karya mereka, apalagi harus duduk manis di depan layar menyaksikan film-film buatan dalam negeri.    Meski aku sudah yakin tidak akan nonton film dalam negeri, Tapi itu tidak berlaku dengan film The Raid ini. Asal tahu aja, tiga film yang pernah aku tonton di bioskop, pertama Laskar Pelangi, kedua Sang Pemimpi, dan yang ketiga adalah The Raid ini.   Bukan, bukan karena film ini mendapat pujian dan beberapa penghargaan di beberapa ajang yang pernah diadakan di beberapa dunia yang membuatku menonton film ini. Aku menonton film ini karena ajakan seseorang yang baru aku kenal di dunia maya. Itu pun aku tidak mau berespektasi terlalu t...